Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Luka Sendu Pilu Jadi Satu (Gado-Gado )


__ADS_3

Jangan sia-siakan waktumu


Hanya untuk memikirkan


Sesuatu yang tak perlu.


Anggaplah esok kita anak mati


Dengan begitu, kau akan membuat siapa pun. Tersenyum karnamu hari ini.



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


(Air Mata Arka)


Wanita itu menatap wajah Arka sendu, terpacar kerinduan yang teramat sangat, dia mendekati Arka yang tengah berbaring di ranjangnya


Wanita itu mencium kening Arka dengan penuh cinta lalu duduk sisi Arka.


Arka tak bisa menatap jelas wajahnya, yang pasti Dia kini tengah membelai rambut tebal Arka dengan lembutnya.


"Jangan menangis, banyak orang yang menyayangimu, kamu Lelaki hebat dan kamu Anak yang kuat, jangan lemah banyak orang yang harus kamu jaga!" ucapnya ramah, sederhana tapi penuh makna.


Arka hanya diam, dan tetap diam memandangi wanita yang kini di hadapanya.


Wanita yang cantik meski hanya samar-samar di pandang Arka.


Dia berdiri lalu mencium kening Arka dan mengucapkan satu kata.


"Kesayanganku." Hanya itu.


Wanita itu lalu berdiri memundurkan langkahnya menajuhi Arka.


Hingga Arka semakin tak jelas memandangnya.


"Siapa dirimu?" teriak Arka kelu


"Ibumu..." Jawab Wanita itu sendu


Kini Arka benar-benar tak lagi dapat menatapnya, jangankan wajahnya bayanganya saja sudah enyah dari pandanganya.


"Ibu. Ibu___!" teriak Arka pilu bahkan berkali-kali menyebut nama si Ibu.


.


.


"Kak. Bangunlah ! Kau kenapa? mimpi buruk ya?" ucap Aryan penuh tanya yang kini duduk tepat di sisi Arka.


Arka terbelalak tak percaya, apa yang di lihatnya tadi hanya mimpi, padahal dia merasakan hal itu benar-benar nyata, hangat kecupan sang Ibu tadi masih terngiang di benaknya.


"Hah. Cuma mimpi!" cetus Arka.


"Kau mimpi apa?" Aryan coba bertanya.


"Ahh. Sudahlah, tak usah di bahas ! dimana


Nayla?" tanya Arka yang tak melihat sosok Istrinya

__ADS_1


"Kak Nayla sedang membantu kak Rany masak untuk makan malam!" jelas Aryan.


"Oh. Tama?" tanya Arka lagi pada Adiknya


"Kak Tama sedang main Handpone di teras rumah!"


"Isss. Dasar Tama!" celoteh Arka



.


.


"Kak, ada yang ingin ku beri tahu padamu."


"Tentang Rahasia hidupku dan masa laluku?"


"Iya..


"Bicaralah!" seru Arka seraya menatap wajah Aryan sendu, wajah adiknya itu tampak sayu seperti tengah menahan sesuatu


Aryan mulai menjelaskan, semua masa lalu Arka, yang penuh tanda tanya.


"Kak, Ibu Indah memang bukan Ibu kandungmu?"


"Haaaa ! Dari mana kau tau?"


"Ibu sendiri yang memberi tahuku, saat usiaku 17 tahun tepat di hari ulang tahunku, tepat di hari Ibuku meninggalkanku, dan di mana aku masuk penjara karna Kak Alvian menuduhku membunuh Ibu, padahal Kak Alvianlah yang membunuhnya, di hadapan kita!" Aryan menghela nafas panjang


Sementara Arka terdiam seribu bahasa seraya menunggu Aryan untuk melanjutkan kisahnya.


"Lalu. Mengapa Ayah atau Ibu tak menjelaskan padaku, atau mereka tak menyayangiku?" tanya Arka sendu


Hening Arka masih terdiam, sedangkan Aryan melanjutkan kisahnya.


"Ayah benar-benar menyayangimu begitu pun Ibuku. Dulu Ayah menikahi Ibuku tengah mengandung kak Alvian. Jadi dia memang bukan saudara kandungmu! tapi aku Anak Ayah dan Ibu jadi kita masih satu darah. Aku memang Adikmu karna kita satu Ayah walau berbeda Ibu.


"Teruskan!" ucap Arka dengan menahan buliaran air matanya


"Hanya aku yang mengetahui semua Rahasia Keluarga kita. Kau tau? mengapa Kak Alvian tiba-tiba berubah dan membencimu bahkan dia mati-matian ingin membunuhmu, dan dia tak henti-hentinya membuatmu menderita?


Arka menggelengkan kepalanya


"Ya. Itu karna Ayah kita, yang memberikan semua hartanya atas namamu saja, sementara aku dan kak Alvian hanya mendapat separuhnya itu pun di bagi dua. Hal itulah yang membuat Kak Alvian gelap mata dia membenci Ayah, bahkan rasa bencinya semakin memuncak saat dia mengetahui bahwa dia bukan Anak Kandung dari Ayah kita.


