Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Mencoba Menerima Kenyataan


__ADS_3

KETAHUILAH, BAHWA TAK SETIAP ORANG YANG MENGUKIR SENYUM ITU BAHAGIA.


JUSTRU DI BALIK SENYUM ITU, DIA MENYIMPAN BANYAK LUKA. πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Gaes habis baca Arka mampir di karya baruku yok! Sudah Up, Episode terbaru ya.


Jamin ngakak tujuh turunan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚



πŸŽ€Selamat MembacaπŸŽ€


Nayla memandangi Arka yang sedang duduk santai di ruang keluarga, milik Tama. Suami Nayla itu tampak tengah merebahkan tubuhnya di sebuah sofa.


Sorot mata Arka menatap tajam ke sebuah foto berukuran 10 R. Raut wajah penuh tanya kini benar-benar menyelimutinya, dalam foto berukuran 10 R itu, nampak foto Ayah kandungnya tengah mengendong Tama kecil, Mereka justru terlihat seperti Ayah dan Anak bukan Kakak dan Adik.


"Tuhan, dunia ini benar-benar bulat, bahkan hidupku hanya beputar-putar," gumam Arka.


Arka mengingat masa lalunya, dimana sang Ayah pertama kali mengenalkan Tama kepadanya. Saat itu sang Ayah meminta Arka untuk selalu meniru Tama, maklum sang Ayah memperkenalkan Tama padanya sebagai anak cerdas yang perlu pembiayaan sekolah darinya. Bukan saudara. Sejak saat itu Arka dan Tama selalu bersama, menjadi sahabat yang saling setia dalam suka mau pun duka. Memang benar, sejak awal bertemu Tama, Arka benar-benar merasa nyaman, bahkan meski keduanya seumuran, Tama selalu bersikap lebih dewasa dan selalu melindungi Arka.


"Aku tak menyangka, seseorang yang selalu menolongku adalah pamanku. Astaga, bahkan rasanya aku tak bisa mamanggil Tama dengan sebutan Paman." Ucap Arka seraya memainkan jari-jari lentiknya.


Sementara di lain tempat bukan hanya Nayla yang memandangi tingkah Arka, tapi juga Tama, Laki-laki tampan itu menatap Arka dari lantai dua rumahnya.


"Aku bahkan sangat-sangat menyadari bahwa, aku mempunyai keponakan setengil dia," gumam Tama yang sorot matanya masih menatap Arka.


"Yank," panggil Ranty tiba-tiba yang sontak membuat Tama cukup terkejut karenanya.


"Astaga Yank, iseng banget sih." Cetus Tama.


"Maaf Yank. Oh ya Tama sebaiknya kita segera menikah,"


"Haaah. Sabar dong yank"


"Ihh apaan sih, aku tuh mikirin bundamu, kasihan dia sendiri, kalau kita udah nikah nanti kita minta izin Arka buat tinggal saja di sini, jagain bundamu," pinta Ranty tanpa ragu.


"Baik banget kamu sih, Yank, aku makin cinta deh sama kamu," Tama memuji sang pujaan hati.


"Ihh, aku jadi malu."


Tama tersenyum melihat tingkah unyu-unyu dari kekasihnya itu, membuat Ranty semakin malu-malu.


"Lebay!" Cetus Arka tiba-tiba yang sudah berada di belakang Ranty dan Tama.


"Ya ampuunnn, udah timbul aja nih ponakan satu!" Cetus Tama.


Arka hanya tertawa renyah melihat exspresi tak biasa dari wajah sahabat yang ternyata adalah pamanya.


Ceklek


Arka membuka pintu kamar si Bunda, yang tak lain Ibu kandung Tama. Wanita paruh baya itu nampak bahagia dengan kehadiran Arka di kamarnya.


"Hay, Bunda," sapa Arka seraya mengukir senyum tipis di wajahnya.


"Arka, kemarilah!" Seru si Bunda ramah.


Arka pun mendekati wanita itu.


"Jangan panggil aku bunda!"

__ADS_1


"Rasanya aku tak sanggup jika harus memanggilmu Grandmother, karna usia anda masih terlalu muda," jawab Arka.


"Jangan membantah!"


"Tapi Grandmom!"


"Tidak ada tapi-tapian,"


"Heeemz__!" Arka berdecak kesal.


"Dasar cucu tak tau malu, baru bertemu sudah membantah," ledek Tama yang ternyata sedari tadi memang mengikuti langkah Arka.


"Aku masih tak percaya jika dirimu itu pamanku, dan beliau neneku. Maaf aku bukan Grandchid yang durhaka, hanya saya aku belum seratus persen menerimanya. Beri aku waktu untuk memahami semua," ucap Arka sorot matanya tajam menghujam ke arah Tama lalu menatap sang Grandmom.


"Apa pun yang kau fikirkan kini. Kau harus bijak menerimanya dan lebih dewasa untuk memahaminya!" Seru Tama.


