
ANDA BACA KARYA SAYA
SAYA BACA KARYA ANDA
ADA PROMO DI KARYA SAYA
SAYA JUGA PROMO DI KARYA ANDA.
ANDA KOMENT LANJUT DI KARYA SAYA
SAYA PUN AKAN BEGITU DI KARYA ANDA
INTINYA : SAYA IKUTI CARA ANDA β€π€
Ini karya baruku gaes siap luncurβ€
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
Malam ini suasana memang terasa cukup berbeda di kediaman Arka. Ada binar-binar bahagia di wajah Arka, dan ada debar-debar penasaran di wajah Tama serta Alvian.
Ya dua Lelaki tampan itu, kini sudah berada di meja makan bersama Arka. Tapi sayang para Bidadari meraka belum menampakan batang hidungnya.
Ting Tung
Seseorang memencet bel di pintu Rumah Arka.
Tanpa fikir panjang Tama langsung membukanya.
Sssttthhh.
Wajah Tama merah merona, kala mendapati Ranty Yoona yang berada di hadapanya.
"Selamat malam, Tama," sapa Ranty ramah.
"Ma-malam," jawab Tama terbata-bata
"Kau di undang juga?" tanya Tama curiga.
"Iya. Istri Pak Arka yang mengundangku," Jelas Ranty tanpa ragu. "Aku gak di suruh masuk nih?" tanya Ranty lagi.
"Ehh, iya lupa. Maaf." Tama benar-benar gugup di buatnya.
"Tak apa Tama, maafmu selalu ku terima," balas Ranty di sertai senyum tipis di wajahnya. Hal itu tentu saja membuat Tama semakin salah tingkah di buatnya.
Tama segera mengajak Ranty ke ruang keluarga, dimana di sana sudah ada, Alvian dan Arka. Ranty menyapa keduanya dengan ramah, dan mengukir senyum sejuta makna di wajahnya.
"Calon Istrimu?" tanya Alvian.
"Entahlah," Tama menjawab sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal di rasakanya.
"Kenalkan. Namaku Ranty Yoona, senang bertemu dengan anda," sapa Ranty yang sebenarnya heran dengan kehdiaran Alvian.
Maklum selama ini, yang Ranty tau Alvian Arka dan Tama terlibat perang urat.
"Senang juga bisa di sapa Wanita secantik anda," balas Alvian.
"Hiiiiiihhhh. Sok akrab," cetus Tama kesal
Sontak hal itu membuat Alvian dan Arka tertawa kecil, melihat tingkah Tama yang tak bisa, begitu pun Ranty Yoona, cukup bahagia karna Tama benar-benar cemburu saat Alvian menyapanya.
Tag
Tag
Tag
__ADS_1
Suara langkah kaki, Nayla, yang menuruni anak tangga dengan gaun cantik membalut tubuhnya dan Make Up tipis menghiasi wajahnya. Nayla turun dari tangga itu dengan anggunya, hingga membuat ketiga Pria yang sama-sama pernah menyukainya menatap tajam dirinya.
"Cantik," puji Alvian spontan.
"Istri saya," cetus Arka lalu mengusap wajah Alvian agar mengalihkan pandanganya, supaya tak lagi menatap langkah, Nayla.
"Selamat malam semua," Nayla menyapa dengan suara lembut nan menggoda.
"Merdu," cetus Tama tanpa ragu.
"Tamaaaaaa...!" Ucap Arka dengan sinisnya.
"Huahahaha. Maaf khilaf," balas Tama di sertai tawa.
"Dasar gila." Ranty menepuk bahu Tama
"Maafkan aku cinta, mulutku tak sengaja mengucapkanya," pinta Tama seraya memandangi wajah Ranty Yoona.
"Halah, ada saja jawabanya." cetus Ranty seraya mencubit hidung, Tama.
Ting Tung.
Lagi-lagi bel Rumah Arka berbunyi, kali ini Nayla yang membuka pintu Rumahnya.
"Rany," sapa Nayla seraya memeluk tubuh wanita cantik itu.
"Mbak Nayla." Jawab Rany dengan terus erat memeluk tubuh Istri Arka.
"Mana calon Suamimu?" Tanya Nayla heran karna Rany datang sendirian.
Rany hanya tersenyum, saat Nayla menanyakan dimana calon Suaminya, hal itu tentu saja membuat Nayla cukup heran di buatnya.
Nayla segera membawa Rany ke ruangan di mana disana sudah ada tamu-tamu Arka.
Ck.
"Ran. Kau kesini? bukankan tadi, kau mengatakan padaku, ada pertemuan penting dengan mantan Bosmu?" tanya Alvian heran.
"Al. Kau mengenal, Rany?" tanya Arka.
