
Aku tidak yakin tentang yang ku rasakan sekarang jadi aku tidak berani melihat ke belakang untuk memastikannya. Juga, aku masih ingat betul bagaimana raut wajah Vano saat melihat ku beberapa waktu lalu. Ia melihat ku dengan tatapan aneh saat itu, apakah ia tahu jika aku menyukainya?
Ah, betapa bodohnya kamu Ai tentu saja ia tahu jika aku menyukainya karena hal ini sudah bukan rahasia umum lagi di sekolah ku. Seperti yang kalian lihat tadi, aku sering di bully oleh orang-orang dan faktor utama mengapa aku diperlakukan seperti itu adalah karena aku menyukai Vano. Kemudian beberapa kelompok siswa mulai mendatangi ku untuk melampiaskan kemarahan mereka kepada ku. Mereka bilang aku menjijikkan dan homo lemah yang tidak berguna. Aku?
Aku tidak paham karena aku bukan laki-laki atau perempuan. Aku hanya hidup seperti apa adanya dan berharap bahwa aku yang berbeda dapat menjalani kehidupan dengan damai. Tapi sayangnya itu tidak akan bisa, Tuhan tidak ingin melihat ku sesantai itu di sini maka beginilah jadinya. Rasanya selalu saja sakit dan melelahkan, harus berapa lama lagi aku bertahan?
“Ai, ini minum, Nak.” Bu Dewi kembali ke kursinya seraya memberikan segelas air hangat.
Meraihnya, aku menatap gelas yang ada ditangan ku dengan bingung. “Ini air apa, Buk?”
“Itu air gula sayang, lihat wajah mu saat ini begitu pucat dan menyedihkan. Minum airnya maka Ibu akan dengarkan keinginan mu.” Ini seakan ia mengancam ku.
Menunduk tidak berdaya aku pun langsung meminum air gula hangat tersebut dalam beberapa tegukan.
“Terimakasih Buk.” Suara ku berterimakasih setelah meneguk habis air hangat dan menaruh gelas kosong tersebut di atas meja Bu Dewi.
“Gimana, udah merasa baikan?” Tanyanya memastikan.
__ADS_1
Ini sebenarnya tidak merubah apapun, tapi karena Bu Dewi sudah berbaik hati membantu ku maka aku menganggukkan kepala ku dengan tulus. “Iya Buk, rasanya nyaman.” Padahal ini sangat tidak nyaman. Rasanya ingin sekali ku berlari dari tempat ini untuk menghilangkan rasa sakit ini.
“Ok, kalo gitu Ibu akan dengarkan kondisi mu.”
“Saya mau izin, Buk.” Ucap ku membuat Bu Dewi menganggukan kepalanya mengerti. Kemudian tanpa bertanya lagi ia mengambil kertas putih dan menulis beberapa catatan cepat yang tidak ku mengerti. Ini seperti tulisan dokter.
“Kamu boleh pulang, usahakan setelah sampai rumah kamu harus beristirahat total, okay?” Ucap Bu Dewi seraya menyerahkan lembaran tersebut ke tangan ku.
“Hati-hati di perjalan pulang nanti.” Ucapnya lagi membuat ku spontan mengangguk bersemangat.
Mencium tangannya, aku kemudian membawa langkah ku keluar dari ruangan BK dengan lancar karena sudah tidak ada Vano dan Pak Roni yang sedang berbincang terkhir kali. Memegang kertas itu erat-erat, aku mencoba menstabilkan tubuh ku agar dapat berjalan dengan normal.
...🍃🍃🍃...
Setelah turun dari jasa taksi yang ku gunakan, aku membawa langkah ringan kaki ku menapaki jalan besar khusus pejalan kaki. Mengambil beberapa langkah sebelum berhenti dan mengangkat wajah ku untuk melihat gedung yang menjulang tinggi di depan ku. Di atas gedung itu tertulis dengan rapi dan apiknya sebuah nama rumah sakit ternama di kota ku. Menghela nafas lelah, ini sudah tahun ke tujuh rajinnya aku mengunjungi rumah sakit ini. Jangan salah paham, sama seperti kalian aku pun membenci tempat ini. Aku ke sini karena takdir yang tak mau berkompromi, membuat ku mengeluh setiap tahunnya.
Mengelus perut bagian bawah ku dengan lembut, rasa sakit itu datang lagi melilit ku. Bingung, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan biasanya ketika perih ini datang tiap bulan itu tidak sesakit hari ini. Jadi aku memutuskan untuk ke tempat ini lagi setelah 4 bulan aku absen.
__ADS_1
Menahan sakit yang semakin tidak tertahan aku pun membawa langkah ku ke arah pintu utama yang dimana dari sini aku bisa melihat banyak orang keluar masuk dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang menampilkan ekspresi wajah penuh kelegaan, kecewa, sedih bahkan beberapa orang terlihat biasa dan tidak terpengaruh sama sekali dengan suasana di tempat ini. Masuk ke dalam rumah sakit aku langsung berjalan ke arah utara rumah sakit. Tepatnya ke ruangan dokter yang sudah merawat ku sejak aku masih kecil.
Melewati beberapa kamar tertutup kadang aku merasa iri dan kesal, mereka yang ada di dalam sana sedang berjuang melawan rasa sakit akan tetapi walaupun begitu mereka tidak merasa sedih dengan ketidak adilan ini karena di samping rasa sakit ada semangat kasih sayang yang diberikan keluarga untuk membantu mereka tetap semangat. Jadi, rasa sakit itu sesungguhnya tidak akan terasa menyakitkan untuk mereka karena ada pilar kokoh yang selalu menjadi sandaran mereka untuk terus berdiri.
Ya, ini berbeda.
Ini berbeda dengan aku, sekalipun aku keluar masuk dari tempat ini mereka tidak pernah mau mendekat atau sekedar bertanya kabar ku. Miris bukan, hidup seperti ini memang tidak ada gunanya.
“Ai?” Tiba-tiba ada tepukan hangat di pundak kanan ku.
“Dokter Ares?” Ucap ku spontan begitu mendapati dokter Ares sedang menatap ku hangat. Dia selalu seperti ini, penuh dengan kelembutan.
“Ayo masuk, Ai.” Suaranya tetap terdengar hangat seraya membukakan aku pintu ruangannya.
“Terimakasih, dok.” Ucap ku berterimakasih seraya mendudukkan diriku di kursi depan mejanya karena sudah tidak tahan lagi.
“Ai, minumlah pil ini.” Ucapnya sambil menempatkan segelas air putih di depan ku. Kemudian ada pil dengan warna hijau tua ia masukkan ke dalam genggaman tangan ku.
__ADS_1
Memasukkan pil itu tanpa keraguan, segera air putih dengan suhu normal menyusul membasahi mulut dan tenggorokan ku.