Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Tentang Rasa (Antara Dendam dan Rindu)


__ADS_3

Kita hanya ada dua pilihan.


Hidup atau mati


Menyerah atau berusaha


Tapi walau kau memilih hidup


Mati itu pasti .


(Hanya orang bijak yang memahaminya)



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


DORRRR.


Suara itu menggema, seketika saja Arka meraskan gelap di sekitarnya.


BRAAK.


"Cepat berdiri!" seru seseorang dan suaranya terdengar jelas di telinga Arka.


Arka membuka matanya di tatapnya Tama yang tengah bersusah payah menghadapi Alvian di hadapanya.


"Awwww...." Desis Arka yang merasakan sakit di bagian tangan sebelah kirinya.


Tenyata pluru panas milik Alvian hanya mengenai tangan Arka saja, karna Tama datang tepat pada waktunya dan mendorong Alvian dengan sekuat tenaga saat Alvian memuntahkan pluru ke arah Arka.



BAG


BAG


BUK


BUK


Perkelahian antara Tama dan Alvian tak dapat di hindarkan. Alvian kembali meraih pistol miliknya namun dengan sigap Tama menendang tangan Alvian hingga piatol itu menjauh darinya.


"Sial....!" upat Alvian


Buk. Arka mendaratkan tinjuan ke perut Alvian.


Plak. Alvian membalas tinjuan Arka dengan tamparan.


Tama dengan gesitnya meraih pistol yang tak jauh darinya, lalu dengan sigapnya menodongkan kearah Alvian.


"Angkat tanganmu! Atau aku akan membunuhmu." Bentak Tama yang membuat Alvian mengerutkan dahinya dan menghentikan jurus-jurusnya untuk menghajar Arka.


"Cihh. Beraninya kroyokan!" hardik Alvian dengan mengukir senyum terpakasa di wajahnya.


"Apa perlu aku membunuhnya, Arka?" tanya Tama dengan tampang seriusnya


"Tak perlu, biarkan dia hidup ! Dia berkata padaku bahwa dia sudah banyak menderita karnaku!" cetus Arka tanpa ragu dan membuat lidah Alvian cukup kelu mendengar ucapan Arka itu.


"Apa maksudmu?" Tama bingung dengan sikap sahabatnya itu


"Nanti akan ku jelaskan padamu. Berikan pistol itu padaku!" seru Arka terhadap Tama


Tama pun memberikan pistol itu kepada Arka.


Sementara Alvian menyaksikan dengan perasaan yang cukup tertekan.


DORR


DORR


DORR


Arka memuntakan pluru itu ke udara tanpa sisa.


Lalu Arka mendekati Alvian dan mengembalikan pistol itu padanya.


"Ini ku kembalikan padamu, isilah lagi dengan pluru dan gunakan lagi untuk membunuhku!" seru Arka pada Alvian yang membuat Tama menggelengkan kepalanya, Tama benar-benar tak mengerti dengan apa yang ada dalam fikiran sahabatnya saat ini.


"Kau gila, Arka ! jika kau mau kau saja yang melenyapkanya sekarang juga!" celoteh Tama dengan kesalnya


"Aku sudah pernah membunuhnya, dan dia tak mati, aku tak akan pernah mengulanginya lagi!"


"Kenapa? Lakukan saja!" cetus Alvian tiba-tiba


"Tidak. Aku tidak akan pernah melakukanya lagi, karna saat menatap matamu aku melihat sosok yang selalu melindungiku dulu. Kita pernah tumbuh bersama, makan satu piring berdua bahkan dulu kita tidur di satu kamar yang sama! Tapi mengapa saat kita dewasa justru terjadi banyak kesalah fahaman dan bahkan kita saling melenyapkan!" Ucap Arka dengan tegasnya sementara Alvian tiba-tiba saja menundukan kepalanya, dirinya seperti tak mampu menatap sesorang yang selalu di lindunginya dulu.


"Arka..," desis Alvian lirih


Arka hanya tersenyum dan menepuk bahu Alvian dengan lembut.