Dan Kak Alvian tega membunuh Ibuku karna saat itu Ibu menyetujui bahwa Harta Ayah jatuh ke tanganmu semua!" jelas Aryan dengan sempurna.


DEG


Hati Arka pilu bagai di sayat sembilu setelah mendengar kisah masalalunya dari Adik satu-satunya itu.


"Gila. Ini benar-benar gila!" gumamnya yang tak mampu membendung air mata. Arka berteriak sejadi-jadinya menghempaskan luka dalam hatinya! "Aaaaaaaaaaaa___!" pekiknya dan membuat semua orang di rumah terkejut luar biasa.


"Hetikan sifat pemarahmu, yang justru akan melukai dan menyakiti dirimu sendiri, aku menjelaskan ini agar kau tau semua rahasia keluarga kita, bukan untuk melihatmu marah.


"Diam kau, Aryan ! Kau tak tau betapa sakitnya berada di posisiku, betapa luka hatiku, saat aku tau bahwa aku sendirilah yang tak mengetahui Rahasia keluarga kita!" omel Arka dengan nada penuh amarah dan emosi yang luar bisa.


"Tenaglah, Arka ! cepat atau lambat kau akan melihat ku diam selamanya!" jawab Aryan penuh makna dan membuat Arka menatap tajam ke arahnya

__ADS_1


Arka melihat sinar mata yang tak biasa, sayu sendu terpancar dari bola mata Adik Arka itu.


Aryan beranjak dari duduknya lalu malajukan langkah kakinya.


.


.


BRUUK.


Tubuh Aryan terjatuh tepat di depan pintu kamar Arka, hingga membuat Arka terkejut luar biasa.


"Aryan..." Pekiknya seraya mengangkat tubuhnya dan tak perduli kakinya sedang terluka.


Arka mendekap tubuh Adiknya yang tak berdaya, dingin bahkan sangat dingin itu yang Arka rasakan saat medekap tubuh Aryan.


"Kau kenapa? Aryan ayo buka matamu, jangan buat aku takut, aku tak mau kau diam selamanya, aku mohon!" tangis Arka pecah seraya menggoyang-goyang tubuh Adiknya dan menepuk-nepuk pipinya, Arka berharap sang Adik akan segera membuka matanya.


"Tamaa__________!" Panggil Arka pada sahabatnya dengan nada tinggi setinggi-tingginya.


Teriakan Arka yang mengema membuat Tama, Rany dan Nayla terkejut luar biasa.


Ketiganya menatap Aryan yang sudah tak berdaya bagai tak bernyawa.


"Siapkan Mobil ! Aku harus membawanya ke Rumah sakit." Seru Arka


Tama dengan sigapnya menuruti printah Arka sementara Arka membopong tubuh Adiknya yang sudah tak berdaya. Tanpa perduli bahwa kakinya sendiri sedang terluka.


Ada bercak darah dari langkah-langkah kaki Arka, yang sedang mengendong tubuh Adiknya.


Nayla menatap kelu langkah Suaminya itu, air mata sendu membasahi wajah cantiknya, hatinya pilu melihat perasaan Arka yang sedang terluka.


"Tuhan. Aku berharap Suamiku akan mencintaiku sama besarnya dengan rasa cinta Arka kepada Adiknya!" gumam Nayla dalam hatinya seraya mengikuti langkah kaki sang Suami.


Bercak darah yang mengiringi langkah Arka adalah darah yang keluar dari kakinya, Arka tak perduli dengan dirinya sendiri yang terpenting baginya, agar Nyawa Aryan terselamatkan.


Selama perjalanan menuju Rumah sakit, Arka tak hentinya-hentinya menggengam tangan Aryan, teringat olehnya bahwa Aryan memang berbeda, Aryan mengidap Kanker darah, sudah hampir 5 tahun ini rasa sakit itu mengerogoti tubuh Adiknya. Itulah sebabnya Arka menjaga Aryan dengan ketatnya, bahkan Arka rela membayar mahal Rany hanya untuk menjaga Adiknya.


"Kau tau Arka, melihatmu terluka adalah rasa sakit yang luar biasa, bagaikan luka tanpa darah, lebih pedih, menyakitkan tak terlihat tapi terasa. Bertahanlah ! aku akan selalu menggengam tanganmu dan akan selalu berada di sampingmu!" bisik Nayla pilu tepat di telinga Arka yang sedang menahan pedihnya hidup yang harus di hadapinya


"Kau anak yang kuat. Bertahanlah banyak orang yang harus kau jaga!" Arka mengingat ucapan Wanita dalam mimpinya itu, yang membuat Arka semakin menangis sendu.😭😭



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


saya sedih sendiri menulis kisah Aryan dan Arka ini, aku tak biasa membayangkan kalau yang kutulis ini terjadi 😭😭😭😭😭.


#Sakitnya tuh di sini (Eh curhat 😄😄)


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


🌷Like


🌷Komen


🌷Rate


🌷Vote

__ADS_1


🌻Terima Kasih🌻


🌻Mari saling mendukung🌻


__ADS_2