
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK.
BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACAβ€.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
πHAPPY READINGπ
Siang ini ada yang berbeda menyelimuti perasaan Tama, ada debar-debar tak biasa membenan memenuhi hatinya.
Ya. Rahasia yang sekian lama di simpanya, akhirnya akan terungkap juga, selama ini Tama selalu bisa menghindarinya, jika Arka bertanya tentang keluarganya.
Arka menatap tajam wajah sahabatnya, sorot mata Arka seolah menghujam full di hati Tama, hingga dia merasakan sesak yang luar biasa. Namun Rahasia tetaplah Rahasia, cepat atau lambat pasti akan terungkap juga. Benar, mungkin inilah saatnya Arka harus mengetahui siapa dirinya.
Ranty sedikit bernafas lega, walau dia juga merasakan penasaran yang sama seperti Arka dan Nayla, namun setidaknya sebentar lagi dia akan mengenal siapa calon mertuanya.
"Semoga, Arka akan mengerti, dan tak akan menjauhiku jika dia mengetahui semuanya nanti," batin Tama sedih.
_____________
Satu jam sudah perjalanan mereka menuju ke rumah Tama. Rasa penasaran Arka semakin meronta-ronta, sorot matanya selalu tak luput menatap wajah Tama. Sahabat Arka itu hanya diam saja selama perjalananya.
Chiiiittt.
Berhentilah mereka di sebuh rumah yang cukup megah dan mewah, di depan rumah tersebut ada dua penjaga.
Tama segera turun dari mobilnya di iringi Arka Nayla dan juga Ranty Yoona. Setelah sekian purnama tak pernah menginjakan kaki di rumahnya, ini kali pertama Tama kembali kesana.
"Mas Tama," sapa seorang penjaga dengan nada terbata-bata. "Ini benar, Mas Tama," ucapnya lagi.
"Iya. Aku Tama, dimana Bunda?" Tama bertanya, suaranya bergetar ketika menyebut nama Sang Bunda.
"Ibu, ada di dalam, mas. Sudah hampir satu bulan ini, beliau tak bisa berjalan kaki, beliau benar-benar merindukanmu," jelas si penjaga itu.
Tanpa fikir panjang Tama segera melangkahkan kaki masuk ke rumahnya, untuk menemui sang Bunda.
"TERNYATA TAMA HORANG KAYA," batin Ranty Yoona yang nampak bahagia.
Mereka bertiga mengikuti langkah Tama, yang cukup tergesa-gesa. Ya. Lagi-lagi Arka mendapati foto Ayah kandungnya terpajang dengan indah di rumah tamu rumah sahabatnya. Hal itu semakin membuat rasa penasaran Arka kian membahana.
Ceklek.
Tama membuka pintu salah satu kamar yang nampak mewah dan besar.
"Bunda," ucapnya bergetar.
"Ta-tama," Wanita paruh baya itu menangis seketika, saat melihat kehadiran Tama, ada binar tak biasa terpancar dari wajahnya yang nampak sudah cukup lanjut usia, sepertinya rasa rindunya terhadap Tama benar-benar luar biasa.
"Bunda. Bunda apa kabar? Bunda sakit," Tama menyeka buliran bening di wajahnya.
Sementara Arka Nayla dan Ranty Yoona hanya mampu menyaksikan sebuah pertemuan yang menyesakan dada.
"Kau, kemana? mengapa kau tak pernah pulang kerumah, Bunda merindukanmu. Apa amarahmu sebesar itu, sampai kau tak pernah mengunjungiku?"
"Maafkan aku, Nda. Selama ini aku tetap memperhatikan mu, walau dari jarak jauh," jawab Tama di penuhi rasa bersalah.
Keduanya saling berpelukan, meluapkan rindu yang sudah tak tertahankan.
