
Ketika aku ingin menguasai isi hatimu
Aku seakan kehilangan pengendalianku
Baru ku sadari setelah ku gagal kini
Ternyata aku lemah di matamu
Dan kosong penilaianmu.
(Arka)
"Haah...!" Gumam Arka dengan menghempaskan tubuhnya.
"Ada apa denganmu?" Nayla heran dengan apa yang Arka lakukan.
"Aku bosan. Aku ingin pulang!" Ucap Arka dengan kembali mendudukan tubuhnya.
.
.
Selamat pagi, Pak Arka?" Ucap seorang Dokter yang tiba-tiba memasuki ruangan Arka dan membuat percakapan keduanya terhenti seketika
"Pagi Dok. Kebetulan anda datang," cetus Arka dengan mengukir senyum indah di wajahnya
"Ada apa, Pak Arka? Apa ada yang ingin anda bicarakan?" Tanya Dokter itu yang melihat ke gundahan pada diri Arka.
"Aku ingin pulang. Apa anda bisa mengurusnya? Aku sudah sangat bosan hampir satu Minggu berada di sini!" Pinta Arka tanpa basa basi.
"Maaf Pak Arka, tapi luka benturan di kepala anda cukup parah jadi saya rasa anda lebih baik di sini saja!
"Aku bisa benar-benar mati jika lama-lama di sini!" Omel Arka dengan melempar bantal ke arah Nayla.
Melihat tingkah Arka yang cukup membuat sang Dokter geleng-geleng kepala.
Akhirnya tanpa fikir panjang sang Dokter mengijinkanya di rawat di rumah saja.
Dengan catatan harus melaporkan kondisinya setiap jam dalam kurun waktu 3 kali 24 jam.
Dan Arka pun menyanggupi tanpa menawar lagi.
Karna yang terpenting baginya saat ini
Segera keluar dari rungan yang sangat membuatnya bosan.
________________
Hari menjelang malam, Nayla masih sibuk dengan semua urusan Arka.
Laki-laki itu meminta Nayla untuk tetap bersamanya.
Tama pun ikut menyibukan dirinya di dalam kamar pribadi Arka.
Sepertinya apa yang di lakukan Tama di kamarnya sangat mengusik fikiran Arka.
"Kenpa dia masih di sini?" Tanya Arka pada dirinya sendiri
"Apa masih ada yang kau butuhkan? Jika tidak aku ingin beristirahat!" Pinta Nayla dengan mentap wajah Arka lekat
.
.
"Tama..!" Teriak Arka yang membuat Tama menghentikan semua aktifitasnya
"Ada apa?" Tama menatap Arka dengan seksama.
"Apa kau bisa tinggalkan aku berdua saja dengan, Nayla!" Pintanya
"Apa tidak bisakah? Kau berbicara denganya di hadapanku saja!"
"Aku ingin menciumnya. Apa kau ingin menyaksikanya? Jika iya, tetaplah di sini!" Cetus Arka dengan menggigit ujung bibirnya yang membuat Tama cukup geli dengan apa yang di lihatnya.
"Cihh. Dasar gila!" Tama keluar dengan menendang pintu kamar Arka. Hal itu tentu saja membuat Arka tertawa penuh makna
.
.
__ADS_1
"Ehh. Kau mau kemana?" Arka menarik tangan Nayla yang berusaha pergi dari hadapanya.
"A-aku ingin keluar sebentar," jawab Nayla dengan nada gemetar
"Apa yang kau butuhkan?" Tanya Arka dengan penuh senyuman melihat Nayla yang cukup gemetaran
"A-aku ingin buang air kecil sebentar," Nayla berusaha mencari cara agar keluar dari kamar Arka
"Ahh.Kau alasan saja! Aku rasa lubang Wc di kamarku masih cukup untuk menampung air kecilmu itu! Hanya air kecilkan?" Ucap Arka yang membuat Nayla memasamkan exsprsi wajahnya.
.
.
"Kau mau apa Arka?" Nayla heran Arka semakin mendekatinya.
"Apa kau tidak mendengarkan, apa yang ku ucapkan pada Tama tadi?" Arka semakin mendekati Nayla
"Apa kau ingin menciumku?"
"Ya. Bolehkah aku melakukanya?"
"Arka, kau boleh melakukan apa saja, nanti setelah kita menikah."
"Lama..
"Hahh...
Arka kian mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Nayla, hingga wanita itu semakin tak berdaya karenanya.
Jantung dan Hati Nayla berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Izinkan aku mengecupnya sekali saja! Pinta Arka yang Nafasnya terasa hangat memenuhi wajah Nayla
"Sekali saja?"
"Iya..
"Baiklah..." Nayla memejamkan matanya dan menunggu Aksi Arka yang pasti akan membuatnya salah tingkah
Arka memandangi wajah Nayla yang kini berada di hadapanya.
