
BUKAN TENTANG
KENAPA MASALAH ITU ADA
TAPI BAGAIMANA
CARA MENGHADAPI
MASALAH YANG ADA.
(Hanya yang bijak yang tau maksudnyaπ)
πππππππππππππ
Mentari pagi bersinar begitu indahnya, bahkan cahaya indahnya memasuki kamar Arka dan Nayla melalui celah jendela.
Sinar itu seolah menyapa, kedua Anak Manusia yang tengah di terjang seribu masalah. Cahaya mentari itu seolah sedang menguatkan Arka agar lebih bisa mengontrol emosinya demi menjaga suasana hati Nayla.
Arka menatap wajah Istrinya, yang masih terlelap dalam tidurnya. Wajah cantik itu terlihat lusuh, dan menyimpan banyak luka.
Arka mendekatkan wajah tampanya tepat di wajah cantik Nayla, sesekali Arka meniup-niup wajah Istrinya. Hal itu sontak saja membuat Nayla terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi, Nona Nayla." Sapa Arka dengan senyum sejuta cinta.
"Arka." Nayla menjawab dengan nada malasnya.
"Apa kau masih mau tidur lagi?"
"Aku berdua denganmu," pinta Nayla tanpa ragu
"Benarkah? aku pasti akan menemanimu hari ini.
Nayla tersenyum lalu memeluk tubuh Sumainya, Arka membalas pelukan Nayla seraya membelai rambut lurus Istrinya.
Arka mendaratkan cium penuh cinta di bibir merah Nayla, Sang Istri membalas kecupan Arka hingga keduanya berpelukan mesra.
Namun sayang saus dan sosis tak bisa berjumpa karna Nayla baru saja mengalami keguguran. Yang membuat Arka harus bisa menahan gejolak rasa yang tak biasa pada dirinya. Arka hanya menikmati ranumnya bibir merah Istrinya dan sesekali bermain-main dengan gunung kembar sang Istri tercita. Sentuhan-sentuhan yang Arka berikan. Cukup bisa menenagkan hati Nayla yang tak karuan.
______
Pukul Sembilan Pagi Arka bersiap-siap berangkat Kantornya, hari ini Arka memang berangkat lebih lambat dari bisanya, karna dirinya harus menjaga Nayla sebelum Rany datang ke Rumahnya. Ya, Arka memang meminta Rany menemani Istrinya selama dirinya masih bekerja.
___________
Arka mendapati Tama yang sibuk dengan beberapa berkas di meja kerjanya. Ya, Tama memang lebih dulu berangkat kekantor dari pada dirinya.
"Hem. Hem!" Arka menyapa Tama dengan gaya tengilnya.
"Hay. Arka, aku kira kau tak bekerja ternyata kau ke Kantor juga. Apa kabar dengan, Nayla, kenapa kau meninggalkanya? bukankah suasana hati Nayla sedang terluka?" tanya Tama panjang lebar hingga membuat Arka menatap nanar.
"Sudah. Kau ceramah atau bertanya? satu bab di borong semua," hardik Arka.
"Oh." Jawab Tama singkat saja.
"Cih. Gila, aku marah. Kenapa exspresimu biasa saja? Arka bertanya dengan nada kesalnya.
"Hahahahaha. Maaf, Arka, aku kan belum menikah, jadi belum bisa bersikap sebijak anda," jawab Tama tertawa.
"Nikah dong, biar tau suka dan dukanya!" Seru Arka seraya menatap Ranty Yoona "Lamar dia! Sebelum aku yang melamarnya," ucap Arka membalas tawa Tama dan berlalu dari hadapan Sahabatnya.
Tama hanya menggaruk-garuk kepalanya, matanya masih memandangi langkah Arka yang kian hilang dari pandanganya.
Ranty yang merasa namanya di sebut-sebut pun mengedipkan matanya ke arah Tama, dan membuat Laki-laki itu salah tinggkah.
"Astaga. Ranty seperti memberi kode kepada saya," ucap Tama dalam hatinya. Ranty hanya tertawa melihat Tama yang salah tingkah hanya karna kedipan matanya.
.
.
.
Hening.
Seketika saja suasana Kantor menjadi hening para Kariawan Arka sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.
_________________
Ceklek
Seseorang membuka pintu Ruang Kerja Arka.
"Siang, Pak Arka," sapanya ramah.
"Siang. Ada apa?"
"Ini berkas laporan keungan kita, Pak Arka."
__ADS_1
"Latakan. Dan kamu boleh keluar!" Seru Arka.
Kariawan itu pun segera meninggalkan Ruang kerja Arka.
BRAAK
Baru beberapa langkah si Kariawan meninggalkan Ruangan Arka, suara keras itu terdengar cukup menggema. Sumua Kariwan itu langsung refleknya menutup telinga karna biasanya jika Arka sudah menggebrak meja kerjanya, pasti Bosnya itu akan beteriak sekuat tenanga.
.
.
.
"Tamaaa____!" pekik Arka dengan nada tingginya.
"Nah, kan benar." Ucap mereka
Tama menautkan kedua alisnya mendengar ucapan-ucapan para Kariawan Sahabatnya, seraya melangkahkan kakinya untuk menemui Arka.
"Ada apa?" tanya Tama yang terkejut melihat tangan Arka yang berdarah.
Braak
Arka melempar Berkas keuangan, ke arah Tama. Dengan sigap Tama mengambilnya dan membaca statistik keuangan dengan seksama.
