Dear, Vano

Dear, Vano
42. Bukan Sebagai Teman


__ADS_3

"Ai, Angela bukanlah kekasih ku dan aku tidak pernah punya hubungan spesial dengan siapapun. Jadi," Menarik dagu Ai agar bisa sejajar dengan mata tajamnya yang memikat, Vano dengan tatapan lembut memandangi wajah cantik Ai yang sudah basah oleh air mata.


Mengusap lembut pipinya yang tirus dan halus, Vano bisa merasakan jika air bening yang mengalir di pipi lembut Ai masih terasa hangat. Bahkan bulu mata Ai yang panjang kini menjadi lembab karena terkena cairan hangat saat berkedip tadi.


Sejenak, Vano dibuat tersihir dengan wajah cantik Ai serta mata persiknya yang pemalu. Apalagi kedua pipinya yang kini sedang merona merah, Vano tahu jika Ai merasa malu sedekat ini dengannya.


Lalu, apakah Vano juga merasa malu?


Iya, Vano bahkan sangat malu saat ini namun jauh dari dalam hatinya ia enggan untuk menjaga jarak dari Ai. Momen seperti ini tidak akan pernah terjadi dua kali dan Vano tidak akan menyia-nyiakannya sampai momen-momen selanjutnya masuk berdatangan.


"Sudah dipastikan jika mereka berbohong atau salah paham karena aku dan Angela tidak punya hubungan apa-apa." Bisik Vano lembut, meyakinkan orang spesial yang ada di depannya ini.


Bahkan kedua tangannya tanpa ragu mengusap air mata yang mengalir di pipi Ai.


"Vano.." Panggil Ai gelisah, berbisik ringan di depan Ai.


"Iya Ai, aku di sini." Jawab Vano tanpa ragu, menatap lurus mata persik Ai yang sudah tanpa kacamata penghalang itu lagi. Dengan begini Vano benar-benar bebas menatap keindahan luar biasa yang ada di depannya kini.


"Vano.." Panggil Ai sekali lagi, mungkin ia berniat mengkonfirmasi apakah apa yang di depannya ini nyata atau tidak dan apakah yang baru saja didengarnya tadi adalah nyata atau sebatas khayalan saja.


Seperti hari-hari biasanya, Ai takut jika semua ini tidak nyata.


"Iya Ai, aku masih di sini." Vano tidak pernah bosan mendengarkan Ai memanggilnya, ini justru seakan menjadi candu untuknya.


"Aku..aku dan Angela adalah saudara, apakah kamu tahu?" Jika kamu tahu apakah semua sikap dan kebaikan mu ini karena kami adalah saudara?

__ADS_1


Vano tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya mengiyakan, "Aku tahu, Ai." Jawabnya jujur.


Merasa ragu, dengan kuat Ai meremat kain piyama yang sudah kusut sejak beberapa menit yang lalu.


"Lalu..lalu apakah semua kebaikan yang selama ini adalah karena aku..." Menatap takut mata Vano.


"Saudaranya?" Meski bukan sepasang kekasih tetap saja mereka saling mengenal bukan?


Bahkan mungkin sudah menjadi orang yang penting untuk hati masing-masing walau itu bukan sepasang kekasih.


Vano lagi-lagi tersenyum, tanpa sadar kedua jari-jari di kedua tangannya mengelus lembut pipi Ai yang sudah mulai mengering. Tidak ada lagi cairan hangat yang sempat membasahinya, kemana perginya Vano pun tidak memperhatikannya.


"Mau jawaban bohong atau jujur?" Tanya Vano memberikan pilihan kepada Ai. Tubuh Ai langsung menegang, bertanya-tanya mungkinkah jawaban jujur akan menyakitinya nanti?


Sudah tidak perlu berbohong karena Ai tidak ingin hidup dalam kebohongan, ia tidak ingin terus-menerus membohongi dirinya sendiri. Seperti ketika menatap mata lembut laki-laki yang ada di depannya kini... Ai, tahu mata lembut ini bukan miliknya.


"Tidak Ai, aku mendekati mu bukan karena kamu dan Angela adalah saudara sedarah tapi karena aku mau lebih dekat dengan mu. Aku ingin dekat dan mengenal mu, itu saja dan tidak ada alasan lainnya." Ketika mengatakan ini, suasana hati Vano benar-benar hangat dan lembut.


Hanya karena orang yang ada di depannya, hati Vano seolah dunia yang penuh akan perubahan cuaca. Kadang itu dingin, dingin sampai rasanya ia berada di tengah salju. Kadang itu panas, panas sampai rasanya di tengah gurun pasir. Dan kadang itu lembut, lembut sampai rasanya Vano berada di pertengahan musim semi yang manis dan menghangatkan.


Yah, itu karena Ai.


Orang yang ia coba dekati sejak 8 tahun yang lalu, namun karena kepengecutannya Vano baru membuahkan hasil pada tahun ke delapan ia mendekati Ai.


Ai, orang spesial ini tidak akan lagi Vano lepaskan.

__ADS_1


Tersenyum senang, perasaan manis tidak bisa tidak meluap-luap di dalam hatinya. Perasaan senang yang tanpa sadar membuat kedua tangannya bergetar bahagia, bahkan tanpa ia sadari kedua matanya berkedip dengan getaran yang lembut. Sebuah atraksi yang hanya bisa Vano lihat seorang.


"Apakah itu sebagai teman?" Tanya Ai menebak.


Orang seperti Vano siapapun ingin dekat dengannya, termasuk Ai yang sudah menyukainya sejak 3 tahun ini. Ia tentu saja ingin dekat dengan Vano meskipun hanya sebagai teman..


Tidak apa-apa asalkan masa-masa sekolahnya yang beberapa bulan akan usai ini menjadi lebih bernilai.


"Tidak Ai, aku tidak ingin hanya menjadi teman mu." Tolak Vano langsung.


Hei,


Jika perjuangan hanya sebatas menjadi teman, Vano tidak yakin ingin terus bertahan. Ingat, ia adalah orang yang ambisius meskipun sedikit pengecut jika itu tentang Ai. Jadi, untuk semua usahanya ia ingin Ai hanya miliknya seorang... sampai waktunya tiba nanti, Ai tidak akan pernah ia izinkan kemanapun.


Tertegun, Ai malu dan berpikir mungkin ia terlalu percaya diri sehingga ucapannya bisa selancang ini.


"Aku mau sesuatu yang spesial dan aku harap kamu harus menerimanya suatu hari nanti jika aku datang memintanya." Suara Vano lembut, mengenyahkan keraguan Ai yang sempat membumbung tinggi di dalam hatinya.


Dug


Dug


Dug


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2