Cintaku Pembunuh Kekasihku

Cintaku Pembunuh Kekasihku
Tak Tau Diri (Sikap Arka)


__ADS_3

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ANDA.


BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA.


LOVE YOU SEMUA ❀



🌱SELAMAT MEMBACA🌱


Malam ini terasa cukup syahdu, bagi Arka atau pun Nayla. Sinar sang bulan purnama samar-samar mulai mulai memancarkan cahayanya. Para Bintang kecil bersinar begitu indah. Arka dan Nayla menghabiskan malam ini bersama.


Meski si Saus dan Sosis belum dapat berjumpa, namun Nayla tetap membelai Arka dengan mesra.


Nayla memandangi wajah suaminya yang mulai memejamkan mata. Tampak guratan lelah di wajah Tampan Arka. Nayla mengecup mesra kening Laki-laki yang beberapa bulan ini telah menjadi kekasih halalnya.


"Aku mencintaimu," bisik Nayla pelan lalu menyandarkan kepalanya di dada Arka.


Sayup-sayup mata Nayla mulai terpejam, kedua Suami Istri itu tidur dengan saling berpelukan.


Hangat sudah pasti hangat. Nyaman dan selalu nyaman, begitulah indahnya ketika sudah berumah tangga, dan menikah atas dasar cinta❀.


_____________


Hari menjelang pagi, semua penghuni rumah Arka sudah bangun dari istirahat malamnya.


Keculai Alvian. Lelaki tampan nan rupawan itu masih tertidur pulas bersama tumpukan-tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya.


"Jangan bagunkan, biarkan saja!" Seru Arka saat mendapati Nayla yang siap membangunkan Alvian dari tidurnya.


Nayla pun menganggukan kepalanya tanda mengerti, Arka lalu menggandeng tangan sang Istri menuju meja makanyan. Untuk santap pagi sebelum berangkat bekerja dan memulai aktifitasnya.


Nayla sengaja bangun lebih pagi, dan sudah menyediakan sarapan untuk sang Suami,


"Pagi." Sapa Arka saat mendapati sang sahabat sudah terlebih dahulu berada di meja makan.


"Heemz," hanya itu yang keluar dari mulut Tama.


"Kau kenapa? kalau sakit gigi tak usah berangkat bekerja!" Seru Arka yang cukup kesal karna Tama tak membalas sapa ramah darinya.


Mendengar seruan Arka, seketika saja Tama langsung memasamkan wajahnya. "Siapa yang sakit gigi?" tanya Tama pura-pura tak mengetahui bahwa Arka sedang kesal dengan sikapnya.


"Kucingnya, Ranty Yonna yang sakit gigi," jawab Arka tanpa sedikit pun menatap wajah Tama.


Nayla yang mendengar percakapan keduanya, hanya mampu menahan Tawa. "Sama-sama gila," bantin Nayla.


.


.


.


BRAAAAAAKKKK.


Terdengar suara keras dari ruang tamu Arka. Hal tersebut membuat, Arka, Tama dan Nayla sangat terkejut luar biasa, tanpa fikir panjang ketiganya segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi di sana.

__ADS_1


Mata Arka manatap nanar, begitu pun Tama dan Nayla. Ketiganya menatap tajam kearah seseorang yang kini ada di hadapan mereka.


Arka mendekati Alvian. tampak darah segar mengalir dari bibir merahnya, dengan beberapa lebam di sekitar wajahnya.


"Anak tak tau diri!" Upat Dicky seraya melayangkan kembali pukulan ke Alvian.


Ya lelaki yang kini ada di hadapan mereka adalah Dicky yang tak lain Ayah kandung dari Alvian, serta mertua dari Arka, yang mereka tau Dicky ayah dari Nayla, walau akhir-akhir ini mereka meragukan kebenaranya.


"Hey. Apa yang anda lakukan, kenapa anda memukul, Alvian?" tanya Arka heran.


"Diamlah kau, Arka! Ini urusanku dengan anak tak tau diri itu," cetus Dicky.


"Mulai saat ini, urusan Alvian menjadi urusanku juga," jelas Arka.


"Woooow. Mengharukan sekali," ucap Dicky lagi. Serta siap melayangkan pukulan kembali ke arah Alvian. Namun dengan sigap Arka segera menghalanginya.


.


.


.


Arka mendarakan pukulan tepat di wajah Dicky hingga membuat Dicky semakin murka dan di penuhi rasa amarah, sepertinya Dicky benar-benar kecewa karna Alvian mengembalikan semua Perusahaan Arka tanpa sepengetahuanya.


"Sial!" Upat Dicky kesal.


Dicky membalas pukulan Arka dan mendartkan tinjuan tepat di perut Suami Nayla.


BAG


BAG


Hantaman demi hantaman pukulan demi pukulan kembali sama-sama mereka daratkan. Ini kesekian kalinya, Dicky dan Arka terlibat perkelahian.