Di tiupnya wajah Nayla yang saat ini tengah menutup mata.
"Kau benar-benar sempurna." Bisik Arka
"Jangan banyak bicara, lakukanlah! seru Nayla
"Kau benar-benar menantangku ya!
"Cepatlah...! Agar aku cepat berlalu dari hadapanmu," batin Nayla.
Arka justru menarik tangan Nayla dan mendudukanya di sebuah kursi yang tak jauh dari ranjangnya.
Hal itu semakin membuat Nayla semakin salah tingkah.
"Ini ciuman terakhirku dengan statusmu yang masih calon Istriku. Karna jika nanti aku sudah menjadi Suamimu. Aku akan menciumu setiap waktu, di mana pun kapan pun sesukaku!
Arka pun benar-benar melesatkan satu kecupan dan benar hanya satu kecupan. Tidak kurang tidak juga lebih. Hanya satu kali saja.
"Cukup. Bukalah matamu!" Seru Arka
Nayla memandangi wajah Arka yang tersenyum cukup manis ke arahnya
Satu kali kecupan membuat ribuan debaran di dada Nayla.
Satu kali kecupan yang membuat Nayla cukup gemetaran karenanya.
Satu kali kecupan yang membuat Arka sangat bahagia.
_______________
Nayla menjatukan tubuhnya di tempat tidur miliknya. Masih di ingat satu kecupan yang Arka daratkan membuat Nayla cukup bahagia.
"Ah. kenapa aku justru semakin mengingatnya! Dia benar-benar membuatku gila!" Batin Nayla
Sementara dari kejauhan, Ayah Nayla memperhatikan tinggkah anaknya yang semakin hari semakin berubah di rasakanya.
"Laki-laki sialan itu. Benar-benar telah merusak anaku. Dia bahkan lebih pintar dari yang kukira. Dulu aku mati-matian untuk memisahkanya, tapi kini cara Arka untuk mendapatkan Nayla justru akan membuat aku benar-banar mati berdiri karnanya!" Celoteh Ayah Nayla.
__ADS_1
________________
Ting-Tung
Suara bel berbunyi di rumah Arka.
.
.
"Tama, tolong buka pintunya!" Seru Arka
"Biar aku saja," jawab Aryan tiba-tiba dan segera beranjak dari tempat duduknya.
Kreek
Aryan membuka pintunya
"Hem." Suara seseorang dari balik pintu itu.
"Kakak___!" Pekik Aryan yang membuat Arka terkejut mendengarnya
"Kau...." Arka menatap tajam ke arah Laki-laki yang ada di hadapanya kini.
"Apa kabar, Aryan? Apa kau tak merindukanku?" Tanya Alvian tanpa ragu
"Kakak." Sapa Aryan dengan mata berkaca-kaca
"Jangan dekati dia!" Arka menarik tangan Aryan agar menjauhi Alvian.
"Arka Arka. Apa aku salah jika ingin berjumpa dengan Aryan, dia juga Adiku kan?" Ucap Alvian. "Bolehkah aku masuk?"
"Masuklah, Kak!" Seru Aryan yang sebenarnya memang merindukan Alvian.
"Ehh. Enak saja!" Cetus Arka.
"Kak, beri aku waktu untuk berbicara denganya!" Pinta Aryan dengan menatap wajah Arka
"Baiklah, tidak lebih dari 30 menit saja!" Jawab Arka
Aryan mengajak Alvian masuk kedalam kamarnya.
Tanpa fikir panjang Alvian mengikuti langkah Adiknya.
"Kau tenang saja. Aku tak mungkin membunuhnya!" Bisik Alvian di telinga Arka yang membuat hati Arka cukup panas di buatnya.
.
.
"Aryan, apa kabarmu?" Alvian menatap wajah Adiknya yang tampak sayu
"Aku baik-baik saja, Kak Arka menjagaku dengan sempurna!"
"Benarkah?"
"Iya. Bolehkah aku bertanya?" Pinta Aryan seraya menatap tajam wajah Alvian.
"Apa?" Alvian cukup peasaran
"Apa aku juga terget orang yang akan kau bunuh?" Pertanyaan Aryan membuat Alvian binggung tak karuan. "Jangan pernah menyentuh Kak Arka! apa lagi sampai kau membunuhnya.
Alvian menatap tajam wajah Aryan yang bertanya dengan Expresi wajah datarnya Tanpa sedikit pun amarah, membuat Alvian cukup heran dan sangat penasaran.
"Astaga. Aku baru sadar Anak kecil ini kini sudah tumbuh Dewasa!" Batin Alvian
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
**Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😉
Like + Koment + Rate + Vote seihklasnya.
Terima kasih sudah selalu hadir dan mendukung karyaku ya.
Semoga selalu betah dan selalu mampir di tulisan Amatiran saya.
Salam hangat dan salam sahabat buat semua.
__ADS_1
Terima Kasih, mari saling mendukung 💖**.