Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Kemarahan Alvian (Demo hati dan jiwa)


__ADS_3

BUTUH BACAAN YANG BUAT TERTAWA


SENYUM-SENYUM PENUH MAKNA.


TERTAWA SAMPAI ANAK CUCU πŸ˜‚


YUK BACA KARYA BARUKU.



🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA.


BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA.


NOTIF: ANDA BACA KARYA SAYA.


SAYA BACA KARYA ANDA.


Β 


πŸŽ€πŸŒ±πŸŽ€πŸŒ±πŸŽ€πŸŒ±πŸŽ€πŸŒ±πŸŽ€πŸŒ±πŸŽ€


Β 


πŸ€Selamat MembacaπŸ€


Β 


Β 


Tangis Nayla pecah membasahi wajah cantiknya, memecah keheningan pada malam itu. Arka menatap tak percaya, kehadiran Nayla yang tiba-tiba. Tanpa fikir panjang, Arka segera beranjak dari duduknya lalu mendekati Istrinya dan memeluknya dengan penuh cinta.


Air mata itu luruh mengalir deras di pipi Nayla, mengungkapkan betapa hancur hati dan perasaanya. Ternyata benar apa yang dia duga,


bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari sang Ayah.


Arka semakin erat memeluk tubuh Istrinya, dirinya menghapus air mata di wajah cantik Nayla.


"Tenang sayang!" Ucap Arka pelan.


Namun tangis itu semakin menjadi-jadi membuat Alvian dan Tama yang mulai terjaga terkejut luar bisa. Keduanya segera beranjak dari ranjangnya untuk melihat, apa yang terjadi dengan Nayla.


Dicky berjalan perlahan, di gapainya tangan Nayla di kecupnya dengan penuh cinta, tepat di keningnya.


"Sampai kapan pun kau tetap anak ayah," lirih Dicky.


"Kenapa ayah tega? menjadikan aku dan Alvian, sebagai perantara untuk membalaskan dendam Ayah."


Dicky hanya terdiam tapi sorot matanya semakin tajam, menghujam tepat ke arah Arka, rasa benci dalam dirinya benar-benar belum enyah. Setiap kali menatap wajah Arka, dia bagai mengingat luka di masa lalunya. Hal itulah yang membuat Dicky selama ini, mencari cara agar Arka segera sirna untuk selamaya.


"Lepaskan, dia!" Seru Dicky seraya mendorong tubuh Arka yang sedari tadi tanganya masih menggengam tangan Nayla.

__ADS_1


"Hey. Apa maksudmu?" Arka tak mengerti dengan sikap Dicky.


"Kau dan Nayla harus berpisah!"


"Heeeh. Entengnya anda bicara, setelah semua luka yang anda berikan kepada saya, kini anda meminta aku dan Nayla berpisah.


"Kau pembawa luka, kau harus segera enyah!"


" Hentikan! Kenapa kalian, justru adu mulut begitu? Arka tenangkanlah Istrimu." Alvian datang menenangkan.


Dicky menatap nanar, anak laki-laki yang ada di hadapanya kini. Belahan jiwanya yang selalu dia jaga, menghalalkan segala cara agar Alvian bahagia, namun sama dengan Nayla. Lagi-lagi Alvian juga meninggalkanya dan lebih parahnya. Alvian merasa nyaman tinggal bersama Arka dari pada hidup bersamanya.


"Al. Kenapa kau meninggalkanku? setelah semua pengorban yang telah ku berikan untukmu," pertanyaan itu keluar tanpa ragu dari mulut Dicky,


"Heeeemz. Alvian menarik nafasnya lalu membuang secara perlahan. "Ini bukan waktunya untuk membicarakan sesuatu yang mungkin saja akan menimbulkan perkelahian. Sebaiknya tenangkan dulu hati Nayla!" Seru Alvian tanpa sedikit pun matanya menoleh ke arah sang Ayah.


Arka mengangguk setujuh dengan apa yang di ucapkan Alvian. Dengan cepat Arka memapah tubuh Istrinya dan membawa Nayla kembali ke kamarnya.


Begitu pun Alvian dia pergi tanpa permisi, dan tak sedikit pun menatap wajah Dicky. Sementara Tama hanya mengaruk-garuk kepalanya, merasa belum sepenuhnya faham dengan apa yang baru saja di lihatnya. Yang pasti dia tau, benar bahwa Nayla bukan anak kandung dari Dicky.


"Kisah hidup yang membingungkan," cetus Tama dan segera berlalu untuk kembali ke ruang mimpinya. "Dahlah. Istirahat saja dulu Om! Besok lagi bertengkarnya. Siapkan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi, Arka," Seru Tama sebelum meninggalkan kamar Dicky, membuat Lelaki itu menatapnya penuh emosi.