__ADS_1


"Lakukan! jika membunuhku akan membuatmu bahagia." Bisik Arka tepat di telinga Alvian


Alvian hanya terdiam seribu bahasa tak ada yang bisa di katakanya, sementara Tama cukup tercengang dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Arka meraih tangan Tama dan mengajaknya pergi dari hadapan Alvian. Dan membiarkan Alvian mencerna mentah-mentah semua ucapanya.


________________


Tama membawa Arka ke rumah sakit, saat ini jam menunjukan pukuk O3.42.


"Apa perlu aku memberi tahu, Nayla? tanya Tama seraya melajukan mobil dengan kecepatan yang tak bisa.


"Tidak perlu. Kita hanya perlu mengeluarkan pluru dari tanganku, aku rasa itu tak butuh waktu lama!" tegas Arka


"Baiklah-baiklah." Jawab Tama dengan terpaksa


_______________________


Nayla mencari keberadaan Arka, yang sedari iya membuka mata Nayla belum melihat Suaminya.


"Kemana dia?" gumam Nayla dalam hatinya


Dicky sang Ayah yang hampir dua hari ini memang menginap di rumahnya, merasa penasaran dengan gerak gerik nayla yang tampak gelisah.


"Ada apa, Nay?" Dicky bertanya dengan ramahnya


"Ayah. Apa Ayah melihat, Arka?"


"Tidak ! Memangnya kemana dia?"


"Entahlah, sedari aku membukan mata, aku belum melihatnya." Jelas Nayla dengan perasaan khawatirnya


"Aku juga tidak melihat, Mas Tama sepagi ini." Ucap Rany tiba-tiba di tengah obrolan Nayla dan sang Ayah.


"Haaaaah ! Benarkah. Kemana mereka?" Nayla cukup heran dan penasaran


"Aku sudah coba menelpon, Mas Tama, tapi ternyata ponselnya ketinggalan di ruang tengah," jelas Rany lagi


"Kemana mereka?" Nayla semakin gelisah


"Sudahlah, Kak Nayla tak usah gelisah ! Kak Arka dan Kak Tama, memang sering seperti ini," Ayran coba menenangkan


"Benarkah?" Nayla menghela nafas lega


"Iya. Begitulah mereka. Lihat saja keadaanya mereka datang nanti ! jika babak belur berarti mereka berkelahi, kalau masih ada nyawa pasti mereka akan kembali!" jelas Aryan yang membuat Nayla memasamkan wajahnya sementara Aryan berlalu dari hadapanya di iringi tawa yang sangat mengusik hatinya.


_______________


Tama bolak balik di depan pintu ruangan, dimana Arka sedang melakukan oprasi kecil untuk mengeluarkan pluru dari tanganya.


.


.


"Tamaaaaa...!" pekik Arka dari dalam ruangan dan membuat Dokter yang menanganinya sedikit terawa.


"Arka. Arka omonganmu saja yang pedas ya, tapi kenyataanya tanda tanya, masa sama jarum suntik saja takut!"


"Ahh. Sial kau Irham ! jarum suntik itu lebih mengerikan dari pada sebilah pisau!" ucap Arka kepada Dokter yang menanganinya seraya memanyunkan bibirnya


"Laki-laki sepertimu takut di suntik? Istrimu saja, kau suntik setiap malam, dia tak histeris sepertimu!" Hardik Dokter Irham yang membuat Arka berfikir keras dengan ucapanya.


"Maksudmu?"


"Dah lah. Tak usah sok polos anda!" cetus si Dokter yang membuat Arka tertawa


"Hahahahahah..... !" tawa Arka pecah


"Diamlah!'


"Aku baru faham suntik yang kau maksud itu. hahahahaha. Maksudmu sosisku? Astaga Dokter gila. Tau saja anda yang saya suka." Ucap Arka dengan Tawa yang semakin pecah dan membuat Irham mengerutkan dahinya.


"Asal kau tau Arka? andai ini bukan dirimu sudah kulempar kau jauh-jauh!" omel Irham dengan wajah masamnya


"Hahahahahahahahaha.. !" Arka masih saja tertawa


"Sial. Aku yang ingin meledeknya tapi justru aku yang di ledek habis-habisan olehnya." Ucap Irham dalam hatinya. "Bagunlah! sudah selesai," seru Dokter Irham yang sudah selesai mengerjakan tugasnya.


