
"Aku sudah lama menyukainya jadi aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganggu pengejaran ku, siapapun itu aku tidak akan pernah sungkan-sungkan membalasnya jika sampai mengganggu Ai. Apa sekarang kalian paham?" Tanya Vano dengan senyuman simpulnya, tatapan yang tadinya hangat kini sudah mulai menjadi dingin. Sekilas, orang-orang yang akan melihat tatapan ini pasti tahu jika Vano sangat serius dengan apa yang ia katakan.
Siapapun itu jika mengganggu Ai, Vano tidak akan pernah membiarkan sang pelaku bersantai. Ia akan membalasnya sesuai dengan apa yang dilakukan kepada Ai.
Inilah yang disebut dengan keadilan, benar'kan?
Puas dengan anggukan patuh Bayu dan Rendi, Vano lantas langsung bergegas kembali ke tempat kemah. Di dalam perjalanan menuju ke sana Vano bertanya-tanya mengapa Ai selama ini tidak pernah mengatakan apa-apa kepada orang tuanya mengenai pembulian ini?
Apakah itu karena ia enggan atau bagaimana?
Namun, jika Ai enggan maka seharusnya Angela sudah melaporkan masalah ini kepada kedua orang tua mereka karena Angela dan Ai satu sekolah. Seharusnya Angela tahu semua yang terjadi kepada Ai selama di sekolah dan seharusnya Angela membantu Ai menghadapi masalah pembulian ini. Akan tetapi, selama bertahun-tahun mengenal Angela, Vano tidak pernah mendengarnya mengurus masalah Ai. Tentang hubungan persaudaraan mereka saja itu diketahui oleh anak sekolah setelah naik kelas XII.
__ADS_1
Untungnya Vano sudah tahu tentang sejak bertahun-tahun yang lalu jadi ia tidak terlalu terkejut mengetahui mereka berdua bersaudara. Tapi, Vano berpikir lagi mengapa Angela tidak pernah mengatakan bahwa Ai adalah saudaranya dan tetap diam melihat Ai diperlakukan salah oleh orang lain. Mungkinkah apa yang dikatakan Papanya benar bahwa ada sesuatu yang salah di keluarga Ai. Karena Ai terlahir spesial mereka tidak bisa menerimanya dan memilih mengasingkan Ai dari jangkauan mereka. Membuat Ai tidak terlihat untuk menghilangkan perasaan malu dari kerabat-kerabat sepantaran mereka.
"Seharusnya aku menyadari sejak awal bahwa selama ini Ai sudah berjuang sendirian tanpa ada yang mendukungnya. Syukurlah keputusan ku benar, Hem..."
...🌹🌹🌹...
Masuk ke dalam tenda Vano melihat Ai yang sedang sibuk membereskan barang-barang mereka berdua. Ia terlihat tenang seolah-olah Ai tidak pernah mendengarkan penghinaan Bayu dan Rendi kepadanya. Tentu saja Vano khawatir melihat ketenangan ini karena lebih baik Ai menangis saja menumpahkan perasaan sakitnya daripada memendamnya sendiri-
"Ai, kamu istirahat aja dulu. Barangnya biar aku nanti yang beresin." Vano menarik kedua tangan Ai agar berhenti mengerjakan pekerjaan itu karena Vano yakin Ai pasti merasa lelah, Hem, lelah secara fisik karena perjalanan jauh dan lelah hati karena mendapatkan pembulian.
"Sebentar lagi selesai kok." Ai menarik tangannya dari Vano seraya berpura-pura fokus melipat dan menyusun barang-barang mereka di samping tenda.
__ADS_1
"Ai, jangan keras kepala. Aku tahu kamu lelah jadi istirahat aja gak apa-apa. Apalagi kamu lagi sakit jadi jangan terlalu memaksakan diri." Sekali lagi Vano merebut pekerjaan itu dari Ai, menarik tubuh ringan Ai untuk berbaring di atas alas empuk yang sudah tergelar di dalam tenda. Alas tendanya saja sudah empuk layaknya selimut hangat ditambah dengan alas berbusa ini, rasanya sangat lembut seperti di rumah Vano.
"Kamu juga harus istirahat Vano, perjalanan kita tadi jauh jadi badan kamu pasti pegal-pegal." Ai tidak bermaksud mengajak Vano tidur bersamanya karena Ai juga menebak Vano mungkin-
Enggan?
"Hem, aku juga agak capek jadi baring sebentar sebelum mulai acara gak apa-apa." Vano kemudian membaringkan dirinya di samping Ai, tanpa jarak sama sekali.
Padahal masih ada ruang di sini tapi Vano seakan buta dan langsung membaringkan dirinya di samping Ai. Menghirup wangi Ai yang ringan dan harum membuat Vano merasakan candu. Aneh, ini adalah wangi yang sama ditubuhnya tapi mengapa ketika Ai yang menggunakannya Vano tiba-tiba terobsesi ingin terus menghirupnya.
"Ai, aku boleh gak nanya sesuatu sama kamu." Setelah tenggelam di dalam kesunyian, Vano akhirnya memulai pembicaraan mereka. Ia ingat jika rasa penasaran tentang kehidupan Ai sangat tinggi jadi Vano memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali semua informasi yang ia tidak tahu.
__ADS_1