Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Luka Dan Duka (Hilangnya MALAIKAT kecil Arka)


__ADS_3

HANYA ADA SATU KAMUS


DALAM HIDUPKU.


SEMANGAT (From Arka).



πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Kauu_____!" Pekik Arka menggema, saat mendapati Alvian tengah membopong Istrinya.


Alvian membopong Nayla dalam keadaan tak berdaya. Sepertinya terjadi sesuatu kepada Istri Arka itu.


Tanpa fikir panjang, Arka dengan sigapnya mengambil Nayla, dari dekapan Alvian. Namun entah mengapa Alvian justru menendang kaki Arka, dirinya bagai tak rela, Arka menyentuh Istrinya.


"Dari mana saja dirimu. Apa saja kerjamu. Sampai kau tak tau keadaan Istrimu?" Alvian bertanya, seakan Arka sepenuhnya bersalah atas apa yang terjadi kepada Nayla.


Dengan langkah cepatnya, Alvian membawa Nayla masuk kedalam mobilnya dan membawa Nayla ke Rumah Sakit.


Arka yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, dengan cepat pula mengikuti mobil Alvian, dan di ikuti pula oleh Tama.


Ribuan pertanyaan kini memenuhi fikiran Arka. Dirinya seperti menangkap sinyal tak baik dari kelakuan Alvian. Tapi apa? entahlah. Hanya waktulah yang akan menjawabnya.


__________________


Sesampainya di Rumah Sakit, Nayla langsung masuk ke Ruangan Instalasi gawat darurat. Untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Dengan rasa kesal dan penasaranya, Arka menghampiri Alvin dan mendaratkan sebuah tamparan.


"Hey. Apa yang kau lakukan?" tanya Alvian heran karna Arka memberinya serangan sebuah tamparan.


"Cih. Jangan pura-pura polos kau, ya! Aku mencium aroma busuk dari hatimu." Ucap Arka seraya menatap tajam wajah Alvian.


Tatapan Arka itu, persis seperti Singa yang siap menyantap mangsanya. Hingga membuat Alvian tak mampu membalas tatapanya.


Terpancar jutaan amarah dalam diri Arka, hingga membuat Alvin memilih untuk menjauhinya. Namun Arka seperti tak mau membiarkan Alvian pergi begitu saja, tanpa basa basi Arka mengejar lalu menghajarnya.


"Apa yang kau lakukan pada, Nayla?" Arka bertanya seraya memenggang erat tangan Alvin. Agar Lelaki itu tak menjauh dan menghindari pertanyaanya.



Alvian hanya diam saja, dirinya tak bergeming dengan pertanyaan Arka kepadanya.


"Sialan__! Apa kau akan membunuh Istriku setelah kau biarkan, Aryan meninggalkanku? apa ini caramu untuk menghancurkan hidupku?" emosi Arka yang mulai membara.


"Arka. Tenanglah, aku mohon. Lihatlah! Semua mata tengah menatapmu. Tahan emosimu, jangan tunjuan bakat marahmu di depan banyak orang!" seru Tama berbisik pelan di telinga Arka


Tanpa fikir panjang Arka melepaskan Alvian, dan Laki-laki itu segera pergi menjauh.


Arka hanya mampu diam dan menatap langkah Alvian yang semakin hilang dari pandanganya.


"Jika memang dia yang membuat Nayla terluka, aku akan menghabisinya walau dia berlari sampai ke ujung Dunia," celoteh Arka.


Tama menepuk bahu Arka, pertanda menguatkanya, seraya mengukir senyum tipis di wajahnya.


"Hentikan senyumu! Apa kau juga akan menyakitiku, dengan senyumu yang lebih manis dari senyumku?"


"Maksudmu?" Tama pura-pura tidak tau.


"Haah. Sialan kau Tama. Aku sudah berkali-kali mengingatkan padamu, aku tak suka senyumu itu, karna senyum menawanmu itu membuat sakit hatiku.


"Hahahahahaha." Tama tertawa pertanda telah sedikit baiknya suasana hati Arka.



-------------


Ceklek


Seseorang membuka pintu, dari Ruangan di mana Nayla di rawat.


"Pak Arka." Panggilnya ramah


"Iya.


"Kita perlu bicara!"

__ADS_1


"Baiklah.


Arka mengikuti langkah sang Dokter, begitu pun Tama, yang juga setia mengikuti langkah Arka. Tama yakin, Arka tak akan mampu menahan emosinya, jika terjadi sesuatu pada Nayla.


"Hemm." Dokter itu menarik nafas panjangnya.


"Ada apa?" Tanya Arka heran


"Apa Istrimu sedang Hamil?"


"Benar..


"Haaaah!" lagi-lagi Dokter itu menghela nafasnya


"Dokter. Ada apa, katakan saja!" Arka coba menahan emosinya.


"Baiklah, Pak Arka. Dengan berat hati dan duka yang teramat sedih. Saya harus mengatakan bahwa Istri anda mengalami Keguguran. Sepertinya, Istri anda jatuh atau terkena benturan, sebab banyak bercak darah, menempel di baju Istri anda!" Dokter itu menjelaskan.


.


.


.


Blam Balm Blam.


Arka kian tengelam dalam sebuah kisah hidup yang amat kelam. Tanpa permisi Arka, meninggalkan Ruangan Dokter itu. Tak ada satu kata pun di ucapkan Arka, hati yang teramat luka tak mampu di ucapkan oleh kata-kata.


