Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Ada Apa, Bagaimana, Kenapa?


__ADS_3

SAYA TERGANTUNG ANDA.


ANDA BACA. SAYA BACA.


ANDA PROMO. SAYA PUN PROMO.


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱



πŸŽ€Selamat MembacaπŸŽ€


Tama menatap tajam wajah seseorang yang ada di hadapanya kini. Sosok laki-laki yang selama ini sangat membenci Arka. Bahkan laki-laki itu pun merasakan keterkejutan yang sama, atas kehadiran Tama dan juga Arka.


"Kauuu_!" Pekik Tama menggema


"Kalian." Laki-laki itu mendekati Wanita paruh baya lalu menaruh oleh-oleh yang di bawanya di atas meja tak juah dari sisi ranjang bunda si Tama.


"Apa yang anda lakukan disini?" Tama nampak emosi.


"Kau mengenalnya?" tanya sang Bunda sorot matanya tajam ke arah Tama.


"Iya. Nda, dia mertua Arka!" Binar mata Tama semakin nampak emosi saja.


"Sabar, Tama!" Seru Arka dengan gaya sok bijaknya.


Sementara Nayla hanya terdiam sejuta bahasa, tak ada yang mampu di ucapkanya dengan apa yang kini sedang di lihatnya.


Sang bunda masih penasaran mengapa Anaknya membenci laki-laki yang ada di sampingnya kini. Ya karna laki-laki itu adalah Dicky.


"Kenapa kau terlihat begitu membencinya?" Tanya sang bunda semakin curiga


Sebenarnya Tama ingin mengatakan semua tentang Dicky di hadapan sang Bunda namun Arka memberi kode, agar Tama diam saja. Sepertinya Arka belum mengizinkan Tama untuk bercerita.


Dicky tersenyum getir, ada gurat ke khawatiran, nampak jelas di sorot matanya.


Laki-laki itu senyum terpaksa ke arah Tama. Sepertinya lelaki itu sudah mengetahi sejak lama, bahwa wanita yang kini di sampingnya adalah Ibu kandung Tama.


.


.


.


"Hay, Tama! Selamat siang Arka," sapa Dicky sok ramah.


"Apa yang ayah lakukan di sini?" tanya Nayla tanpa basa-basi.


"Aku ingin menjenguknya, dia calon ibumu, Nay," jelas Dicky.


"Haaaaaaaaaaaaaahh...! Semua yang mendengar pengakuan Dicky, semakin menatapnya tak mengerti.


Sebenarnya apa yang tengah di rencanakan Dicky saat ini, hanya Dicky sendiri yang mengetahui.


Suasana semakin sulit untuk di fahami, Tama memilih untuk pergi, Arka yang mengetahui perasaan sang Paman sekali gus Sabahatnya kini, mencoba untuk mengikuti.


Nayla dan Ranty pun keluar dari kamar sang Bunda, membiarkan Dicky dan sang bunda berdua saja. Sejujurnya saat ini ada ribuan pertanyaan di benak wanita paruh baya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa mereka terlihat begitu membenci laki-laki yang ada di hadapanku kini?" tanya sang bunda dalam hati.


Dicky membelai wanita yang ada di hadapanya kini, Dicky faham sekali bahwa wanita itu tengah mempertanyakan tentang dirinya kini di dalam hati.


"Kau tak perlu heran begitu! Aku dan Arka hanya mempunyai masalah kesalah fahaman saja. Karna hal itulah membuat Tama ikut membenciku juga," Dicky coba membohongi.


"Benarkah?"


"Iya." Dicky pun tersenyum penuh arti seraya menatap wajah wanita yang ada di hadapanya.


__________________


Di ruang tamu, Tama masih nampak mengerutu Laki-laki tampan itu mengerutkan wajahnya.


"Bagaimana dia bisa mengenal, Bunda?" cetus Tama tiba-tiba hingga membuat Arka melotot ke arahnya.


"Entahlah. Hanya bundamu yang bisa menjawabnya,"

__ADS_1


"Heeesmz," Tama berdecak kesal.


Melihat tingkah Tama yang tak biasa, mulai membuat Arka resah, jiwa pemarahnya mulai merota-ronta.


"Apa perlu aku menghajarnya?" tanya Arka dengan nada tingginya.


"Ehhh. Gak perlu, jangan habiskan tenagamu hanya untuk menghajar si tua bangka itu," cetus Tama.


"Eeeemmmmz," Suara itu keluar dari mulut Nayla saat Tama menyebut sang Ayah tua bangka.


"Kenapa Nay?"


"Bagaimana pun. Dia tetap orang yang telah membesarkanku," balas Nayla, nada bicaranya sedikit lemah.


"Duh, Nay. Orang seperti dia, masih kau anggap Ayah?" cetus Arka yang membuat Nayla menghentakan kakinya


Melihat sikap Nayla, membuat Arka sepontan menutup mulutnya. "Maaf, Nay! Keceplosan," ucapnya.


Tama pun sedikit merasa bersalah. "Harusnya, aku tak mengupat Dicky di hadapan Nayla," gumam Tama.


Tag


Tag


Tag


Suara langkah seseorang menuruni anak tangga.


"Ayah," Sapa Nayla dengan suara lembutnya.


