
SAYA BERDO"A SEMOGA TANGAN JAHIL YANG SUKA NURUNIN KARYA SAYA. JEMPOLNYA KENA KARMA. KENA AZAB KAYAK SINETRON DI IKAN TERBANG๐. ASEM BANGET DAH AH.
SIAPA SIH? KALAU GAK SUKA, YA GAK USAH BACA. GITU AJHA KOK REPOT๐.
๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ
๐Selamat Membaca๐
Pagi itu suasana cukup genting, Arka hanya mampu terdiam mendengar perdebatan yang baru saja di lakukan antara Dicky dan Alvian.
Tama sibuk dengan benda pipihnya, pura-pura tak mendengarkan pedebatan yang cukup menguras emosi jiwa dan raga. Alvian masih mencoba meredam amarahnya, sementara Nayla memandangi langkah Dicky yang pergi meninggalkan rumah Arka.
"Al. Apa kau tak mau menghentikan, ayah?" tanya Nayla dengan tetesan yang masih membasahi wajahnya.
"Biarkan saja, biar ayah menenangkan dirinya dan merenungkan kesalahanya.
"Apa kau sudah tak mau memperdulikanya? bagaimana pun, dia tetap ayah kandungmu, dan bagaimana pun, aku pernah hidup bahagia bersamanya," ucap Nayla resah.
"Jika aku tak mau perduli lagi padanya, mungkin waktu itu aku membiarkan saja, Arka membunuhnya, saat Arka marah karna ayah melukaimu dulu." Tegas Alvian tanpa ragu.
"Tapi Al. Ayah akan kemana, kau telah mengembalikan semua hartanya kepada Arka,"
"Tenanglah, Nay! Ayah tak selemah yang kau kira, dia punya banyak teman untuk menolongnya. Lagi pula aku tak mengembalikan rumah yang sudah kau tinggali selama ini bersamanya. Oh ya. Suamimu yang harus berhati-hati setelah ini, karna ayah bisa saja mencelakainya." Jelas Alvian lagi seraya menatap wajah Arka yang juga tengah menatapnya.
"Hemmmz. Aku sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi kedepanya nanti," Arka mencoba menenagkan dirinya.
"Tenanglah. Aku sudah sewa 16 orang yang siap menjaga, Arka." Canda Tama di tengah kegalauan mereka.
"Hebat, aku merasa benar-benar terhormat, atas perhatianmu, tuan Tama," balas Arka.
"Sama-sama," jawab Tama singkat saja.
"Hadeeh. Dasar gila! Di tengah kondisi resah yang melanda masih saja bisa bercanda," cetus Alvian heran.
"Hemz. Dahlah!" Ucap Nayla lalu melangkahkan kakinya meningalkan, Arka , Alvian dan Tama.
Ketiganya terdiam mendengar apa yang di ucapkan Nayla. Tampak kekesalan dari nada bicaranya.
BRAAK.
Nayla menutup pintu kamarnya sekuat tenaga.
"Astaga." Cetus Tama.
"Ini gara-gara bercandamu yang keterlaluan itu," Arka menatap wajah Sahabatnya.
"Loh kok aku. Kan aku melakukan itu demi kebaikanmu,"
"Sudah-sudah!" Seru Alvian. "Temui Istrimu!" tambahnya seraya menatap Arka.
"Baiklah," Arka meninggalkan keduanya.
"Lalu, aku temui siapa?" Tama masih saja bercanda.
"TERSERAHLAH!"
"Heeeeh." Tama memandangi langkah Alvian yang sebentar lagi hilang dari pandanganya
"Hey, Al. Kau mau kemana?" Tama penasaran.
"Aku mau kerumah, Ranty Yoona!" cetusnya hingga membuat Tama menautkan kedua alisnya.
"Haaaaah. Apa kau tak salah? calon Istrimukan Rany bukan Ranty,"
"Suka-suka saya," jawab Alvian dengan sejuta senyuman.
"Dih, sialan!"
"Hahahahahahahaha." Tawa Alvian menggema dan pergi entah kemana.
_______________________
Arka menemui Istrinya, melihat kedatangan Suaminya, Nayla pura-pura memejamkan matanya
"Kau tak pandai membohongiku," Arka menarik selimut yang membalut tubuh istrinya.
__ADS_1
Nayla masih coba memejamkan matanya, walau pun dia mendengar jelas apa yang di ucapkan Arka kepadanya.
"Oh jadi dia benar-benar sudah tidur," Arka berpura-pura.
Arka mendekap tubuh Nayla, membelai rambut lurus Istrinya lalu mengecup keningnya dengan penuh cinta.
"Sampai kapan kau akan berpura-pura?" bisik Arka.
Nayla masih bertahan dalam diamnya.
"Ya sudahlah. Dia sudah benar-benar tidur rupanya, aku pergi saja,"
Arka melepaskan pelukanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Berencana meninggalkan Nayla.
Sssttttt
"Arka.." Nayla melingkarkan tanganya di pinggang sang suami tercinta.
"Heeemz! Benarkan kau hanya berpura-pura?" Arka membalikan badanya, hingga keduanya kini saling bertatap muka,"
"Kau mau kemana?"