"Syukurlah!" ucap Arka dengan mengukir senyum manis di wajahnya.


Awalnya Irham meminta Arka untuk tinggal dulu di rumah sakit, tapi karna Arka memaksa pulang, dengan terpaksa Irham mengijinkanya.


.


.


"Terima kasih, Dok," ucap Tama ramah


"Sama-sama," jawab Irham dengan senyum sejuta makna

__ADS_1


"Ahh. Lama, jangan terlalu sering berterima kasih padanya, dia barusan menyiksaku dengan jarum suntik miliknya!" Hardik Arka yang membuat Irham seketika saja mengerutkan wajahnya. Sementara Arka menarik tangan Tama dan segera pergi dari hadapan Dokter Irham


"Dasar gila! dia benar-benar jauh berubah, dulu pendiam dan apa adanya. Tapi sekarang benar berbeda. jadi tak punya akhlak dia!" gumam Irham dengan menggelengkan kepalanya.


___________________________


Chiiit


Tama menghentikan laju mobilnya tepat di halaman rumah Arka.


Nayla yang mendengar suara mobil milik Arka dengan cepat melangkahkan kakinya untuk segera menemui Suaminya.


Nayla menatap Nanar ke arah Arka yang bajunya berlumur darah dan tangan yang di balut perban.


"Arka. Apa yang terjadi denganmu, kenapa tanganmu kau balut begitu?" Nayla panik melihat luka di tangan Arka


"Aku tak apa-apa." Jawab Arka lembut untuk menenangkan kepanikan Istrinya.


"Arka. tanganmu luka begitu, tidak mungkin tak terjadi sesuatu padamu."


"Ahh sudahlah, nanti saja menjelaskanya ! Aku lapar aku mau makan." jawab Arka dan segera berlalu di hadapan Istrinya


Nayla masih terdiam dan cukup penasaran menagapa Arka bisa terluka.


"Nay. Ayo masuk kamar tolong gantikan bajuku! Tanganku terluka jadi susah melakukanya sendiri. Apa harus Tama yang membantuku?" seru Arka yang membuat Nayla mengukir senyum tipis di wajahnya.


__________


Arka menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, masih terbayang wajah Alvian di benaknya, wajah sayu yang penuh amarah, entah apa yang kini di fikirkan oleh Arka, jika boleh jujur dirinya sangat merindukan masa kecilnya yang penuh suka cita, bersama Alvian dan Aryan. Tapi kini mereka justru terjebak dalam sebuah permainan tak bertuan, bahkan Arka masih mencari tau siapa dalang di balik semua masalah yang terjadi antara Alvian dan dirinya.



"Apa yang sedang kau fikirkan?" Tanya Nayla penasaran


"Aku sedang memikirkanmu?"


"Haaaah...


"Iya. Bagai mana aku bisa menunaikan kewajibanku padamu? karna tanganku terluka."


"Siapa yang melukaimu?"


"Alvian sialan itu, belum sembuh lukaku karna sabetan pisaunya dulu. Kini dia sudah mendaratkan pluru juga di tanganku!" Cetus Arka tanpa sadarnya


"Apa. Alvian? jadi dia yang melukaimu?"


"I-iya." Jawab Arka terbata-bata seraya menutup mulut dengan tangan kanannya


"Sialan____


"Tak usah gelisah, aku sudah menghajarnya," jawab Arka yang mencoba menenangkan Istrinya


.


BRAKK


Suara seseorang dari seberang pintu kamar Arka dan Nayla.


Nayla dengan sigap membukanya.


.


.


"Ayah?" Nayla mendapati sang Ayah di depan pintunya. Yang kini menatap tajam wajahnya


"Sudah ku duga!" batin Arka


Sepertinya Arka mengetahui sesuatu tentang Ayah mertuanya itu.



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🌷Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


🌷LIKE


🌷KOMENT


🌷RATE


🌷VOTE


Jadilah pembaca yang baik ya, wajib tinggalkan jejak setelah membaca 😁😁😁.


Mari saling mendukung


🌻Terima Kasih🌻**

__ADS_1


__ADS_2