"Bunda merindukanmu,"
__ADS_1
"Aku juga, Nda. Anak mana yang tak meridukan kasih sayang Ibunya, hanya saja, aku harus menebus Dosamu pada seseorang,"
Mendengar ucapan itu membuat lidah sang Bunda terasa kelu, dadanya sesak mendengar ucapan dari anaknya itu. Air mata keluar begitu derasnya, dia tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. "Maafkan, Bunda Tama!" Pintanya.
Tama menyeka air mata di wajah sang Bunda lalu mencium punggung tanganya, yang sudah hampir sekian purnama tak pernah di lakukanya. "Bunda kenalkan," Tama menarik tangan Ranty Yonna.
"Siapa dia?" tanya sang bunda seraya melempar senyum ramah.
"Dia calon, Istriku, namanya Ranty Yoona," Tama memperkenalkan Ranty kepada sang Bunda, Ranty pun mendekatinya lalu mencium tangan sang calon mertua.
"Ini, Nayla. Wanita yang sempat membuatku jatuh cinta, sebelum aku mengenal Ranty Yoona, namun dia kini sudah menikah, dan ini Suaminya," jelas Tama seraya menatap wajah Nayla lalu menatap wajah Arka.
DEG
Ada exspresi tak biasa nampak dari raut wajah sang bunda saat menatap Arka. "Dia Arka, kah?" tanyanya dengan berlinang air mata.
Hal itu tentu saja membuat Arka semakin curiga. "Siapa Bundanya si Tama ini? kenapa dia menatapku aneh sekali," batin Arka tak mengerti.
"Dia mirip sekali dengan, Ayahnya," ucap sang Bunda dengan derainya air mata yang semakin deras saja. "Kemarilah, Nak." Aku ingin sekali memelukmu!" Pinta si Bunda dan tanpa menolak Arka langsung menurutinya.
Hening
Suasana menjadi hening, Arka membenamkan dirinya, dalam dekapan sang Bunda, yang tak lain adalah Ibu Kandung Sahabatnya. Ada ribuan pertanyaan kini mondar-mandir di fikiran Arka tentang seseorang yang kini tengah memeluknya, Wanita itu nampak sangat cantik walau sudah lanjut usia.
"Maafkan, aku Arka," bisik wanita paruh baya itu, yang membuat Arka terkejut laur biasa mendengarnya.
Begitu pun dengan Nayla dan Ranty Yoona, keduanya pun sama terkejutnya, kecuali Tama, lelaki tampan itu hanya menundukan kepalanya.
"Siapa anda?" tanya Arka.
"Kau adalah cucuku, walau bukan cucu kandungku," Ucap Wanita itu.
"Tapi begitulah kenyataanya,"
"Jelaskan padaku, yang sebenarnya!" Seru Arka dengan tatapan tak biasa.
"Aku yang akan menceritakanya. Tapi kau janji dulu, bahwa setelah ini, kau tak akan membenciku!" Pinta Tama kelu.
"Baiklah." Tegas Arka.
Tama pun menarik nafas panjang untuk memulai cerita, dan membuka sebuah rahasia masalalu sang Bunda.
"Aku dan Ayahmu adalah Saudara, meski kami beda Ibu. Kekekmu menikahi Bundaku di saat usianya masih sangat muda, yakni 18+ tahun. Sedangkan saat itu, Kakekmu sudah memiliki Istri satu Anak dan dialah Ayahmu." Tama menarik nafasnya.
"Haaah?"
"Ayahmu dan Bundaku saat itu memiliki usia yang sama, namun Bunda berstatus sebagai Ibu tiri dari Ayahmu." Tama diam sejenak.
"Lalu! Arka semakin penasaran.
"Kakekmu memperkenalkan Bundaku dengan Istrinya yang sontak menbuat Nenekmu tak terima, akhirnya beliau jatuh sakit dan tak lama meninggal dunia."
"Astaga..
"Hal itulah yang membuat Ayahmu sangat membenci Bundaku, bahkan saat aku lahir, ayahmu berusaha untuk membunuhku. Karna ayahmu takut aku akan mengambil semua hak miliknya,"
"Setega itu, kah, Ayahku?"
