Dear, Vano

Dear, Vano
44. Dokter Ares


__ADS_3

"Jadi dokter Ares adalah Papa Vano?" Gumamnya tak menyangka. Sejenak akhirnya ia dapat menduga semua kejadian bahkan kebaikan Vano adalah karena dokter Ares.


Dokter Ares adalah dokter yang telah merawat Ai semenjak kecil dan juga sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri. Ai juga baru ingat jika dokter Ares adalah sahabat Mama dan Papa. Yah, ia pernah melihat kehadiran mereka dulu saat Ai masih baru kelas 2 SD.


Saat itu ia melihat Vano kecil bermain dengan Angela kecil, sedangkan Ai hanya bisa melihat dari lantai dua. Papa bilang saat itu Vano bukan teman Ai tapi teman Angela. Dan Papa bilang jika saat itu Ai adalah monster, monster tidak berteman dengan manusia.


Ai..


Sekarang paham Tuhan.


Semua kebaikan Vano dan Mama Vano ternyata karena ini, karena dokter Ares. Dokter sedari dulu memang selalu bersikap hangat kepadanya, mungkin ia benar-benar menganggap Ai sebagai keluarganya.


"Ai," Vano menyentuh punggung Ai, mendorongnya agar lebih dekat dengan Papanya.


"Dokter Ares adalah Papa ku, dia udah lama pengen ketemu kamu." Sebelumnya Vano selalu dibuat pusing dengan Papanya yang ngotot ingin ketemu Ai.

__ADS_1


Tapi apa daya, Vano juga tidak bisa mempertemukan mereka secara mendadak karena Ai pasti akan sangat terkejut nantinya. Maka dari itu Vano berusaha mencari kesempatan yang benar-benar bagus agar mereka berdua dipertemukan secara alami.


Menatap kaku wajah Vano, di matanya tersembunyi sebuah perasaan canggung yang amat besar. Mengapa takdir begitu rumit untuknya?


"Aku.. tidak tahu." Vano adalah anak dokter Ares maka Ai sesungguhnya saat ini bingung bagaimana menghadapi Vano. Vano, laki-laki yang ia cintai ini ternyata anak kecil yang pernah datang bertamu ke rumah dulu. Mengapa Ai sebelumnya tidak pernah menyadari hal ini?


Vano tersenyum mengerti, seperti yang ia duga Ai pasti sangat terkejut dengan pertemuan ini.


"Gak apa-apa kalau kamu masih takut." Karena ia mengerti Ai, maka Vano dengan sabar membantu langkahnya mendekati Papanya yang terlihat begitu antusias melihat Ai.


"Ai, gimana kabar kamu sekarang? Semuanya baik-baik saja kan?" Pertanyaan ini mengacu pada hari dimana Ai ke rumah sakit. Saat itu dokter Ares akui jika kondisi Ai sangat drop. Mungkin itu karena tekanan yang ia dapatkan sehingga membuat gelombang bulanannya datang begitu lambat dan sakit tentunya.


Ai meremat kedua tangannya menahan canggung, menatap dokter Ares dengan malu-malu. "Aku baik dok semenjak minum obat dari dokter Ares.". Obatnya sungguh berguna untuk tubuhnya kemarin. Memang perihnya masih ada namun tidak sekuat hari pertama jadi Ai tidak takut jika gelombang rasa sakit itu datang lagi di bulan depan.


"Syukurlah jika obatnya cocok untuk mu, jika tidak aku takut kau harus menggunakan dosis besar untuk mengatasinya." Jika obatnya tidak bisa mengatasi keluhan rasa sakit Ai, maka dokter Ares akan kebingungan bagaimana cara mengatasinya.

__ADS_1


Pasalnya kasus Ai benar-benar langka, sulit menemukan orang dengan kasus yang sama. Kalaupun ada itu pasti punya sisi yang sedikit berbeda dan tidak bisa diidentifikasi seratus persen mirip.


"Ya sudah kalau begitu kita ke bawah saja, kasian Mama nunggu sendirian." Ajak Papa Vano sambil berjalan mendahului Vano dan Ai.


"Tapi Pa, Ai-"


"Ayo Vano, Tante sudah menunggu kita." Potong Ai merasa tidak nyaman.


Ia tidak ingin membuat keluarga baik ini menjadi repot lagi hanya karena kehadirannya yang menyusahkan. Dapat lebih dekat dengan mereka saja Ai sungguh senang meskipun ia masih belum jelas mengapa keluarga dokter Ares begitu baik padanya.


"Baiklah, tapi nanti kalau sakit lagi kamu langsung bilang ke aku yah?" Vano melihat dengan mata kepalanya sendiri jika memar Ai masih segar dan butuh waktu untuk menghilangkannya. Apalagi posisinya yang strategis sangat berbahaya untuk organ dalam Ai.


"Y-ya, aku akan mengatakannya." Angguk Ai sambil menundukkan kepalanya, ia baru sadar jika ia tidak menggunakan kacamatanya.


"Ka-kaca mataku?" Tanya Ai merasa malu karena dihadapan orang lain ia tidak terbiasa tanpa kacamata dan dihadapan orang yang ia cintai Ai tidak percaya diri dengan penampilannya.

__ADS_1


"Aku sudah simpan di dalam laci, jangan khawatir sebenarnya kamu lebih cantik tanpa kacamata." Ai lebih cocok tanpa kacamata, Vano sadar betul akan hal itu. Oleh karena itu mumpung di rumah tidak apa-apa bagi Ai melepaskan kacamatanya.


"Ah...aku mengerti." Gumam Ai lagi-lagi merasa malu.


__ADS_2