Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Sikap Alvian


__ADS_3

BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ANDA YA.



🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


πŸŽ€SEAMAT MEMBACAπŸŽ€


Mata itu bagai mata burung elang yang siap menyerang, rasa kesal yang luar bisa membuat jiwa pemarah Arka meronta-ronta, rasa sesak menyelimuti perasaanya, saat menatap dua orang yang kini ada di hadapanya.


Ya. Dialah Alvian dan Rany dua orang yang menyembunyikan rahasia selama ini.


Begitu pun Tama, dia benar-benar tak menyangka, Rany dan Alvian begitu tega kepada dirinya.


"Jelaskan padaku! Apa yang telahkah kau rencanakan?" Tanya Arka kepada Alvian.


"Sejak kapan kalian di sini?" bukan menjawab Alvian justu balik bertanya, hingga membuat Arka semakin kesal karnanya.


"Sialan_!" Upat Arka


BUG


Arka mendaratkan tinjuan tepat di dada Alvian, namun laki-laki itu justru membalas dengan senyuman meski merasa ke sakitan.


"Cih. Sial!" Arka kembali akan mendaratkan tinjuan karna melihat senyum Alvian yang mencurigakan. Namun saat Arka akan melayangkan aksinya Nayla dengan sigap menangkap tangan Suaminya.


"Astaga, Nay apa yang kau lakukan?" Tanya Arka yang terkejut dengan aksi Nayla.


"Jangan selalu emosi, karna amarah tak akan meyelesaikan masalah. Sebaiknya kau berikan kesempatan untuk Rany dan Alvian menjelaskan," tegas Nayla menenangkan.


"Biarlah, Nay. Biarkan Suamimu melakukan apa pun sesukanya, karna begitulah Arka yang selalu menyelesaikan masalah dengan amarah," ucap Alvian yang membuat Arka semakin kesal saja.


CK.


Arka kembali mengepalkan tanganya dan siap melanyangkan tinjuan ke arah Alvian. Namun dengan cepat Alvian menangkisnya, dan membalas pukulan Arka.


Bug


Bag


Bug


Alvian mendaratkan pukulan berkali-kali ke tubuh Arka, hingga tubuh Suami Nayla itu tersungkur karnanya. Melihat hal itu membuat Tama cukup murka, dan berusaha menghajar Alvian juga, namun sama dengan Arka, Alvian justru mendaratkan Tamparan bekali-kali ke wajah Tama, membuat darah segar keluar dari dari bibir merahnya.


"Astaga, Al." Nayla dan Ranty segera menghampiri Arka dan Tama.


Sementara sang bunda hanya diam saja, dia justru membiarkan para anak muda itu menyelesaikan masalah dengan caranya, walau sebenarnya rasa penasaran juga menghinggapi fikiranya.

__ADS_1


Beda dengan Rany, walau dia diam ada rasa debar-debar tak biasa dalam dadanya, menyaksikan pertengkaran antara, Arka Tama dan Alvian.


.


.


.


"Ayo berdirilah!" Alvian mengulurkan kedua tanganya, kanan ke Arka, kiri ke Tama.


Hal itu sontak saja membuat Arka dan Tama menatap Alvian heran.


"Sebenarnya aku bisa saja menghabisi kalian berdua. Tapi sayangnya rasa cintaku kepada kalian lebih besar dari rasa kesalku," Tegas alvian yang membuat keduanya semakin penasaran.


"Al. Apa maksudmu, kenapa sikapku aneh begitu, sebenarnya kau kenapa? apa yang kau rencanakan?" Arka.


"Yang kenapa itu kalian, bukan aku. Harusnya aku menghajar kau berdua tanpa ampun." Alvian.


"Hiihhh. Apa maksudmu? jelaskan, dan jangan membuat aku semakin heran!" Tama.


Alvian diam sejenak, menarik nafas panjang lalu membungnya perlahan. Dia menatap Arka dan Tama dengan senyuman, namun sorot mata itu teramat tajam membuat Arka dan Tama terdiam dengan sikap Alvian yang mencurigakan.


"Sebenarnya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk tak menyakitimu lagi," Ucap Alvian dengan tatapan sedih, seraya menepuk bahu Arka.


Kini tatapan itu beralih ke arah Tama.


Arka dan Tama hanya diam saja, mendengarkan Alvian meluapkan kekesalanya.


