
MAAF BUAT PARA AUTHOR TERCINTA.
BUKAN AKU GAK BALAS KOMENTAR PANJANG LEBAR KALIAN SEMUA. TAPI BEBERAPA HARI INI, AKUNKU BERMASALAH. JADI KOMENTARKU, GAK BISA KELIHATAN DI LAPAK ANDA πππ. PADAHAL AKU UDAH GIBAH KARYA ANDA FULL BABπ. TAPI INI AKUN UDAH BAIK LAGI. SEMOGA GIBAHKU DI KARYA ANDA-ANDA GAK HILANG YAβ€β€
πππππππππππππ
β€Selamat Membacaβ€
"Aaaaaa__!" pekik seseorang menggema.
Begitu pun dengan Arka, dirinya merasakan keterkejutan yang sama, tak kala kehadiran Ranty Yoona yang kini ada di hadapanya.
HAAAT
Secepat kilat Arka segera menutup, Sosisnya yang hanya di balut celana pendek, tipis pula. Dengan kedua tanganya.
Begitu pun Ranty, dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang baru saja dilihatnya kini. Ya. Benar saja, Ranty merasa matanya sudah ternoda, akibat ulah Arka yang takbiasa.
Beraninya keluar dari kamar, hanya menggunakan celana pendek berwarna merah merona, tipis pula.
"Apa yang kau lakukan di sini? Astaga! Sosisku malu karna tatapan tajamu itu," Omel Arka kesal. Padahal dia yang terlalu malu, karna Ranty mendapatinya dengan bertelanjang dada, bahkan banyak tatonya.
"Ada apa?" tanya Nayla tiba-tiba, yang cukup terkejut juga mendengar teriakan Ranty Yoona yang suaranya hampir memenuhi seluruh Ruangan Rumah Arka.
"Astaga. Arka___!" Nayla segera mendekati Suaminya lalu mencubit telinganya
"Awww! Sakit tau," Cetus Arka.
"Ayo masuk kamar,"
"Baiklah.
Kini keduanya kembali masuk kedalam kamarnya, setelah Nayla mempersilahkan Ranty masuk kedalam Rumah, untuk menemui Tama.
.
_______________
"Haay. Cantik, selamat siang?" sapa Tama dengan senyuman beribu makna. Tampak binar-binar bahagia terpancar dari wajahnya.
"Aku mau memberikan ini padamu!" Ranty menyerahkan sesuatu kepada Tama.
"Apaaaaa?" Tama melotot dengan apa yang kini ada di tanganya. "Ini apa maksudnya?"
"Itu undangan sudah aku cetak, bahkan aku sudah menentukan tanggalnya," ucap Ranty datar saja.
"Kamu nentuin tanggal. Pernikahan, tanpa persetujuanku," ucap Tama semakin kesal.
"Habis kau lama sekali, tak ada kepastian," Tegas Ranty dengan nada kesalnya
"Ngebet banget sih, Yank," goda Tama
"Habisnya, kamu tak jelas," jawab Ranty. "Oh ya. Tama tapi di dalam undangan itu belum tertera nama Orang Tuamu," tegas Ranty lagi.
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Tama berubah seketika, yang tadi terlihat senyum sumringah namun tiba-tiba menjadi diam seribu bahasa. Hal itu tentu saja membuat Ranty merasa curiga.
__ADS_1
"Ada apa dengan, Tama?" batin Ranty Yoona.
Keduanya masih saja diam, melihat ada yang tak biasa dari exspresi Kekasihnya, membuat Ranty benrtanya-tanya, namun entah mengapa Ranty tak berani bertanya langsung dengan Tama.
HENING.
Suasana terasa sangat hening. Hingga datanglah Arka dan Nayla yang menghampiri keduanya, merubah suasa hening menjadi sedikit berubah.
"Ada apa, kenapa kalian diam saja?" Arka heran melihat ruat tak biasa dari wajah sahabatnya.
Nayla pun menatap wajah Ranty yang nampak sedih.
"Kenapa kalian. Bertengkar, kah?"
"Tidak," Ranty menjawab dengan nada datarnya.
"Lalu kenapa kalian berdua saling diam tanpa kata?"
Ranty pun mengatakan semanya kepada Nayla. Tentang keinginanya mencari tahu nama Sang Calon mertua.
Mendengar penjelasan Ranty, membuat Arka dan Nayla cukup curiga.
"Apa yang kau sembunyikan, Tama?" sorot mata tak biasa terpancar dari kedua bola mata Arka. Tatapan itu bagai menghujam tepat di dada Tama. "Selama aku mengenalmu hampir 10 tahun lamanya, aku juga belum mengenal siapa kedua orang taumu," Ucapan Arka membuat lidah Tama terasa kelu.
