Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Kebaikan Arka Dan Rahasia Tama


__ADS_3

ANDA BACA KARYA SAYA


SAYA BACA KARYA ANDA


ADA PROMO DI KARYA SAYA


SAYA JUGA PROMO DI KARYA ANDA.


ANDA KOMENT LANJUT DI KARYA SAYA


SAYA PUN AKAN BEGITU DI KARYA ANDA


INTINYA : SAYA IKUTI CARA ANDA β€πŸ€—



🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Hening.


Suasana Rumah Arka kembali hening. Arka menatap lima pasang mata yang kini menatap tajam dirinya. Kelima kepala itu bagai kucing yang siap menerkam mangsanya. Iya, Tama, Nayla, Alvian, Ranty dan Rany, menunggu dengan penuh rasa penasaran ke arah Arka yang akan mengatakan sesuatu.


Arka sedikit mengukir senyum tipis di wajahnya, jiwa bercanda pada dirinya mulai meronta. Melihat kelima orang yang tegang di hadapanya, membuat Arka ingin tertawa.


"Nungguin, ya?" canda Arka tiba-tiba yang sontak saja membuat mereka semua semakin kesal di buatnya.


"Arkaaaaaa___!" Tama meninggikan suaranya


"Santay, gak usah pake urat, biasa saja dong, ah!" Seru Arka di iringi tawa.


Brakk.


Tama memukul meja yang ada di hadapanya.


"Tenang. Tenang! Kita tunggu sampai 5 menit lagi, kalau dia belum juga bicara, aku yang akan menghajarnya," cetus Alvian menepuk pundak Tama namun sorot matanya menatap tajam ke arah Arka.


"Ciihh. Beraninya mengancam ku begitu. Gagal kaya baru tau rasa anda," gumam Arka.


"Maksudmu?" Alvian heran.


"Diamlah. Aku baru saja mau mulai berbicara, tapi kalian berdua, justru ribut di hadapanku.


"Astaga! Kau sekarang benar-benar menyebalkan ya. Apa susahnya sih tingga bicara." Omel Tama.


"Diamlah, aku sudah mau serius ini," ucap Arka lagi.


Suasana kembali hening, namun Arka tak kunjung buka suara, membuat Alvian dan Tama sudah berada di ujung kesabaranya.


"Huuuaaaammm! Kok aku jadi ngantuk gini ya," cetus Arka, yang memecahkan keheningan lagi


Tama dan Alvian sama-sama beranjak dari tempat duduknya, keduanya dengan langkah cepat segera mendekati Arka. Ketiga Wanita yang ada bersama mereka pura-pura tak mendengarkan sedikit keributan di antara Tama, Alvian dan Arka, karna mereka tau, semua itu hanya pertengkaran lelucon saja.


.


.


.


Tama kian menatap tajam wajah Arka, begitu pun Alvian sudah siap mengepalkan tanganya.


"Ada apa ini?" Arka pura-pura tak mengerti.


"Kamu pilih mana. Rumah Sakit atau Kuburan?" ancam Alvian.


"Eeehhh..!" Arka menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Kau pilih juga, mau ku tinju pakay tangan kiri atau tangan kanan?" tanya Tama dengan kesalnya.


"Apaaaa. Hihh beraninya main keroyokan!" Balas Arka.


"Arkaa_____" Pekik Avian dan Tama bersama.


"Aahhhh, ciee kompakan bener. Kabuuurr!" Ucap Arka seraya berlari kecil dari hadapan Tama dan Alvian.


"Woooyy. Benar-benar gila!" Alvian dan Tama mengejar lari Arka yang kini berada di ruang tamu.


"Baiklah. Baiklah, santai. Lepaskan!" Seru Arka kepada Alvian dan Tama yang kini sama-sama memegangi dirinya.


Dengan spontan keduanya pun melepaskan Arka, walau dalam keadaan hati yang kesal membahana.


"Heeemmms!" Arka menarik nafas panjang lalu membuang pelan.


"Buruan," keburu Tua nih si Alvian cetus Tama tiba-tiba.


"Dasar, sialan!" Balas Alvian.


"Diam!" Arka mulai nampak serius.


Alvian dan Tama kembali diam, keduanya benar-benar hanya tertuju ke arah Arka.


___________


Arka perlahan membuka Map yang kini berada di tanganya.


"Setelah ku fikirkan dan kurenungkan selama hampir dua minggu ini, aku telah mengambil beberapa keputusan," ucap Arka yang semakin serius saja.


Tama dan Alvian, menunggu dengan debaran-debaran rasa penasaran.


"Aku memiliki tiga Perusahaan besar yang aku rasa tak akan sanggup ku kelola sendiri. Jadi aku putuskan, Perusahan itu akan ku bagi. Satu untukmu dan satu lagi buatmu!" Jelas Arka dengan tegasnya seraya menepuk bahu Alvian dan Tama.


Kini keduanya hanya mampu terdiam, tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, kecuali expresi wajah yang tak biasa.


"A-arka. Apa kau serius dengan kata-katamu itu?" Alvian heran.


"Serius.


"Apa kau benar-benar yakin?" tanya Tama juga.