Tama dan Alvian coba melerainya, namun perkelahian antara Arka dan Dicky tak dapat terkendali.


Sssttt


Tiba-tiba Dicky mengeluarkan benda tajam dari saku celananya dan siap menghujam ke arah perut, Arka.


Melihat hal itu membuat Alvian dengan spontan memukul Dicky menggunakan tanganya sekuat tenaga, dan pukulan itu Alvian daratkan tepat di pundak sang Ayah. Karna terlalu kuatnya, pukulan yang Alvian lakukan, membuat Lelaki itu jatuh tak berdaya di lantai Rumah Arka.


.


.


.


"Ayaaah_____!" Pekik Nayla sekuat tenaga kala mendapati tubuh sang Ayah lemas tak berdaya.


Begitu pun Alvian dengan sigap segera memapah tubuh sang Ayah.


"Maafkan aku, yah." Ucap Alvian yang tak mampu berpaling dari rasa sedihnya.


Tanpa fikir panjang Arka dan Tama segera membantu Alvian, mengangkat tubuh Dicky dan menidurkan di salah satu kamar yang berada di rumah Arka.

__ADS_1


Nayla tak mampu menyembunyikan air matanya. Alvian tak mampu menyembunyikan rasa bersalahnya, karna seperti apa pun Dicky dia tetaplah Ayah mereka.


Arka dengan tanggapnya segera menghubungi Dokter pribadinya untuk datang kerumah, agar memeriksa kondisi sang Ayah mertua.


Tak selang beberapa lama, si Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Ayah kandung Alvian yang tak lain adalah Ayah mertua Arka juga. Meski lagi-lagi sejujurnya Arka meragukan bahwa Sang Istri anak kandung dari Dicky


Dokter itu memeriksa keadaan Ayah Nayla dengan seksama. "Heeemz!" Si Dokter membuang nafas pelan. Terpancar senyuman dari wajahnya.


"Bagai mana keadaan Ayah saya, Dok?" tanya Nayla dan Alvian bersamaan.


"Ayah kalian tak apa-apa. Hanya saja di usia yang tak lagi muda, membuat beliau riskan terhadap pukulan, setelah ini, biarkan beliau beristirahat, agar beliau kembali pulih dan sehat." Jelas si Dokter dengan semangat.


Terukir senyuman dari wajah cantik Nayla dan wajah tampan Alvian. Perasaan lega kini benar-benar menyelimuti hati keduanya.


30 Menit kemudian Dicky mulai membuka matanya. Dengan pelan dan perlahan, saat dia membuka mata, hal yang pertama kali di lihatnya adalah senyum Alvian dan juga Nayla yang setia di sampingnya sampai dirinya membuka mata.


"Ayah." Sapa Nayla


"Dehhhh. Dia masih hidup ternyata," grutu Arka.


Dicky tak bergeming dengan apa yang di ucapkan Nayla. Sorot matanya justru tajam menghujam ke arah Arka, yang terlihat sekali tak perduli dengan keadanya.


"Dasar menantu tak tau malu," kata-kata itu keluar dengan lancangnya dari mulut Ayah Nayla.


Mendengar ucapan itu membuat Arka mengerutkan wajahnya. "Tobat. Tobat! Sebentar lagi Kiamat, sudah tua ingat dosa, cari amal buat bekal di akhirat," si Arka justru ceramah panjang lebarnya.


Mendengar apa yang di ucapkan Arka, membuat Wajah Dicky nampak murka, amarah benar-benar menyesakan dadanya.


"Sialan. Kau ya!" Upat Dicky dengan nada tinggi.


"Jangan marah-marah! Nanti Stroke baru tau rasa anda," balas Arka.


"Hiiihh. Arka sudahlah! Kau ini seperti anak kecil saja," cetus Tama. "Kasih Kopi merek sianida biar dia enyah," bisik Tama di telinga Arka. Yang membuat Arka tertawa kecil mendengarnya.


"Astaga. Maafkan aku Tama, aku belum siap viral," Tawa Arka


Nayla dan Alvian menatap heran kelakuan Arka dan Tama, Sementara keduanya mencoba menenangkan sang Ayah yang benar-benar kesal melihat sikap Arka.


Nayla menatap tajam ke arah Arka, hal itu membuat Arka seketika saja langsung menghentikan Tawanya.


"Santai, Nay. Kasih Vitamin. Supaya ayahmu cepat sehat, dengan begitu kau bisa bertanya tentang siapa dirimu yang sebenarnya."Tegas Arka yang membuat suasana rumahnya menjadi hening seketika.


(Nah Loe πŸ˜ƒ)



πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€.


🌱Mari saling mendukung.


Silahkan tinggalkan Like. Vote, Rate dan Komentar ya.


MAMPIR JUGA DI KARYA TERBARUKU ❀❀


__ADS_1


__ADS_2