"Iya, hingga akhirnya Bundaku dan Ayahmu terlibat persaingan sengit. Bunda memperjuangkan hakku dan ayahmu memperjuangkan haknya." Tama menarik nafas lagi.
"Lanjutkan!" Seru Arka.
__ADS_1
"Hingga suatu ketika Kakekmu yang tak lain adalah ayah kandungku, menghembuskan nafasnya, dan dia meninggalkan harta 80 persen untuk ayahmu dan sisanya baru untuk bundaku,"
"Benarkah?"
"Iya. Dan meninggalnya Kakekmu tak membuat persaingan reda, hingga suatu ketika aku jatuh sakit yang cukup parah, dan ayahmulah yang menyelamatkan nyawaku,
Diam Arka diam.
"Hal itulah yang membuat Bunda merasa bersalah dengan semua sikapnya terhadap ayahmu. Namun walau beliau membenci Bunda, tapi pada akhirnya Ayahmu tak membenciku, dia bahkan menerimaku sebagai saudaranya walau usiaku dan usianya terpaut cukup jauh.
Arka menatap tajam wajah Tama, ada binar tak biasa dari tatapanya.
"Dan suatu hari Beliau memperkenalkanku padamu, usia kita pun sama, dan saat di detik-detik terakhir sebelum menghembuskan nafasnya, Ayahmu memintaku untuk menjagamu, itulah sebabnya sampai saat ini aku tetap setia dan selalu di sampingmu." Jelas Tama panjang lebarnya membuat Arka cukup sulit mempercayainya.
HENING
Arka diam, semua diam. Bahkan Arka yang mendengar penjelasan Tama tentang masa lalu sang bunda. membuat Arka cukup susah mencerna dan menerimanya.
"Lalu kenapa ayah tak memperkenalkanku, kepada Bundamu?" tanya Arka tiba-tiba sorot matanya mengarah ke wanita paruh baya yang kini ada di hadapanya.
"Entahlah." Jawab Tama.
"Jadi, kau adalah PAMANKU?" tegas Arka,
"Iya. Walau usia kita sama.
Arka menautkan kedua alisnya mencoba menela'ah kenyataan yang ada. Kesalahan Bunda si Tama bukan kepadanya, tapi pada Allmarhum Neneknya, exspresi wajah Arka membuat Tama curiga.
"Hey. Hentikan tatapanmu itu, aku harap kau bisa bijak menerimnya, dan menanggapi sebuah rahasia dengan dewasa. Jangan bersikap seperti anak kecil." Tegas Tama yang membuat Arka mengernyitkan wajah tampanya.
"Jangan panggil aku, anak kecil paman, namaku Arka. Ya namaku adalah Arka," canda Arka yang membuat Tama sedikit tertawa.
Tama pun tersenyum ke arah Arka, sementara Arka membalas senyum Tama dengan exspresi datarnya. Apa pun yang ada di dalam fikiran Arka saat ini, hanya Arka sendiri yang memahami.
.
.
Nah kan, terlalu rumit ππ. Yang gak faham baca ulang ya, bila perlu sampai tiga kali, biar mengerti πππππ.
INTINYA TUH GINI :
BUNDANYA TAMA NIKAH SAMA KAKEKNYA ARKA. TAPI KAKEKNYA ARKA UDAH PUNYA ANAK YA ITU. AYAHNYA SI ARKA. NAH SAMA BINI KEDUA SI KAKEK PUNYA ANAK . YA ITU SI TAMA. JADI SI TAMA ITU PAMAN SI ARKA.
WALAU PUN MEREKA SEUMURAN.
KARNA PAS NIKAHIN EMAKNYA TAMA.
USIA EMAK TAMA SAMA DENGAN USIA ANAKNYA SI KAKEK. YA ITU. BAPAKNYA ARKA.
ππππ.
PUSING JELASINYA π
ππππππππππππ
BACA KARYA BARUKU YA GAES.
__ADS_1