
HIDUP ITU SEPERTI KUPU-KUPU
INDAH
TAPI HANYA SEMENTARA
KARNA
SEMUA PASTI AKAN PERGI
(Malaikat Kecil ArNay)
πππππππππππ
Jika Bintang bisa berbicara, mereka pasti akan menghibur Arka dan Nayla yang sedang di balut duka dan luka. Jika mereka bisa berbicara mereka pasti akan berusaha membuat Arka dan Nayla tertawa. Karna Bintang pasti ingin selalu bersinar terang untuk menjadi penyejuk hati agar menjadi tenang. Karna begitulah Bintang yang bisa bersinar sendiri tanpa di dampingi Bulan dan Matahari. Begitulah Arka Nayla berusha tertawa dalam hati yang di balut luka.
(DEH OTORNYA MALAH CERAMAH. HIYA HIYA HIYA π)
____________
Sudah 7 hari lamanya, Nayla berada di Rumah sakit, dan hari ini Dokter telah memberinya izin untuk pulang kerumah.
Hal ini memang sudah sangat di Nantikan oleh Nayla, karna Arka berjanji, akan menunjukan rekaman CCTV Rumah mereka. Agar Nayla mengetahui dengan pasti, siapa yang telah membuatnya kehilangan calon Malaikat kecilnya untuk selamanya.
.
.
.
Bruk.
Arka menjatuhkan tubuh lelahnya di ranjang empuknya. Seraya menatap wajah cantik Istrinya yang masih terlihat berduka. Arka mendekati sang Istri yang sedari tadi hanya diam saja. Tanpa sepatah pun berkata-kata. Hanya beberapa buliran air mata yang sesekali membasahi wajah Cantik Nayla. Entahlah, apa yang kini ada di dalam benaknya. Sedih karna kehilngan Calon Babynya atau terluka belum bisa menerima perkataan Arka. Yang telah mengatakan kebenaran tentang siapa yang sudah merenggut paksa Nyawa calon Malaikat kecilnya.
"Arka." Nayla mulai membuka mulutnya.
"Iya," jawab Arka seraya membelai rambut Istrinya.
"Bisakah kau tunjukan CCTV itu padaku?"
"Nanti. Fikirkan kesehatanmu dulu!"
"Aku tak bisa menunggu nanti, karna hatiku teramat perih."
"Heeems__!" Arka menarik nafas panjangnya.
"Kumohon!" pinta Nayla
"Baiklah."
Arka memapah tubuh Nayla yang masih cukup lemah, dan duduk di kursi sofa yang tak jauh dari ranjangnya. Arka mengelurkan Laptop miliknya. Dengan perasaan yang cukup tertekan Arka terpaksa menunjukan bukti yang pasti menyakitkan, untuknya dan pasti akan sangat melukai hati Nayla.
.
.
.
Tik
Tik
__ADS_1
Tik
Hitungan menit teramat lama di rasakan, Nayla melihat Arka yang sepertinya sengaja mengulur-ulur waktu untuk memutar Rekaman CCTV Rumahnya.
BRAK.
Nayla menepuk meja dengan sekuat tenaga, hingga membuat Arka cukup terkejut di buatnya. Akhirnya rekaman CCTV itu terputar juga.
Tap.
Tiba-tiba saja, Laptop Arka mati dengan sendirinya, sebelum Nayla melihat semua bukti itu secara keseluruhanya. terpancar raut amarah di wajah Nayla. Dirinya merasa, Arka seperti sengaja belum ingin memberi tahunya.
"Sialan!" cetus Nayla
"Maaf, Nay. Aku lupa mengisi daya batrainya." Jelas Arka
"Kau sengaja kan, Arka?"
"Tidak, Nay!"
"Bohong___!" Pekik Nayla dengan berliang air mata.
Arka benar-benar berada dalam posisi dilema, dirinya sebenarnya memang sengaja mengulur waktu agar Nayla tak mengetahui yang sebenarnya. Namun amarah Nayla membuat Arka tak berdaya. Ya. Jika seorang Wanita sudah berada di puncak emosinya. Jangankan Arka. Xavier saja pasti akan takut melihatnyaπ
"Tamaaaa__!" Panggil Arka menggema.
Tak selang berapa lama, datanglah Tama dengan exspresi wajah datarnya.
"Ada apa?" tanya Tama curiga
"Pinjam Laptopmu.
Tanpa fikir panjang dan banyak bertanya, Tama dengan sigap mengambil Laptop miliknya. Tama tak tega melihat buliran air mata di wajah Nayla.
_____________
Dalam rekaman itu, tampaklah seorang Laki-laki menggunakan baju serba hitam di tambah full penutup wajah. Hingga tak dapat terlihat siapa dia sebenarnya. Laki-laki itu masuk kedalam ruang kerja Arka. Dan menggeledah semua lemari yang berisi berkas-berkas penting milik Prusahaan Arka. Di situlah Nayla mengetahinya tanpa sengaja, karna cukup terkejutnya, Nayla berteriak sekuat tenaga. Hingga membuat si pencuri itu cukup terkejut di buatnya. Karna merasa posisinya dalam bahaya, Laki-laki itu itu mengelurkan sebilah pisau dari saku celananya, tujuanya agar Nayla menghentikan teriakanya. Nayla yang merasa dalam bahaya berlari sekuat tenaga, hingga dia terjatuh tepat di depan pintu kamarnya. Karna terlalu kencangnya Nayla berlari dan membuatnya terjatuh hingga tak sadarkan diri.