"Maafkan, sikap Sahabatku!" ucap Tama kepada Dokter itu. Si Dokter hanya membalas dengan senyuman, dia cukup tau apa yang kini tengah Arka rasakan


😒😒😒


_______________


Arka memasuki ruangan dimana Nayla berada, di tatapnya tubuh Istrinya yang masih tak berdaya. Arka serasa tak percaya dengan semua musibah yang selalu menimpanya.


"Apa salahku, hingga semua rasa sakit tak henti menimpaku?" Arka mengeluh.


Aliran darah di kepalanya mulai bergejolak, mengaduk sedikit demi sedikit, perasaan kecewa terhadap kehidupan yang terasa tidak adil bagi dirinya. Mendadak saja Arka mengingat semua kenangan yang menyesakan dadanya.


Belum lagi, linangan air mata yang waktu itu hampir setiap hari membasahi wajahnya. Dimana saat sang Adik tercinta, meninggalkanya untuk selamanya. Dan kini dia harus merasakan kembali luka, dimana Arka harus kehilangan Malaikat kecil yang sangat di harapkanya.


Arka mengepalkan kedua tanganya. Emosi dalam dirinya semakin meronta, dirinya tak mampu berdiam diri saja. Sepertinya menghajar Alvian agar mengakui perbuatan jahatnya. Adalah hal terbesar yang saat ini memenuhi benak Arka.


.


.


.


"Aku tak bisa begini saja!" gumam Arka seraya beranjak dari duduknya.


Arka melangkahkan dengan penuh amarah yang membenam full dalam perasaanya.


.


.


"Kau mau kemana. Apa kau akan menghajarnya? tenanglah Arka! Aku akan membantumu menghajar Laki-laki itu, tapi tolong. Saat ini kendalikan emosimu dulu, fikirkanlah Istrimu. Kau harus menguatkanya. saat dia membuka mata. Karna dia akan jauh lebih terluka saat mengetahui Malikat Kecil kalian tak lagi berada dalam Rahimnya." Jelas Tama, yang membuat emosi Arka sedikit mereda.


Arka diam saja dengan semua Nasihat Tama untuknya. Dirinya kembali duduk di sisi Nayla. Sementara Tama berpamitan pulang, untuk memantau keadaan Rumah.


_________________


Arka masih setia di samping Nayla, di genggamnya tangan Nayla yang masih memejamkan mata.


"Aku memang Laki-laki. Tapi tak ada yang salah jika aku tak mampu menahan air mata," ucap Arka lirih. Seraya mencium lembut kening Nayla.



Tak selang berapa lama, Arka terlelap dalam tidurnya, rasa lelah benar-benar menyerang dirinya.


Kring


Kring


Kring

__ADS_1


Ponsel Arka berdering.


Dengan rasa kantuk yang masih menyerangnya. Namun Arka tetap meraih Ponselnya dan mengangkat panggilan Telponya.


"Hallo." Sapa Arka dengan nada malasnya.


"Arka. Sepertinya aku tau, penyebab Nayla terjatuh," ucap Tama dari sambungan Ponselnya.


"Siapa?"


Tama menjelaskan semua kepada Arka, tentang apa yang terjadi di rumahnya, saat Arka dan Tama tak ada. Mendengar semua penjelasan Tama, membuat Arka semakin berada dalam puncak kebencianya.


.


.


"Simpan CCTVnya. Aku akan memasukanya kedalam Penjara!" seru Arka


"Baiklah," jawab Tama lalu mematikan sambungan Ponselnya.


"Ya Tuhan. Jadi dia penyebab, Nayla keguguran," ucap Arka dengan refleknya.


"KEGUGURAN__! Aku keguguran?" suara itu jelas terdengar di telinga Arka.


"Nay." Arka tak percaya saat mendapati Nayla sudah membuka matanya.


"Jelaskan padaku! Siapa Pembunuh calon Anaku itu?"


"Nay. Sejak kapan kau membuka mata?" Arka jastru balik bertanya.


"Jangan berkilah, Arka!"


"Haaaah!" Arka menarik nafas panjangnya.


"Jelaskan padaku!"


Arka mendekati Nayla lalu mengelus rambut lurus Istrinya, menghapus Air mata di wajah cantik Nayla memberi senyum manis dengan sejuta luka.


"Kuatkan hatimu. Saat aku menyebutkan Namanya!" Seru Arka.


"Baiklah." Jawab Nayla


Arka pun membisikan satu Nama, yang membuat Nayla tak mampu membendung air matanya. Rasanya dia tak perlu percaya dengan semua penjelasan Arka.


"Sayang. CCTV Rumah kita, akan menjawab semuanya!" tegas Arka.


.


.


Blaaarr.


Nayla merasa tubuhnya bergetar, dirinya semakin lunglai. Mukanya semakin pucat. Sakit dan luka hatinya seakan membabi buta. Rasa kecewa dan penuh amarah menenggelamkan rasa percayanya.


"Jangan menangis! Air matamu kelemahanku." Bisik Arka di telinga Istrinya.



πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


❀**KETAHUILAH. BAWHA YANG BAIK TAK SELALU RAMAH. BAHWA YANG LUKA TAK SELALU TAMPAK AIR MATA. BAHWA YANG BAIK-BAIK SAJA BELUM TENTU TAK ADA APA-APA. KARNA ADA SEBAGIAN MANUSIA YANG LEBIH MELILIH TETAP TERTAWA DIDALAM DUKA.(DEH NGOMONG APA YA).


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


❀JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA!


πŸ€Like πŸ€


πŸ€Koment πŸ€


πŸ€Rate πŸ€


πŸ€Vote πŸ€


❀Mari saling mendukung❀


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€**

__ADS_1


__ADS_2