"Baiklah," jawab Arka terpaksa.


"Dimana, Istrimu?" tanya sang Grandmom.


"Hadir!" Cetus Nayla yang juga sudah ada di ruang kamar tersebut berdiri bersama Ranty Yoona.


Nayla pun mendekati wanita itu, lalu mencium tanganya penuh cinta. "Aku senang bisa di beri waktu, untuk berjumpa denganmu," ucap Nayla lagi seraya menatap wajah wanita yang kini ada di hadapanya.


"Sama. Aku pun sangat bahagia masih di beri umur untuk bertemu denganmu dan Arka,"


Semua nampak bahagia, ada binar tak biasa di wajah Arka, meski belum sepenuhnya memahami semua kenyataan yang ada di hadapanya kini, namun setidaknya Arka tau bahwa dirinya masih memiliki keluarga.


Tama menepuk bahu Arka, lalu mengacak-acak rambutnya seraya mengukir senyum bahagia.


"Tama. Rasanya aku tak bisa memanggilmu, Paman!" Arka mengutarakan kejujuranya.


"Benarkah?"


"Iya.


"Aku takut kau mengutuku menjadi batu, karna tak mau memanggilmu paman," canda Arka.


"Cihh. Sial!" Cetus Tama.


Hingga membuat semua tertawa, mereka cukup geli melihat obrolan tak bisa antara si paman dan keponakan yang seumuran.


"Tama." Arka nampak serius hingga membuat mereka menghentikan tawanya seketika.


"Ada apa?" Tama heran.


"Maafkan aku!"


"Kenapa?"


"Karna selama ini, aku sering bersikap tak sopan padamu. Aku sering menyuruh-nyuruhmu, bahkan aku sering memukulmu, saat melampiaskan kemarahanku," jelas Arka kelu.


"Sudahlah! Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau meminta maaf padaku," Tama kembali mengacak-acak rambut Arka.


"Terima kasih."


"Kembali kasih,"


Nampak tawa bahagia dari keduanya, ada perasaan yang tak mampu mereka jelaskan. Antara Tama dan juga Arka.


"Oh ya, Bunda, siapa yang selama ini merawatmu? apa para pekerjamu?" tanya Ranty dengan jiwa keponya yang membahana.

__ADS_1


"Iya, Ranty, selama ini Bunda hanya sendiri hanya para pekerja yang menemani, namun tidak dengan bebera bulan terakhir ini. Selama Bunda lumpuh ada seorang gadis yang merawat Bunda dengan ketulsan," si Bunda menjelaskan.


"Siapa Bunda dan di mana dia?" Tama penasaran begitu pun Arka, Nayls dan Ranty Yoona.


"Gadis?" tanya Ranty dengan nada sedikit sinis.


"Iya," si Bunda menjawab dengan tegasnya.


"Tenanglah! Tak perlu khawatir begitu, aku tak akan berpaling darimu," tegas Tama yang menyadari kecemburuan Ranty.


Maklum Ranty takut jika sang bunda justru akan menjodohkan Tama dengan wanita yang selama ini telah merawatnya.


"Cieeeeeee. Ranty cemburu tu?" hardik Arka di iringi tawa.


"Hisss diamlah!" Bentak Ranty spontan saja.


"Woow...! Arka tak percaya Ranty berani membentaknya.


"Maaf, Pak Arka. Jika nanti aku menikah dengan Tama, maka status anda menjadi keponakan saya, dan anda wajib hormat kepada orang yang lebih tua," ucap Ranty Yoona di iringi tawa yang lebih menggema dari tawa Arka yang juga sempat menertawakanya.


"Sial__!" Cetus Arka kesal.


"Sudahlah jangan berdebat!" Seru Tama. "Oh ya Bunda, di mana gadis itu? aku tak melihatnya.


"Dia Kuliah. Sore nanti baru pulang ke rumah!" Jelas sang Bunda.


Mendengar Tama menanyakan gadis itu, membuat Ranty semakin cemburu.


"Kenapa, Yank? gak usah cemburu, aku tak akan mengkhianatimu," Tama membujuk Calon Bininya


"Hadohh sok suit banget sih. Dasar tukang gombal!" Hardik Arka membuat Tama mengernyitkan wajahnya.


CEKLEK


Seseorang membuka kamar si Bunda


Dan kehadiran seseorang itu membuat Arka, Nayla, Ranty dan Tama terkejut luar biasa karenanya.


"Kamu____


Nah Loe πŸ€”πŸ€”πŸ€”




πŸŽ€πŸŽ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸŽ€πŸŽ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€.


πŸ€JANGAN TINGGALKAN JEJAK ANDA


🌱Like


🌱Komen


🌱Rate


🌱Vote


Mari saling mendukung.


BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA YA😊

__ADS_1


__ADS_2