"Ayah pulang, Nay. Jaga kesehatan!" Pesan Dicky


Nayla hanya menganggukan kepalanya.


"Pulang sana, bila perlu jangan datang lagi kesini!" Sergah Arka membuat Nayla semakin memasamkan wajahnya.


Dicky melenggangkan kakinya dengan santai tanpa perduli hardikan Arka untuknya.


"Tertawalah selagi kau bisa tertawa! Karna esok, akan ku pastikan kalian menangis darah." Ucap Dicky dalam hati lalu melangkahkan kakinya untuk pergi.


Nayla yang masih kesal dengan kata-kata yang di ucapkan Arka dan Tama, hanya mengerutkan wajah cantiknya.


"Ehhh. Kenapa yank?" Tama


"Kalian hanya bisa memikirkan perasaan sendiri!" Omel Ranty.


"Apa maksudmu, yank?"


"Kau fikir saja sendiri!" Cetus Ranty


Omelan Ranty membuat Tama tak mengerti, begitu pun Arka, dia cukup aneh dengan omelan calon Istri Sahabatnya.



"Kenapa, calon binimu?" Tanya Arka menepuk bahu Tama.


"Tau tuh..


"Abis nelen biji salak kayaknya," hardik Arka.


"Hiiiiiih," Tama mengerutkan wajahnya.


Sementara Ranty mengajak Nayla masuk ke kamar sang Bunda, Ranty cukup mengerti apa yang tengah di fikirkan Nayla saat ini.


.


.


"Eh ikutin, yuk!" Ajak Arka seraya menarik tangan Tama.


"Gak usah pake narik juga kali ah!"


Arka tertawa renyah, melihat exspresi tak bisa dari Tama, sabahat sekaligus paman muda πŸ˜‚.


"Aku memang mau ke kamar bunda, karna aku mau tanya, dari mana bunda mengenal ayahnya, Nayla," ucap Tama.


"Iya. Aku juga penasaran," jawab Arka.

__ADS_1


Kini keduanya pun melangkahkan kaki memasuki kamar sang bunda, dimana di kamar itu sudah ada Ranty dan Nayla.


Tama mendekati sang bunda, dan duduk di sisi ranjangnya. Arka memilih untuk duduk di sofa, sementara Ranty dan Nayla hanya memandang tingkah Tama yang tak biasa.


"Apa apa?" Bunda bertanya seraya menggengam tangan Tama.


"Dimana gadis itu. Sudah sore kenapa dia belum pulang, Bunda?"


"Sebentar lagi dia akan tiba, ada apa?"


"Tidak. Aku hanya penasaran saja, oh ya, Bunda bolehkah aku bertanya sesuatu padamu,"


"Apa itu?"


"Tentang laki-laki yang menemuimu tadi. Apa benar, bunda akan menikah denganya?"


"Kenapa. Apa kau tak menyukainya?"


"Bukan begitu, Nda. Aku hanya ingin tau dari mana bunda bisa mengenal dia?"


"Dia Ayah dari calon suami, gadis yang telah merawat bunda.


"HAAAAAAAHHHHHH______!" Tama Nayla Ranty dan Arka mengucapkan secara bersama. Hingga membuat sang bunda heran karnanya.


"Kenapa?" si Bunda penasaran.


"Apa Rany yang telah merawat bunda?"


"Iya. Kalian mengenalnya?"


"Tentu bunda,


Tama pun menceritakan secara seksama, hubungan Alvian dan Nayla, hubungan Alvian Arka, dan siapa Rany sebenarnya. Penjelasan Tama membuat sang bunda melotot tak percaya.


"Jika seperti itu, jadi selama ini Rany mengetahui keberadaanmu? Tanya sang Bunda kelu.


"Tentu. Karna Aku dan Rany pernah sama-sama tinggal di rumah Arka...


"Haaaaaah! Lalu kenapa Rany tak mau memberi tahu bunda tentang keberadaanmu?"


"Entahlah. Hanya Rany yang tau jawabanya." Cetus Tama.


Ceklek


Pintu kamar sang Bunda terbuka.


Arka, Nayla, Ranty dan Tama menatap tajam kearahnya. Bahkan sorot mata Tama seolah mengisyaratkan sebuah amarah, terlebih lagi Arka. Begitu banyak tanda tanya membenam di fikiran mereka. Tentang dua orang yang kini hadir di hadpan mereka.


Iya. Keduanya adalah Rany dan Alvian, yang juga sama terkejutnya akan kehadiran Tama Arka Ranty dan Nayla di rumah sang Bunda.


"Jelaskan sesuatu padaku! Atau aku akan menghajarmu," Ancam Arka yang sudah mengepalkan tanganya.


.


.


Nah Loee, perang lagi kan kan kan πŸ™„πŸ™„.


πŸ€πŸŽ€πŸ€πŸŽ€πŸ€πŸŽ€πŸ€πŸŽ€πŸ€πŸŽ€πŸ€πŸŽ€πŸ€πŸŽ€πŸ€.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


πŸ€Like


🌱Vote


πŸ€Rate


🌱Komen.


Mari saling mendukung πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰,


Yuk kepoin juga karya baruku, yang bisa buat kamu tertawa sampai anak cucu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.



DAN MAMPIR JUGA DI KARYA OTOR KEREN LAINYA.

__ADS_1




__ADS_2