Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Kehadiran Alvian #Eps_Menegangkan


__ADS_3

Aku takut semua ini hanya ilusi


Yang ku bagun dalam fikiranku sendiri.


Karna kau serupa angin


Yang kadang membelai persaanku lembut


Namun kadang membuatku sangat takut


Terhempas terlalu keras


Karna engkau dan tanda-tandamu tak jelas


Tidak memberiku alasan


Untuk berharap terlalu banyak


(Nayla).



Arka masih memandangi wajah Wanita yang kini di hadapanya.


Di hapusnya buliran air mata, yang membasahi wajah cantik Nayla.


"Hey. Jangan menangis! Apa yang sedang kau tangisi? Tanya Arka sedih.


Nayla hanya terdiam dengan pertanyaan Arka kepadanya, dia hanya melempar senyum tipis untuk Lelaki yang ada di hadapanya kini.


"Aku bingung. Untuk siapa air matamu itu?" Ucap Arka sendu


"Kenapa? Apa kau cemburu padaku?"


"Hah Gila! Dia justru balik bertanya." Upat Arka dalam hatinya, dan menatap lekat wajah Nayla dengan penuh tanda tanya.


"Berfikirlah sesukamu tentangku! Karna itu memang hakmu, yang terpenting dan harus kau tau, bahwa saat ini aku benar-benar mencintaimu." Jelas Nayla tanpa ragu


"Ah. Baiklah!" Jawab Arka seraya beranjak dari duduknya dan pergi dari hadapan Nayla.


"Kau mau kemana?"


"Entahlah!"


"Apa kau marah?"


"Apa alasanku untuk marah?"


"Sikapmu, menunjukan bahwa dirimu sedang marah."


"Hey, Nayla. Bagai mana aku harus menjawabnya, yang jelas hatiku memang luka, saat kau mengeluarkan air mata, tapi aku tau air mata itu bukan untuku, aku memang bersamamu, tapi hatimu belum seutuhnya miliku!" Tegas Arka yang membuat lidah Nayla kelu


"Apa maksudmu?"


"Aku berharap. Alvian tak akan pernah hadir lagi, karna jika dia masih ada di sini, aku yakin sekali hatimu pasti akan terbagi, dan aku tak mau itu terjadi!"


"Astaga, Arka! Secemburu itu kau padaku? Terhadap orang yang jelas-jelas sudah kau bunuh dengan tanganmu itu, tepat di hadapanku!"


"Iya, aku memang cemburu!" Jawab Arka tanpa ragu dan berlalu dari hadapan Kekasihnya itu.


"Hey Arka, kau mau kemana? Teriak Nayla. Dasar Egois!" Tambahnya seraya menatap langkah Arka yang semakin hilang dari hadapanya


Sementara Ayah Nayla hanya menatap Arka dengan kesalnya, karna berlalu dari hadapanya begitu saja tanpa berpamitan denganya.


"Menantu macam apa dia? Tidak ada sopan-sopanya!" Celoteh Ayah Nayla dengan menaikan sebelah alisnya.


_______________________


Arka memasuki rumahnya dengan perasaan yang cukup sulit untuk di jelaskan, semua itu karna Alvian.

__ADS_1


Fikiran Arka semakin tak karuan, kala mengingat ucapan salah satu pegawainya bahwa Alvian masih bernyawa.


Arka menyandarkan tubuhnya, di sebuah kursi favoritenya.


Dia menatap langit-langit rumahnya dengan semua bayangan Alvian di benaknya.


Arka mengingat semua kelakuan jahat Alvian terhadap Aryan dan juga dirinya.


"Aku benar-benar harus siap menghadapinya, jika memang dia belum enyah, akan kupastikan dia mati dengan tanganku sendiri!" Gumam Arka dengan mengepalkan kedua tanganya.


.


.


"Kemana Aryan dan Tama?" Tanya Arka heran karna rumahnya sepi bagai tak berpenghuni. Dan dimana juga, Rani?" Batin Arka lagi


Tag-Tag-Tag


Langkah kaki seseorang terdengar nyata di telinga Arka dan suara itu semakin mendektinya.


Arka berjanjak dari duduknya, untuk mengetahui, siapa yang ada di rumahnya.


Dan apa yang di takutkan Arka, kini menjadi nyata.


Arka menatap nanar orang yang kini di hadapanya.


Wajah Arka tampak murka, begitu pun seseorang yang kini tepat berdiri di depanya.