Mata Tama berkaca-kaca, hampir 90 persen keungan Prusahaan Arka hilang entah kemana. Hal inilah yang membuat Arka berada dalam emosi yang luar biasa.
"Habislah kita, Tama." Ucap Arka dengan mata merah membara karna amarah yang meronta-ronta.
"Siapa yang tega melakukanya, Arka?"
"Siapa lagi, pasti mereka!" Jawab Arka dengan nada tingginya.
"Ayah mertuamu, atau Alvian?" Tanya Tama penasaran.
"Entahlah." Jawab Arka dengan melangkahkan kaki keluar dari ruang kerjanya.
"Kau mau kemana, Arka?"
"MEMBUNUH MEREKA..!"
"Haaah__!
.
.
.
"Sial..!" Gumam Tama kesal
Tak ada pilihan. Tama berfikir bahwa Naylalah yang bisa menghentikan aksi Arka. Dengan cepat Tama menghubungi Nayla, dan memberi tahu keadaan yang sebenarnya.
___________
Chiiiitttt.
Arka menghentikan laju mobilnya tepat di halaman Rumah, Alvian. Tanpa basa basi dan tanpa permisi, Arka segera masuk ke dalam rumah.
Hening sepi dan sunyi bagai tak berpenghuni ketika Arka memasuki Rumah seseorang yang dulu di anggap Saudaranya. Namun hal itu tak menghentikan langkahnya.
Arka mengeluarkan pisau lipat dari saku celanaya, dan segera masuk ke dalam kamar Alvian. Pintu kamar Alvian terbuka dengan lebarnya tak tertutup sama sekali.
Tanpa perduli Arka masuk dan mendekati Alvian yang tengah tertidur pulas di Ranjangnya.
Tap
Tap
Tap
Langkah Arka semakin mendekati Alvian, dirinya mengangkat tanganya dan siap menancapkan pisau di dada Alvian.
DAN......
Tiba-tiba saja tubuh Arka lemas tak berdaya saat mendapati Alvian tetidur memeluk bingkai foto keluarganya. Foto lengkap masih ada Ayah Ibu, Aryan dan dirinya. Arka melihat Alvian memeluk foto itu dengan sempurna.
Pisau lipat di tanganya jatuh kelantai, tubah gagah Arka lemas tak berdaya, jiwa yang tadi meronta seolah tak ada nyalinya. Perasaan yang tadi ingin menghabisi kini lebih terkendali.
Bruuuk
Arka menjatuhkan tubuhnya, hingga membuat Alvian terbangun dari tidur lelapnya. Bahkan dirinya menatap tak percaya saat mendapati Arka tertunduk lemas di kamarnya.
"Arka. Apa yang kau lakukan di sini?" Alvian bertanya seraya menyembunyikan foto Keluarganya bersama Arka di balik badanya.
"Jangan kau sembunyikan! Aku sudah melihatnya." Seru Arka yang membuat Alvian menatapnya heran.
"Kau__
__ADS_1
"Iya.
"Kenapa kau kesini?"
"Kenapa, kau memeluk foto itu? Arka tak menjawab tapi justru balik bertanya.
"A-aku_!" Alvian tak bisa menjawabnya hanya mempu menundukan kepalanya.
"Tadi aku ingin membunuhmu!" Jelas Arka tanpa ragu
"Namun kenapa kau tak melakukanya?"
Arka hanya diam, tak ada jawaban atas pertanyaan, Alvian.
"Aku meindukanmu, tawamu, senyumu tingkahmu. Aku juga merindukan Ayran, perhatianya sikap majanya, tawanya. Tapi aku siapa? aku hanya pembawa luka untukmu Arka," ucap Alvian mengungkapkan perasaan yang tak tertahankan.
Diam
Arka hanya diam. Kini keduanya sama-sama diam. Hanya mata yang saling berpandangan terpacar rasa rindu yang tak mampu di ungkapkan.
.
.
.
Prok Prok Prok
Suara tepuk tangan dari luar kamar Alvian.
"Hebat Al. Ayah bagai menyaksikan Drama Korea," hardik Dicky di iringi sedikit tawa.
"Ayah." Alvian menatap tak percaya sang Ayah yang datang tiba-tiba.
"Ini dia Biang masalahnya, yang sengaja merubah sikap Alvian dan mengambil hati Nayla, hingga aku tak punya siapa-siapa!" Amarah Dicky dengan nada tinggi.
"Kau adalah sumber masalah dari semua masalah yang ada!" Bentak Arka membalas Amarah Dicky dengan emosi yang juga tak terkendali.
Tiba-tiba Dicky mengeluarkan, Pistol dari saku celanya dan mengarahkan tapat di wajah Arka.
"Aku akan menghabisimu, sebelum kau membunuhku!" Bisik Dicky di telinga Arka.
.
.
.
DOOOORR..
Suara itu terdengar menggema.
"Arkaaaaa...........
πππππππππ
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
_______________________________
ALVIAN
πJangan lupa tinggalkan jejak ya.
πLike
πKoment
πVote
πRate
π±Sekali lagi budayakan Like sebelum membaca, jika tak bisa memberi Vote setidaknya tinggalkan jempol anda.
π±Mohon jadilah pecaya yang baik hati dan bijaksana.
π±Terima Kasih Semuanyaπ±
Baca juga Karya keren Kakak Author lainya.
.
.
__ADS_1
.