Secepat kilat Tama beranjak dari duduknya dan melangkah, kan kakinya untuk meninggalkan ketiganya. Namun secepat kilat juga, Arka menghentikan langkah Tama.
"Apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini? tatapan Arka semakin tajam saja.
Diam, lagi- lagi Tama hanya diam.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku? Aku jadi ingat tentang foto yang ku lihat beberapa waktu lalu. Sebenarnya ada rahasia apa, Tama. Kenapa kau hanya diam saja?" Arka mulai menunjukan jiwa pemarahnya.
BUG.
Arka memukul perut Tama, hingga membuat Ranty dan Nayla terkejut karnaya. Sementara Tama masih dia saja, bahkan dia tak mempunyi niat untuk membalas pukulan Arka.
"Tama. Kau benar-benar membuatku marah!" Emosi Arka yang semakin membahana. Rasa kesal terhadap Tama semakin meronta.
"Tenang dulu, Arka. Jangan selalu emosi begini! Marah tak akan menyelesaikan masalah, biarkan dulu Tama berfikir, beri dia waktu untuk menjelaskan semua padamu, di sini bukan hanya dirimu yang membutuhkan jawaban itu. Tapi Ranty lebih membutuhknya, karna dia yang sebentar lagi akan menjadi Istri Tama, maka seharusnya tak ada rahasia yang harus di sembunyikan, Tama darinya." Tegas Nayla seraya meneluk pundak suaminya lalu menatap ke arah Tama dan juga Ranty Yoona.
"Tapi aku lebih penasaran, Nay." ucap Arka.
"Kenapa?"
"Foto itu?"
"Foto apa? kau belum menceritkanya padaku,"
"Beberapa waktu lalu (___)!" Arka pun menceritakan semuanya kepada Nayla, tentang foto yang di lihatnya.
Mendengar penjelasan Arka, Nayla sedikit mengernyitkan wajah cantiknya. Kini tatapanya justru semakin tajam mengarah ke Tama.
Tama pun merasa semakin terpojok dengan tatapan tajam Nayla, begitu pun saat dirinya memandang Arka, tampak emosi Arka yang kian meronta-ronta.
Ranty sendiri semakin tak mengerti, dengan apa yang ada di hadapanya kini. Rahasia apa yang di sembunyikan Tama, benar-benar membuat mereka semakin penasaran saja.
"Heeeeemz!" Tama menarik nafas panjang lalu membuang perlahan. Sepertinya dia mulai ingin bercerita.
__ADS_1
"Katakan saja, Tama. Jangan kau sembunyikan apa pun dari kami! Karna sekarang kita sudah bagai keluarga, masalahmu juga masalah kami, apa pun yang akan kau ceritakan nanti, aku akan menerimanya dengan bijaksana." ucap Arka merayu Tama, agar sahabatnya itu mau menceritakan rahasia atau pun masalahnya.
"Janji?"
"Janji.
"Kau tak akan marah padaku,"
"Iya. Percayalah.
"Kau tak akan membenciku?
"Heeemmzz.
"Kau tak akan menjauhiku?"
"Iya. Tamaaa...
"Aku tak percaya.
"Tamaaaaa_____!"
"Baiklah. Baiklah. Tapi aku mohon, redam dulu emosimu itu!" Seru Tama.
"Heeemmmmm. Haaaaaaah." Arka menarik nafas lalu membuang pelan. "Ayo katakanlah!"
"Prihal foto yang kau lihat itu," Tama menundukan wajahnya suaranya tertahan dan semakin melemah.
"Apa kau menangis?" Arka melihat buliran air mata di wajah sahabatnya. "Tama. Ada apa? ayo katakan saja!" pinta Arka mencoba menepiskan emosinya.
"Aku akan mengajak mu bertemu, ibuku," ucap Tama terdengar kelu.
"Haaahh. Ibumu?"
"Iya..
"Ada hubungan apa antara foto itu dengan ibumu?"
"Nanti juga kau akan mengetahuinya," Tegas Tama.
"Baiklah," Arka menyetujuhi permintaan Tama.
Ya. Foto yang di lihat Arka waktu itu adalah foto masa lalu, dimana di dalam foto itu terdapat foto Tama kecil bersama Ayah kandung Arka. Hal itulah yang membuat Arka penasaaran luar biasa.
"Ada hubungan apa, antara Tama dan Sang Ayah?"
NAH LOE π€π€π€π€π€π€π€.
π±ππ±ππ±ππ±ππ±ππ±ππ±ππ±
Mohon tinggalkan jejak anda ya β€.
Yuk mampir juga di karya baruku.
Dan mampir juga di karya Author kece lainya.
__ADS_1