"Kau____!" Pekik Arka menggema


"Selamat siang Kakaku sayang?" Ucap Alvian dengan senyuman penuh makna dan menatap tajam wajah Arka yang terkejut dengan kehadiranya



"Siapa kau? Kau bukan Alvian, mana mungkin dia masih bernyawa setelah ku lesatkan peluru tepat di dadanya!" Seru Arka yang masih tak percaya


"Hahahahahaha! Asal kau tau Arka, aku punya sembilan nyawa untuk hidup di dunia!" Hardik Alvian terhadap Arka



"Ya. Iya. Iya! Silahkan saja kau tertawa Arka! Setelah ini ku pastikan hidupmu penuh air mata." Ancam Alvian dengan sangarnya


"Ah sial! Apa kau sedang mengancamku?" Tanya Arka tanpa ragu dan melangkahkan kakinya untuk berlalu dari hadapan Lelaki itu


"Kau mau kemana, Arka?" Tanya Alvian seraya menarik tangan Kakaknya



"Apa urusanmu? Aku akan mencari Adiku, yang pasti itu bukan dirimu!" Jawab Arka dengan mempercepat langkahnya.


"Apa kau mencari Aryan dan Tama? Mereka sudah berada di tempat yang seharusnya." Ucap Alvian yang membuat Arka seketika menghentiakan langkahnya


"Apa maksudmu? Dimana Aryan dan Tama?" Tanya Arka dengan menarik baju Alvian hingga Lelaki itu terjatuh.


"Uhhh___ Santai, Arka! kita baru saja memulai permainanya!" Cetus Alvian di iringi senyum menghina terhadap Arka


Plak-Plak-Plak


Tiga kali tamparan mendarat tepat di wajah Alvian.


"Ahh. Sialan!


Bug-Bug-Bug


Alvian membalas tamparan Arka dengan pukulan.


"Shiiitt___!"


Bag-Bag-Bag Bug-Bug-Bug

__ADS_1


Pukulan demi pukulan, hantaman demi hantaman saling mereka daratkan.


Hingga terjadi perkelahian sengit di antara keduanya.


BRAAKK


Sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca mendarat di perut Arka, dan seketika saja membuat Arka tak berdaya, darah segar bercucuran dari tubuhnya.


Melihat Arka yang tumbang karnanya, Alvian pun dengan cepat melngkahkan kakinya untuk meninggalkan rumah Arka.


Sementara Arka masih memegang perutnya yang mengeluarkan banyak darah, dan kian lama pandanganya gelap seketika.


Ya. Arka kini tak sadarkan diri, Nyawanya berada antara hidup dan mati.


.


.


Alvian dengan cepat pergi dan tanpa perduli dengan keadaan Arka kini.


Dia meraih Ponsel dari saku celananya, dan menghubungi seseorang.


"Lepaskan mereka!" Serunya kepada seseorang yang ada di seberang Ponselnya.


____________________


30 menit kemudian Aryan dan Tama sampai di rumah, dan betapa terkejutanya mereka saat mendapati Arka sudah tak berdaya dengan berlumur darah segar di tubuhnya.


"Arka!" Panggil Tama Lirih seraya memastikan Sahabatnya masih bernyawa


Sementra Aryan lemas seketika mendapati keadaan Kakaknya yang sudah tak berdaya


"Dia benar-benar tega!" Jerit Aryan dalam hatinya seraya menghapus air mata yang tak terasa membasahi wajahnya


"Aryan, cepat hubungi Nayla!" Seru Tama


"Baiklah!"


Aryan dengan sigapnya meraih Ponsel Arka yang berada di saku celana milik Kakaknya.


dan segera menghubungi Nayla.


Sementra Tama mengangkat tubuh Arka untuk segera di bawa ke Rumah Sakit agar mendapatkan pertolongan


.


.


_______


Tubuh Nayla lemas seketika saat mendapatkan kabar buruk tentang Arka.


Buliran air mata kembali membasahi wajah cantikya.


Dengan Langkah gontai Nayla berjalan untuk segera menemui Arka, seseorang yang kini bersetatus sebagai calon Suaminya.


Air mata tak henti membasahi wajahnya, tak ada yang mampu mulukiskan perasaan seorang Nayla,


"Dulu Kekasiku, di bunuh di hadapanku tepat di hari Pernikahanku oleh mantan Kekasiku. Kini kembali terjadi, hanya posisi merka saja yang berubah!" Tangis lirih Nayla seraya mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tak bisa untuk segera menemui Arka.



๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


๐ŸŒบTerima kasih lagi ya, buat semua yang sudah berkenan membaca tulisan Amatiran saya, semoga anda semua semakin betah, dan terus menunggu Up selanjutnya๐ŸŒบ


๐Ÿ’™Jangan lupa tinggalkan jejak anda๐Ÿ’™


๐Ÿ’™Like + Koment + Rate + Vote๐Ÿ’™

__ADS_1


Mari kita saling mendukung ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2