HENING SEMUA KEMBALI KETEMPATNYA MASING-MASING


____________


Pagi pun tiba, Nayla belum membuka matanya dia masih terjaga dalam tidurnya. Arka membelai rambut Istrinya dan mengecup keningnya, hingga membuat Nayla perlahan membuka mata.


"Hemmmz." Hanya itu yang keluar dari mulut Nayla. Dia bagai tengah malas menatap dunia, menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.


Keduanya segera beranjak dari tempat tidurnya, Segera mandi lalu sarapan pagi. Hari ini ada yang berbeda di rumah Arka dan Nayla, karna mulai hari ini sudah ada yang bekerja untuk membantu Nayla mengurus rumah. Bahkan tak tanggung-tanggung, Arka bukan hanya satu atau dua menerima orang untuk bekerja di rumahnya. Tapi ada total lima pekerja yang siap membantu semua pekerjaan yang ada di rumah Arka.(Jiwa pelitnya sudah berkurangπŸ˜‚).


.


.


.


Semua sudah ada di meja makan. Namun Nayla dan Alvian enggan mendekat kesana. Entahlah, sepertinya keduanya malas untuk bertemu dengan sang Ayah.


Sikap Alvian dan Nayla yang menjauhinya membuat Dicky semakin membenci Arka. Karna bagi Dicky Arkalah penyebab semua luka dalam hidupnya.


"Apa yang kalian lakukan. Ayo kita sama-sama sarapan! Seru Arka.


"Moh." Alvian.


"Males." Nayla.


"Eh kenapa begitu? ayo sarapan. Macam anak kecil saja kalian berdua ini, makan saja pakai acara di paksa-paksa!" Seru Tama.


Nayla dan Alvian hanya memasamkan wajahnya, mendengar seruan Tama, tak juga mau membuat Alvian dan Nayla mau makan berasama.


BRAAK PRANK

__ADS_1


Dicky menggebrak meja makan. Hingga semua benda yang ada di atasnya mengeluarkan suara yang saling betautan. Melihat apa yang di lakukan oleh si Ayah mertua Arka hanya diam saja, tak begeming sama sekali. Dia tau Dicky kesal dengan sikap Nayla dan Alvian padanya.


"Sekarang, jelaskan padaku! Kenapa kau meninggalkanku?" Sorot mata Dicky menghujam ke arah Alvian.


"Aku, hanya memilih di pihak yang seharusnya kulipih," jawab Alvian.


"Apa maksudmu. Kenapa kau beraninya mengatakan itu padaku. Setelah semua yang ku korbankan untukmu.


"Aku berterima kasih Ayah telah menunjukan rasa sayangmu kepadaku, walau aku tau caramu membahagiakanku itu salah dan benar-benar tak dapat di terima oleh logika,"


"Beraninya kau bicara begitu kepadaku!"


"Ayah saja berani meninggalkan Ibu, saat dulu dia tengah mengandungku," balas Alvian tanpa ragu.


DEG


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Alvian. Membuat perasaan Dicky di hujam seribu pisau tepat ke ulu hatinya. Dadanya sesak seketika, tak ada jawaban atau pun pembelaan yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa Ayah diam? benarkan ayah meninggalkan Ibu saat ia tengah mengandungku. Beruntung ada ayah kandung Arka yang siap menikahi ibu, untuk menutupi rasa malu, atas perbuatan bejat yang ayah lakukan padanya, tapi ayah tak mau bertanggung jawab dengan apa yang telah ayah lakukan." Emosi Alvian mulai tak terkendalikan.


"Tidak seperti itu, kau salah faham padaku,"


"Salah faham katamu. Kemana kau dulu? kenapa kau tak ada saat ibu membutuhkanmu?"


"Ayah..!" Ucapan Dicky tertahan iya masih menela'ah semua ucapan Alvian.


"Haahh. Tak ada yang bisa kau katakan, karna memang ayah adalah penyebab segala luka yang ada. Bukan Ayah Arka, seperti yang kau katakan padaku selama ini. Beliau justru menerima apa pun keadaan ibu. Padahal saat itu Istrinya sendiri tengah mengandung Arka." Jelas Alvian dengan nada tingginya.


Lagi-lagi Dicky hanya mampu diam, tak ada yang bisa dia jelaskan. Dadanya terasa sesak dengan apa yang di katakan Alvian.


Hening suasan kembali hening. Diam semua hanya terdiam, mereka sama-sama tengelam dalam luka yang teramat dalam.


Arka, Tama dan juga Nayla, hanya bisa menyaksikan kemarahan seorang Alvian.


😞😞😞😞😞.


Nah kan bingung.


Buat yang kurang jelas dan faham dengan kisah masa lalu orang tua Arka dan Alvian.


Kalian bisa baca di Bab 32 😊.



--------------


❀MAAF KURANG PANJANG. TANGANKU DAH TAK MAMPU NGETIK LAGI.


❀Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Like, Vote, Rate dan Komentar.


❀Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2