Saat itulah Alvian datang tak di undang, Alvian juga cukup terkejut melihat kondisi Nayla yang tak berdaya dan terdapat bercak darah yang mengalir dan mengotori bajunya. Dengan sigapnya Alvian mengeluarkan Pistol dari saku celananya untuk menghabisi Laki-laki yang membuat Nayla terluka,
"Al. Jangan lakukan!" pekik Lelaki itu saat Alvian menodongkan Pistol tepat di kepalanya.
Laki-laki itu dengan cepat membuka Penutup kepalanya.
"Ayah____!" pekik Alvian tak percaya saat mengetahui Dickylah di balik penutup kepala berwarna hitam itu.
Ya. Dicky adalah Ayah kandung Alvian, sekaligus Ayah dari Nayla yang tak lain Mertua Arka.
"Apa yang Ayah lakukan?" tanya Alvian heran.
"Al. Ayah melakukan ini demi dirimu?"
"Apa maksudmu, Yah. Apa kau akan membunuh Nayla? dia Anakmu juga," Tegas Alvian.
"Tidak. Al, Ayah tak bermaksud membunuh Nayla, Ayah tadi hanya mengancamnya, Ayah benar-benar tak tahu jika akan melukai Nayla." Jelas Dicky dengan nada terbata-bata.
Alvian hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar penjelasan sang Ayah. Sejujurnya Dicky hanya berniat mencuri semua Dokumen penting milik Arka, bukan berniat melukai, Nayla. Saat Dicky dan Alvian berada dalam pucak bingungnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara kedatangan Arka dan Tama.
Karna merasa dalam bahaya. Alvin memilih melindungi sang Ayah. Dirinya menyuruh Dicky pergi melalui jendela. Sementara dirinya membopong tubuh Nayla yang sudah tak berdaya.
π±Rekaman di matikanπ±
Arka menutup rekaman CCTVnya, semua itu sudah cukup menunjukan siapa yang salah. Keberadaan CCTV yang tepat berada di atas pintu kamar Arka. Membuat percakapan Dicky dan Alvian terdengar jelas dan sempurna.
Setelah melihat Rekaman itu, Nayla tak mampu membendung air matanya. Kembali cairan bening itu luruh membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
Nayla merasa Dunianya berhenti seketika, saat mengetahui bahwa benar sang Ayahlah pelakunya, yang lebih membuat Nayla tak percaya, saat Alvian menyembut Dicky dengan sebutan Ayah juga. Padahal dulu Dicky sempat akan menikahkanya dengan Alvian.
"Siapa aku, Arka. Jika Alvian Anak Ayah, siapa Orang Tuaku yang sesungguhnya?" tanya Nayla dengan derainya air mata yang semakin deras saja.
Arka dengan sigap memeluk tubuh Istrinya, mengecup lembut kening Nayla, membelai rambut lurusnya dan mengusap air mata di pipi Istrinya.
"Tenanglah." Ucap Arka padahal dia juga kini berada dalam kebencian yang sangat luar biasa.
Namun Arka coba bersikap, sedikit dewasa demi menenangkan Nayla yang hatinya lebih terluka.
Bagai mana tidak. Nayla baru saja kehilangan calon Babynya. Namun kini dirinya harus mendapati kenyataan, sepertinya dia bukan Anak Kandung sang Ayah.
Cairan bening yang membasahi pipi Istrinya, semakin memuncakan kebencian Arka terhadap Dicky dan Alvian. Tapi dirinya harus berusaha tegar di hadapan Nayla.
"Akan ku pastikan. Mati atau penjara untuk kalian!" Amarah Arka yang membahana. Namun ucapan itu hanya miliknya saja.
_____
Arka segera membopong tubuh Istrinya dan merebahkan, tubuh Nayla di ranjang empuknya.
Lagi-lagi Arka mengecup kening Istrinya. Dan membenamkan Nayla dalam pelukanya.
"Tenanglah, sayang! Aku akan selalu bersamamu!" bisik Arka di telinga Nayla yang sayup-sayup mulai memejakan matanya. Pelukan Arka cukup membuat nyaman Nayla.
πππ
Ada waktunya
Dimana seseorang
Akan membedakan
Pemikiran tentang kebahagian
Dengan pemikiran
Sebuah Keegoisan
Karna itu adalah
Awal dari kebijaksanaan.
Bye Wasallam.
πππππππππππππππ
_________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak anda
π±Like
π±Vote
π±Koment
π±Rate
β€Sekali lagi, mohon budayakan Like sebelum membaca.
β€Jadilah pembaca yang baik dan juga bijaksana.
Terima Kasih β€
__ADS_1
Yuk Akak-akak bantu dukung karya keren ini ya.