"Sangat yakin..


"Tapi Arka__!" Ucapan Alvian tertahan karna Arka menatap tajam wajahnya.


"Tidak ada kata tapi-tapian!" Tegas Arka.


"A-aku tak bisa menerima pemberianmu," cetus Tama.


"Kenapa?"


"Kau susah payah memperjuangkanya, namun tiba-tiba kau memberi kami dengan cuma-cuma, ini benar-benar tak masuk akal, Arka." Tegas Alvian.


"Apa yang tak masuk akal? ini Perusahaanku dan ini juga keputusanku, aku memberi kalian tak cuma-cuma. Karna kalian harus bagi hasil 40 persen di setiap bulanya. Dan ada syarat lagi, nanti setelah kalian menikah, kalian berdua tak boleh tinggal terpisah denganku, kalian harus tinggal di sini bersamaku dan Nayla. Sampay nanti kalian bisa membeli Rumah sendiri, dengan hasil kerja keras kalian sendiri," Arka menjelaskan.


Tak ada jawaban dari mulut Tama atau pun Alvian, kecuali buliran bening membasahai pipi, keduanya sudah mencoba menahan air mata, namun buliran bening itu dengan tak sopan tetap membasahi wajah mereka.


Rasa haru yang luar biasa benar-benar menyelimuti hati dan perasaan Alvian, lelaki itu tak percaya, Arka tetap bisa menerima dirinya setelah semua kejahatan yang sudah di lakukanya.


Begitu pun Tama, dia hanya terdiam seribu bahasa, tengelam dalam rasa tak percaya. Tama mengingat ucapan seseorang yang membuat Tama memejamkan matanya, seakan kembali ke masa lalu itu, dimana seseorang yang meminta dirinya untuk selalu menjaga dan melindungi, Arka.


Hening lagi-lagi kembali hening, Arka menatap Alvian dan Tama dengan perasaan lega, karna Arka merasa, apa yang telah di putuskanya adalah yang terbaik untuk dirinya, Alvian dan juga Tama, dengan begitu tak ada lagi status atasan dan bawahan, karna mereka akan sama-sama menjadi pemilik di Perusahaan masing-masing.


Dengan rasa haru yang tak bisa di ungkapkan. Alvian, Arka dan Tama saling berpelukan ala Telletubies. Rasa bahagia kini benar-benar menyelimuti mereka.

__ADS_1


____________


Malam bahagia itu pun berlalu, Tama dan Alvian kini sudah menempati Kantor masing-masing. Mereka bekerja dengan kerasnya, Demi mengejar mimpi agar segera mampu meminang sang pujaan hati.


________________


Arka mendatangi Kantor Tama, untuk memastikan kondisi Kantor yang kini di miliki Sahabatnya.


.


.


Saat Arka akan masuk keruang kerja Tama. Diri mendapati sang Sahabat tengah mamandang sebuah foto yang kini di tanganya.


Expresi wajah Tama begitu berbeda, ada rasa tak biasa yang di sembunyikan oleh Sahabat Arka itu. Tapi entahlah hanya Tama sendiri yang mengerti.


Perlahan Arka melangkahkan kakinya, dengan pelan agar Tama tak menyadari kehadiranya.


Diam-diam Arka mencari tahu foto siapa yang tengah di pandangi oleh Tama. Namun sayang ternyata Tama menyadari kedatangan, Arka.


Hal itu sontak saja membuat, Tama, terkejut luar biasa, hingga foto yang ada di tanganya jatuh di lantai Kantornya. Dengan sigap Tama menutup foto tersebut dengan kakinya. Apa yang di lakukan oleh Tama membuat Arka sangat curiga bahkan tingkah Tama yang tak biasa membuat Arka cukup heran di buatnya.


"Foto siapa itu?" Tanya Arka tanpa ragu.


"Ti-tidak. Bukan siapa-siapa," Tama coba menyembunyikanya.


"Jika bukan siapa-siapa, kenapa kau tutupi?" Tanya Arka lagi.


Tama berusaha sebisa mungkin menutupinya, agar Arka tak melihatnya.


"Minggir!" Arka mendorong Tama sekuat tenaga. Hingga membuat tubuh sabahatnya itu tersungkur di lantai Kantornya.


Segera Arka meraih foto yang kini di hadapanya. Tanpa basa-basi Arka segera memandanginya.


DEG.


Arka menatap nanar foto yang kini ada di tanganya, ribuan pertaanyaan memenuhi benak Arka. Ada debaran tak biasa tengah menyelimuti batinya.


"Apa ini_____?"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


❀Nah Loh siapa tuh kira-kira? πŸ€”πŸ€”


Beh belum selesai masalah Nayla, kini Arka saya akan di sibukan dengan rahasia yang di simpan TamaπŸ’”.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


🌷Jangan lupa tinggalkan jejak lagi ya.


🌷Like


🌷Vote


🌷Komen


🌷Rate


🌷Jadilah pembaca yang baik dan bijaksana.


🌷TERIMA KASIH🌷


Yuk mampir juga di karya Kakak Otor keren lainya❀


__ADS_1



__ADS_2