"Alvian, calon Suamiku, Pak Arka." Tegas Rany.
"Apaaaa______?"Cetus Nayla, Arka dan Tama secara bersama.
"Hadaaahhhhh, Keluarga gila, biasa aja kali ah," hardik Ranty Yoona.
Rany hanya tersenyum mendengar hardikan Ranty untuk ketiga Orang yang terkejut dengan ucapanyan.
"Al. Apa kau lupa, Rany selama ini, kan, memang bekerja denganku," Jelas Arka.
"Aku tau, tapi aku kira, bukan dirimu yang di maksud Rany mantan Bosnya itu," Tegas Alvian.
"Aku terkejut. Bagaimana bisa, kalian saling menjalin cinta, dan sejak kapan kau menyukai, Alvian?" Tanya Tama seraya menatap tajam wajah Rany.
"Sejak kapan-kapan, itu bukan urusanmu, ini tentang hatiku, bukan hatimu," jelas Rany tanpa basa-basi. "Aku benar-benar bahagia, saat Alvian becerita bahwa dirinya dan Pak Arka sudah saling memaafkan," tambah Rany kemudian.
"I-iya," jawab Arka cukup terbata-bata karna merasa tak percaya dengan apa yang kini di lihatnya.
Maklum selama ini Rany benar-benar tau siapa Alvian itu, dan Rany benar-benar mengerti seperti apa sifat Alvian selama ini. Jadi wajar saja jika Arka, Nayla dan Tama benar-benar terkejut luar biasa.
"Sejak kapan, kalian jadian?" tanya Nayla penasaran.
"Sudah lama, aku menyukai, Alvian, setelah kepergian, Mas Aryan. Waktu itu aku mendapati, Alvian menangis di pemakaman. Saat Mas Arka dan semua orang tak berada lagi di sana, aku mendapai wajah penyesalan di tangis Alvian, aku mendapai seorang Kakak yang benar-benar merasa kehilangan, saat sang Adik sudah tak lagi dapat di lihatnya, sejak saat itu aku mulai tau bahwa apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan. Alvian yang terlihat jahat, ternyata tak seburuk itu." Jelas Rany seraya menggenggam erat tangan Alvian.
"Jadi sejak saat itu kau menyukainya?" Tanya Arka.
"Benar, Pak Arka."
__ADS_1
"Cinta memang indah," ucap Arka. "Aku turut bahagia, karna akhirnya, Alvian bisa melupakan, Nayla," tambahnya.
Suasan Rumah Arka terlihat cukup bahagia, harmonis dan penuh kehangatan, bukan hanya itu, sebenarnya Arka yang sudah menyiapkan kejutan, tapi justru dia yang di kejutkan oleh kisah cinta, Rany dan Alvian.
Arka mempersilahkan semua Tamunya menyantap hidangan yang sudah dirinya siapkan. Seketika suasana menjadi hening, tak ada yang berbicara sampai mereka semua selesai menyantap hidangan makan malam yang sudah tersedia.
_______________
Acara santap malam pun usai, kini mereka sudah saling menyapa dan saling bertutur ramah, kecuali Arka, dia memandangi semua orang yang kini ada di hadapanya dengan perasaan bahagia. Alvian yang menyadari tatapan Arka langsung menghentikan percakapanya dengan Tama.
"Apa yang kau fikirkan?" Alvian heran.
"Tidak," jawab Arka singkat.
"Oh ya, Arka. Sebenarnya ada apa, kau menyuruhku dan Alvian, menemuimu secara bersama?" Tama penasaran.
"Hemmmz...!" Arka menarik nafas panjanganya lalu membuang secara perlahan.
"Apa ada yang kau butuhkan?" Alvian.
"Bukan, tapi ada yang ingin ku jelaskan?" Arka.
Hening suasana kembali hening semua mata tertuju ke Arah, Arka. Mereka semua merasa penasaran dengan apa yang akan Arka katakan.
"Cepatlah!" seru Tama.
"Sabar...!" tegas Arka
Arka beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan, lalu kembali membawa sesatu di tanganya. Hal itu membuat Tama dan Alvian semakin penasaran. Apa yang sebenarnya tengah Arka rencanakan.
"Dengar. Aku___!" Arka menarik nafas lagi sebelum mengatakan apa yang sudah dirinya siapkan.
________________
π±Nah Loe, apaan ya yang mau di bicarakan, Arka? Mari main tebak-tebakan lagi!" ππ.
Sorry kagak panjang ya, jempolku lagi frustasi π₯π₯π₯π₯π₯π₯.
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
πJangan lupa tinggalkan jejak ya.
β€Like
β€Koment
β€Vote
β€Rate
YUK MAMPIR JUGA DI KARYA KEREN OTOR LAINYA.
1
2
3
4
__ADS_1