"Aku tak marah padamu, karna kau tak pernah tau, rahasia paman mudamu itu," ucap Alvian kepada Arka namun tatapan matanya mengarah ke Tama.


"Dan kau Tama. Aku harus berkata apa padamu, dengan sikapmu yang menurutku keterlaluan itu. Apa aku harus menyebutmu anak durhaka?" Tegas Alvian membuat Tama terdiam dan semakin diam.


Kini tatapan tajam Arka menghujam ke arah Tama. "Tama," nama itu Arka sebut dengan tetesan air mata.


"Marahlah, jika kalian akan marah! Akan ku terima," ucap Tama nada bicaranya sedikit melemah.


"Sudahlah! Di sini tak ada yang salah," sang Bunda mulai angkat bicara.


"Bunda, maafkan aku!" Pinta Tama seraya berlalu lalu memeluk sang Bunda.


Wanita paruh baya itu menyambut pelukan Tama dengan deraian air mata bahagia, karna setelah sekian lamanya, Tama belum pernah memeluknya seerat ini lagi.


"Kau tak salah, masa lalu bundalah yang membuatmu menjauh. Bunda juga minta maaf padamu, ya! Karna yang kau lakukan adalah sebagai balas budimu terhadap ayah kandung Arka, sebab dialah yang membuatmu masih tetap bernyawa dan dialah yang menyekolahknmu sampai sarjana, dan dia rela membagi hartanya dengan bunda, walau dia tau karna bundalah Ayah kandung Arka kehilangan ibunya.


Hening semua hening tak ada yang bersuara, kecuali Alvian menatap mereka dengan penuh senyuman.


"Apa kau masih mau menghajarku? atau menghakimi Rany?" Tanya Alvian yang di sambut pelukan secara bersamaan antara Arka dan Tama.


"Terima kasih," ucap keduanya yang masih erat memeluk tubuh Alvian.

__ADS_1


"Ya. Ya, aku sudah memaafkan kalian. Jangan egois lagi ya! Lepaskan pelukan kalian, apa kalian tak malu dengan para bidadari kalian itu, karna kita berpelulan ala telletubies," canda Alvian hingga membuat suasana mencair seketika.


Ya setelah debat dan adu mulut yang cukup menguras tenaga akhirnya mereka berbaikan juga.


"Syukurlah," ucap Rany yang napak bahagia dengan apa yang di lihatnya kini.


Begitu juga Ranty dan Nayla terpancar senyum bahagia dari raut wajah mereka.


Masalah di balik masalah kini terselesaikan hanya karna keegoisan membuat mereka saling berselisihan, namun kini merka sudah saling memaafkan, karna sejatinya mereka semua sama-sama salah.(YANG BENER OTORNYA😁).


Rany mendekati sang bunda(Emaknya Tama), lalu mencium tanganya, "Maaf ya, Bun! Karna selama ini aku tak jujur kepadamu," ucapnya.


"Tidak, Rany. Justru bunda yang berterima kasih padamu, karna telah merawatku," jawab wanita paruh baya itu.


"Eemmmm. Aku mau__!" Cetus Ranty Yoona tiba-tiba.


"Mau apa?" tanya Tama heran.


"Pengen di peluk calon mertua," ucap Ranty di sertai tawa.


"Kemarilah! Ayo berpelukan. Karna kau juga nanti akan menjadi anaku juga," seru sang bunda membuat Ranty langsung mendekatinya.


Nayla diam saja, melihat pemandangan yang membahagiakan yang kini ada di hadapanya.


"Apa kau juga butuh di peluk?" Arka membisikan kata-kata di telinga Istrinya.


"Ahh. Lebay!" Balas Nayla


Namun Arka tak perduli, iya melingkarkan tanganya di pinggang Nayla, lalu mencium leher Istrinya dengan mesra. Apa yang di lakukan Arka membuat Alvian dan Tama mengelengkan kepalanya.


"Ciih. Gila!" Upat Tama.


"Dasar, gak ada ahlak," cetus Alvian dengan nada kesalnya.


Melihat expresi tak bisa dari keduanya, membuat sifat gesrek Arka kian membahan.


"Pengen, ya? mangkanya cepetan nikah!" Ejek Arka dengan senyum menghina.


"Sialan___!" Cetus Tama dan Alvian bersamaan.



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷.


Yuk mampir juga di karyaku yang satunya.


Di jamin lebih ngakak parah πŸ˜πŸ˜πŸ˜ƒπŸ˜ƒ.


__ADS_1


__ADS_2