
"Terus kenapa hari ini kamu gak masuk sekolah? Tanpa keterangan lagi." Untuk memastikan keadaan Ai, Vano harus datang pagi-pagi ke sekolah.
Mengamati gerbang sekolah dan menunggu kedatangan Ai yang tidak kunjung-kunjung terlihat. Ia juga bertanya ke beberapa teman kelas Ai, bertanya apakah Ai masuk atau tidak.
Dan ya, tentu saja jawabannya adalah tidak.
"Bukankah hari ini kita pergi berkemah?" Bingung Ai, apalagi ia baru sadar jika Vano sedang ada di depannya.
Apakah Vano tidak pergi ke acara terakhir kelas dua belas?
Vano dengan sabar menghela nafas, sepertinya Ai masih belum mengetahui informasi penting dari sekolah.
"Hari ini gak jadi tapi kita berangkatnya besok siang jam 10 dan kamu harus ikut, wajib gak ada bantahan." Jelas Vano tidak ingin mendengar penolakan Ai.
"Tapi aku gak bisa ikut, Vano." Suaranya mengecil.
Selain karena badannya yang cedera, Ai juga tidak tahu harus tidur dimana. Ia tidak bisa bergabung dengan kamp laki-laki karena mereka tidak menyukainya apalagi harus bergabung dengan kamp perempuan, itu lebih mustahil lagi.
"Kenapa, bukankah kamu juga siswa kelas XII?" Vano tahu jika tidak akan memberitahunya secara langsung, namun tetap saja ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak bertanya.
"Itu...aku punya urusan penting." Jawabnya ragu.
__ADS_1
"Hem." Setelah itu Vano tidak menanyakan apapun lagi, perasaan ini semakin membuat Ai tertekan.
"Allahuakbar... kalian dari tadi ngapain sih sampai gak sadar kalo ayam gorengnya gosong!" Histeris Mama Vano panik ketika mencium ada bau gosong dari arah dapur.
Terkejut, Ai dan Vano sontak mendekati ayam goreng yang sudah gosong tersebut, namun sebelum langkah mereka benar-benar mendekatinya Mama Vano sudah bergerak lebih dulu.
"Biar Mama yang urus kalian berdua mendingan ke meja makan saja. Diam dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh di sana!" Perintah Mama Vano tidak ingin dibantah.
Tahu jika dirinya salah, Ai dengan patuh keluar dari dapur setelah meminta maaf kepada Mama Vano.
"Kok tiba-tiba jadi mendung?" Heran Ai ketika melihat jendela langit sudah mendung saja.
"Vano, aku harus pulang.. tolong sampaikan kepada Tante salam ku dan katakan mulai besok pagi aku tidak akan bertanggung jawab lagi mengirim bunganya." Pesan Ai seraya melangkah cepat berniat keluar dari rumah Vano.
Tidak terima, "Kenapa kamu gak bisa anterin Mama bunganya lagi? Lagipula, kenapa kamu harus buru-buru pulang kayak gini?" Tanya Vano tidak terima seraya berpikir menduga-duga apa yang telah terjadi pada Ai dan hal apa yang sudah ia lewatkan tentang Ai.
"Tidak ada alasan khusus, hanya ingin saja." Jawab Ai sambil menaiki sepedanya.
Gerimis sudah turun dengan deras dan sebentar lagi pasti hujan lebat.
"Ai, kamu masuk dulu tunggu hujannya reda baru kamu pulang." Khawatir Vano.
__ADS_1
Ai terlihat tidak baik saat melihatnya tadi di dapur. Vano khawatir jika pulang dalam keadaan hujan-hujanan begini sakitnya jadi bertambah parah seperti beberapa hari yang lalu.
"Gak apa-apa Van, aku bisa-"
"Aku bilang masuk ya masuk, kamu gak lihat kalau hujan udah deras begini!" Teriak Vano kesal.
Bahkan ia dengan marah mencengkeram erat tangan Ai, menariknya kasar agar ia dengan patuh mengikutinya masuk ke dalam rumah. Padahal pakaiannya sudah basah kuyup tapi masih saja keras kepala tidak ingin masuk.
"Vano-"
"Diam!" Potong Vano tidak ingin mendengar seraya menarik tangan Ai terburu-buru.
"Vano.. tunggu.." Panggil Ai putus asa, bahkan kedua tangannya kini bergetar menahan sakit.
Mendengar rengekan lemah Ai, langkah Vano spontan berhenti. Ia membalik badannya menatap wajah pucat Ai yang lebih parah dari sebelumnya.
"Ai, kamu kenapa?" Tanya Vano panik sambil melepaskan cengkraman kasarnya di tangan Ai.
"Vano..Vano, perut aku sakit..hiks.."
Bersambung...
__ADS_1