Dear, Vano

Dear, Vano
54. Monster Pengganggu


__ADS_3

Dia terlihat sedang menangis, mengapa ia menangis?


Apakah aku mengganggunya?


Aku ingin bertanya dan menghiburnya namun lagi-lagi sebelum aku dapat melakukannya dia sudah berlari menjauh dariku. Kaki kecilnya yang terlihat tipis ternyata mampu bergerak secepat itu, luar biasa. Aku semakin takjub dengannya, jika bisa aku juga ingin berteman dengannya, tapi siapa namanya?


Setelah kejadian itu setiap kali Mama dan Papa berkunjung ke rumah Angela aku selalu ikut. Ini bukan lagi karena Angela tapi karena anak laki-laki cantik itu. Aku ingin menemukannya dan bermain dengannya namun sekuat apapun aku mencari aku tidak pernah menemukannya. Bahkan saat aku bertanya kepada kedua orang tua Angela mereka bilang bahwa mereka tidak pernah melihat anak yang ku sebutkan itu.


Aku sangat kecewa, tidak pernah rasanya dihidup ini aku sekecewa itu. Seakan-akan bagian hidupku yang paling penting dibawa pergi hilang entah kemana.


...🌹🌹🌹...


"Vano?" Suara lembutnya membuat Vano langsung terbangun dari perjalanan nostalgia yang haru biru.


"Ah.. kenapa, Ai?" Tanyanya seraya memperbaiki posisi duduknya senyaman mungkin.


"Kita udah sampai..." Ai memberi tahu dengan ragu, pasalnya sedari tadi Vano begitu tenggelam dalam lamunannya.


"Oh," Matanya melirik arah ke jendela yang menampilkan anak-anak sekolah yang sedang beristirahat.

__ADS_1


"Kalo gitu kita langsung keluar aja." Ajaknya sambil mengambil wadah kosong yang ada di tangan Ai. Memperbaiki jaketnya agar menutupi dengan benar badan Ai dari serangan cuaca dingin.


"Aku gak perlu pakai jaket-"


"Perlu." Potong Vano seraya menarik tangan Ai mengikuti langkahnya. Oh astaga, ia baru saja sadar jika tidak ada siapapun di dalam mobil kecuali mereka berdua. Vano juga tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi anak OSIS ketika melihatnya melamun tidak jelas seperti itu, pasti mereka berpikir betapa idiotnya Vano.


"Van, kamu kok lama banget sih turunnya." Begitu turun dari mobil mereka sudah disambut dengan tatapan merajuk Angela.


"Iya nih, tadi ada urusan penting jadi agak lama keluarnya." Vano mengakui setengahnya dan berbohong setengahnya. Siapapun tahu jika mereka melihat dengan jelas jika urusan yang penting itu ternyata hanya melamun gak jelas.


"Hem, iyadeh yang punya urusan penting." Sungutnya mengalah, melirik sekilas Ai yang berdiri tidak nyaman di samping Vano. Jangan lupakan jaket yang sedang Ai kenakan sekarang, Angela hapal betul jika itu adalah milik Vano. Tapi mengapa monster sialan ini bisa menggunakannya?


Bahkan dirinya saja yang sudah resmi bertunangan dengan Vano tidak pernah punya kesempatan untuk menggunakan salah satu pakaian favorit Vano, ah!


Kenapa tangan penuh dosa itu menggenggam tangan Vano, terik macam apa yang telah dilakukan monster ini untuk mengambil simpati Vano?


Setelah menggunakan pakaiannya ia kini bersentuhan dengan kulit Vano, Angela sungguh tidak rela melihat keserakahan adiknya ini yang sesungguhnya adalah monster serakah yang menakutkan!


Sadar akan ketidak sukaan Angela terhadapnya, Ai tahu jika tempatnya bukan di sini dan mau tidak mau ia harus kembali ke barisan kelompok kelasnya. Entahlah, Ai tidak tahu apakah mereka akan menolak kedatangannya atau tidak mengingat betapa buruk rumor yang tersebar tentang dirinya.

__ADS_1


"Aku..aku harus ke kelompok kelas ku." Suara Ai merasa tidak nyaman seraya melepaskan tangan Vano darinya.


Vano tidak senang, "Kamu kan perginya bareng anak OSIS jadi harus tetap di barisan anak OSIS, hitungannya udah bener jadi kamu gak usah kemana-mana." Tolak Vano memberikan penjelasan serius tidak memberikan Ai jalan untuk lari.


Ragu, mata persiknya yang tertutupi poni melirik samar Angela yang berdiri tidak tenang di samping Vano. Meskipun ia terlihat tersenyum namun Ai tahu jika itu semua hanya kepura-puraan saja.


Tentu saja Angela bersikap seperti ini karena gadis mana yang akan senang jika kekasihnya diganggu. Hal ini tentu saja sangat menggangu hati!


"Aku pikir ini tidak bisa-"


"Ketos, Pak Roni bilang kita istirahat di sini dulu karena ini sudah waktunya kita makan siang." Tiba-tiba suara tergesa-gesa Ari menginterupsi ucapan penolakan Ai.


Tanpa berpikir panjang Vano langsung menganggukinya dan memerintahkan Ari untuk segera mengumpulkan semua orang di satu tempat untuk acara makan siang. Vano juga tidak ingin menanyakan Ai tentang ucapannya yang terpotong karena ia tahu betul pasti itu berisi penolakan.


"Ya udah, sebelum sholat kita makan siang dulu biar nanti sholatnya bisa lebih tenang." Ajak Vano otomatis menarik tangan Ai mengikuti langkahnya tanpa sadar meninggalkan Angela yang masih berdiri kaku di tempat semula.


"Sial, dasar monster pengganggu!" Umpat Angela penuh benci ketika melihat orang yang Vano tarik bukanlah ia namun justru Ai yang bukan siapa-siapa.


"Tunggu saja pembalasan ku!" Sumpahnya tidak bisa menahan betapa bencinya ia dengan tingkah sok polos Ai. Monster ternyata tetaplah monster sekalipun ia berlapis manusia, ah, mengapa ia lahir di waktu yang hampir bersamaan dengan mahluk menjijikkan ini?

__ADS_1


Mengapa kedua orang tuanya membiarkan makhluk menjijikkan ini hidup dengan segala macam sifatnya yang penuh kotor dan menjijikkan. Mengapa makhluk sampah ini tidak dilenyapkan saja pada waktu itu!


Angela sangat membencinya!


__ADS_2