"Mau Kekantor, kau kan tak mau berbicara denganku," Arka mencubit hidung Istrinya.
"Maaf. Jangan kekantor dulu, aku mohon!"
"Baiklah," Arka mengukir senyum tipis di wajahnya.
"Terima kasih," balas Nayla seraya merangkul kembali tubuh Arka. "Aku membutuhkanmu," pintanya.
"Aku akan selalu ada untukmu, Tenanglah!"
Keduanya semakin mengeratkan pelukan, Nayla mengukir seribu senyuman, dia merakan sebuah kenyamanan, saat berada dalam dekapan Suaminya.
Arka menggendong tubuh Istrinya, dan menyandarkan Nayla di ranjang empuknya.
Arka memandangi wajah Nayla dan pelan-pelan mendekatkan wajahnya hingga berjarak sekitar 5 CM saja.
"Kau mau apa?"
"Apa perlu bertanya, jika seorang suami menginginkan Istrinya.
"Harus. Karna keadaan hatimu sedang tak baik, aku tak mau memaksakan kehendaku. Karna aku takut justru akan semakin membuatmu sedih karna keinginanku.
"Arka. Apa kau tau?"
"Tau apa, Nay?"
"Bahwa sesungguhnya pelukan seorang suami saat sang Istri bersedih adalah hal yang paling menenangkan." Jelas Nayla dengan senyum penuh cinta.
"Benarkah?"
"Iya.
"Aku janji Akan selalu memelukmu saat kau bersedih, dan akan selalu di sampingmu sampai kapan pun itu,"
"Janji?
"Janji."
Percakapan keduanya benar-benar menenagkan, Nayla. Arka mendaratkan kecupan lembut di bibir merah istrinya, membuat keduanya hanyut dalam lautan cinta yang tak biasa.
"Boleh?"
"Apa lagi?"
"Ahem. Ahem."
"Apaan?"
"Gak usah sok polos deh, Nay.
"Sialahkan, Tuan Arka!
__ADS_1
Arka menyambut bahagia seruan Istrinya. Dia segera melepaskan bajunya, siap melancarkan keingianya yang sudah berada dalam puncak yang tak bisa di ungkapkan. Arka memulai dengan lembut mesra dan penuh cinta
"Cantik," bisik Arka yang suara terdengar lembut dan menggoda.
.
.
.
Ssstttttt.
"Arkaaaaaa_____!" Pekik seseorang dari luar sana, hingga menggagalkan aksi yang akan di lakukan Arka.
"Haaaissssshhhh. Cobaan apa lagi ini, Tuhan!" Omel Arka seraya mengerutkan dahinya.
Arka segera keluar dari kamarnya, karna terlalu tergesa-gesa, tanpa sadar dirinya hanya menggunakan celana pedek tanpa bajunya.
"Ada apa?" Arka cukup heran karna Tama sibuk mengacak-acak pakaian yang sudah tersusun rapih di salah satu ranjang baju.
"Apa kau melihat kemejaku?"
"Lah. Situ kira saya pembantu,"
"Arka para pekerja barumu. Bekerja banyak salahnya.
"Loh. kenapa?"
"Masa bajuku sama bajumu banyak yang tertukar, yang lebih parah lagi, ada kacamata masuk ke lemari saya. Kan aneh! Sejak kapan coba aku pake kacamata? kalau sampai Ranty Yonna tau, bisa gagal nikah saya, ntar dia kira aku, cowok gila. Huuuuuuuuuuf." Omel Tama panjang lebarnya membuat Arka berusaha semampu mungkin untuk tak tertawa.
Melihat expresi tak bisa dari raut wajah Arka, membuat Tama menghentikan pembicaraanya.
Dan membukam mulutnya dengan kedua tanganya.
"Kenapa diam? ayo lanjutkan!" Seru Arka yang masih coba untuk tak tertawa.
"Hiiiiihh. Dasar gila!" Upat Tama
"Aku atau kamu yang gila? ngapain coba. Ranty Yoona datang kesini cuma buat ngcek Isi lemarimu saja, kayak kurang kerjaan banget dia." Hardik Arka di iringi tawa yang tak mampu lagi di bendungnya.
Tama yang kesal pun pergi meninggalkan Arka, Niat hati ingin laporan tapi dia justru mendapatkan hardikan. "Huuuuuf. Dasar sialan!" Upat Tama penuh kekesalan.
TING TUNG
Bel rumah Arka berbunyi, Arka yang mendengarnya tanpa basa basi segera membukanya.
"Aaaaaaaaa____!"
Seseorang yang kini ada di hadapan Arka, berteriak sekuat tenanga, hingga membuat Arka cukup terkejut di buatnya.
Nah Loe ๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค.
๐ฑ๐๐ฑ๐๐ฑ๐๐ฑ๐๐ฑ๐๐ฑ๐๐ฑ๐
๐JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ANDA LAGI YA.
๐LIKE
๐VOTE
๐RATE
๐KOMEN
๐JADILAH PEMBACA YANG BAIK HATI DAN BIJAK SANA.
๐TERIMA KASIH๐
Yuk Mampir juga di karya baruku ya โคโคโค.
__ADS_1