
“Terimakasih, dok.” Ucap ku berterimakasih sekali lagi.
“Tidak perlu, lagipula aku sudah menduga ini akan terjadi hari ini.” Suaranya memberitahu ku. Aku tau apa yang ia maksud dan pikirkan akan tetapi tetap saja berpura-pura tidak mengerti adalah yang terbaik.
“Dokter, aku ingin obat yang sama.” Ucap ku mengalihkan pembicaraan. Lagipula efek obat ini benar-benar bagus dan cepat. Rasa nyeri perut bagian bawah ku mulai berkurang dan tidak sesakit tadi.
“Tentu saja, aku akan memberikan mu nanti.” Jawabnya yakin.
“Dokter, tolong berikan aku no. rekening mu. Setelah keluar dari sini aku akan langsung mengirim biaya obat ini karena untuk saat ini aku tidak membawa uang tunai yang cukup.” Obat yang ku beli cukup mahal untuk seukuran ku yang masih pelajar SMA, inilah alasan mengapa aku begitu sulit membeli sesuatu yang aku inginkan karena uang hasil kerja ku sebagiannya langsung ku tabung untuk persiapan hari darurat seperti ini dan sebagiannya lagi ku gunakan untuk membayar sewa apartemen yang masih belum lunas dan kebutuhan sehari-hari ku.
“Tidak perlu, aku memberikan mu obat ini karena aku ingin dan aku tidak mau menerima penolakan apapun dari mu, Nak.” Tertegun, aku menatap matanya yang penuh akan kehangatan. Aku jadi iri melihat anak yang beruntung punya Ayah sebaik dia. Jika ada pilihan maka aku pun ingin terlahir sebagai salah satu anaknya. Tapi sayangnya itu hanya harapan belaka karena Tuhan memilih mengirim ku pada mereka yang acuh, semakin menambah kesakitan ku.
__ADS_1
Mengalihkan pandangan ku, aku mencoba mengenyahkan pikiran gila yang seharusnya tidak ada di dalam kepala ku. Ya, dokter Ares memang baik dan sebaik apapun ia, aku hanya orang asing di matanya. Ia bersikap seperti ini karena merasa kasihan kepada ku yang kesepian.
Kasihan.
“Jangan mengasihani ku, dok.” Ucap ku memperingatinya karena semalang apapun aku di dunia ini aku tidak akan butuh dengan perasaan simpati seperti ini.
“Ai, apapun yang kau pikirkan tentang aku, aku tidak akan perduli Nak. Akan tetapi aku hanya ingin mengatakan kepada mu bahwa jangan terlalu banyak berpikir karena imbasnya pasti ke dirimu sendiri.”
“Dokter,” Potong ku cepat, aku menatap tepat ke matanya yang meneduhkan.
Tersenyum sebaik mungkin, “Dokter, jangan seperti ini karena sungguh aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa dan kau tidak perlu mengasihani ku lagi, sudah cukup dokter dan jangan lakukan itu lagi.” Ucap ku selembut mungkin. Memakai tas punggung ku, aku pun bangun dari duduk ku berniat pergi namun tiba-tiba tangan kanan ku di tariknya.
__ADS_1
“Minum teratur selama periode ini muncul juga jika ada masalah langsung saja hubungi aku secepatnya, okay?” Meletakkan satu botol pil yang ku minum ke dalam genggaman ku, aku masih tidak bereaksi apa-apa dengan ucapannya.
“Dan juga, Ai, dengarkan aku sekali ini saja. Jangan putus asa dengan kelebihan mu saat ini karena sesungguhnya kamu adalah mahluk Tuhan yang paling spesial, Nak. Mereka yang meninggalkan mu sekarang suatu hari akan menyesalinya, jadi tolong hiduplah dengan baik sampai hari bahagia mu datang.” Dokter Ares menggenggam tangan ku kuat, ia seakan menyalurkan kehangatannya kepada ku.
Terdiam, aku tidak tau harus mengatakan apa kepadanya yang begitu baik kepada ku. Menarik tangan ku sopan dan tidak berniat menyinggungnya, aku pun langsung membawa langkah ku keluar. Meninggalkannya yang masih menatap ku sendu.
Setelah menutup pintu ruangannya, ku usap wajah tirus ku dengan gerakan canggung. Cairan hangat yang mengalir lembut di pipi ku membuat ku semakin sedih dan tidak berdaya. Bertanya-tanya mengapa orang asing lebih mengerti rasa sakit ku daripada keluarga bahkan kedua orang tua ku sendiri, aku benar-benar tidak mengerti hal ini.
Dia bilang aku spesial, tapi aku tidak yakin mengapa ia mengatakan jika aku spesial.
Bersambung...
__ADS_1