
Ai membawa langkahnya dengan hati-hati menapaki tangga terakhir menuju apartemennya. Rasa letih juga lelahnya terkadang memaksa Ai harus beristirahat di beberapa anak tangga sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.
Tidak, ini memang kadang terjadi tapi hanya ketika gelombang sakit diperutnya benar-benar menyiksa. Akan tetapi gelombang rasa sakit yang paling melilit tubuhnya hanya terjadi di beberapa bulan yang melelahkan mentalnya.
Misalnya seperti kemarin ketika ia mendapatkan surat vonis dokter yang mencekik, itu adalah saat dimana Ai begitu enggan membuka matanya dan menerima kenyataan bahwa ia adalah manusia cacat tanpa harapan.
Dan itu membuatnya begitu membenci dirinya yang hanya bisa terlahir sebagai beban juga aib memalukan untuk keluarganya.
"Bunga Tulip?" Bingungnya ketika mendapati sebuah bunga tulib kuning tergeletak di depan pintu apartemennya yang sudah terbuket rapi dan indah.
Menunduk dengan susah payah, Ai kemudian memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan. Menatap sekelilingnya apakah ada tetangganya yang merasa pesanan bunganya belum sampai.
"Apa mungkin ini salah alamat?" Gumamnya menduga karena setahu Ai ia tidak punya kerabat maupun teman dekat yang akan mau memberikannya bunga yang seperti ini. Apalagi bunga ini terlihat lebih besar dan juga mewah dari toko-toko bunga disekitar kota ini, Ai yakin ini dipesan dari tempatnya yang mahal.
"Ah, ada catatan yang ditinggalkan pemilik untuk orang yang dikirimkan."
Dengan cepat ia menarik sebuah catatan tipis yang berbentuk kotak terselip di antara kelopak bunganya.
"Sepeda mu sudah ada di parkiran." Bisik Ai tertegun dan merasa sulit percaya.
Siapa yang begitu baik mengiriminya bunga juga sampai dengan rela mengirimkan sepedanya ke sini?
__ADS_1
Apakah itu Angela?
Mengangkat bahu acuh, Ai sementara tidak ingin memikirkannya dulu karena hari ini ia begitu lelah dan ingin segera masuk ke kamar.
Membuka pintu kamar apartemennya ia langsung melepaskan semua barang yang ia bawa ke atas ranjangnya kecuali makanan yang ia beli dan dapatkan dari Mbok sore tadi.
Setelah melepaskan semua beban yang memberatkan tubuhnya, Ai kemudian dengan perasaan lega menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya yang empuk. Mengangkat tinggi-tinggi bunga tulip kuning pemberian dari orang misterius yang ia tidak bisa menebak siapa itu.
"Kualitas bunga ini jauh lebih tinggi dari bunga toko Oma." Gumamnya sambil mengelus kelopak bunga tulip yang begitu segar dan halus.
Sesungguhnya meskipun bingung Ai juga tidak bisa tidak merasa bahagia karena akhirnya impiannya memiliki bunga tulip kuning tercapai. Bahkan bunga tulip kuning yang ada ditangannya jauh lebih cantik dari toko bunga Oma yang selalu ia idam-idamkan.
Namun karena ini darurat dan tidak ada pilihan lain, maka tidak apa-apa bukan menggunakan ini hanya sekali dua hari karena ia juga berencana sepulang sekolah besok akan mencari vas bunga.
Astaga, sesungguhnya ini begitu lucu!
Bunga ini hanya satu biji dan Ai sangat sadar bahwa bunga ini tidak akan bertahan lama sekalipun ia membeli vas bunga mahal.
Tapi entah mengapa... walaupun ia tahu itu Ai tetap tidak bisa menghentikan rasa antusiasnya terhadap bunga pertama yang ia miliki dan bunga pertama juga dari seseorang yang tidak ia tahu.
"Sekarang istirahatlah dengan nyaman." Bisik Ai kepada bunga itu dengan sayang, seolah-olah bunga itu bisa mendengar juga mematuhi titahnya.
__ADS_1
Dengan hati-hati ia memasukkan bunga tulip kuning kesayangannya ke dalam vas bunga darurat tersebut yang sudah berisi air keran. Lalu dengan hati-hati pula ia menempatkan vas bunga tersebut di atas laci samping ranjangnya.
Setelah dirasa cukup nyaman, Ai lalu membawa langkahnya ke dalam kamar mandi dan membersihkan badannya yang sudah berkeringat banyak hari ini.
30 menit kemudian pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Air dengan baju tidur Teddy Bearnya yang terlihat lebih segar dan hidup dari terakhir kali. Walaupun masih terlihat pucat tapi ini jauh lebih baik dari sebelum ia mandi.
"Makan dulu setelah itu baru minum obat." Ucapnya menasehati diri sendiri seraya menempatkan handuk kecil yang sempat mengeringkan rambutnya ke tempat semula ia berada.
Setelah ia rasa cukup rapi, Ai lalu bergegas ke dapur untuk memulai acara memasaknya. Ia dengan gerakan terbiasa mengelus sayuran yang Mbok berikan kepadanya tadi sore dan menempatkannya di tempat yang bersih. Kemudian ia mulai merapikan mie instan dan beberapa telur yang ia beli sendiri di sebuah rak mini khusus makanan instan.
Mengambil beberapa batang sayuran, ia dengan gerakan tidak beraturan memotongnya cepat dan mencucinya di air keran.
Memasak air menggunakan teflon yang sudah tidak baru lagi, satu butir telur sukses ia masukkan ke dalam sebagai tambahan protein. Beberapa menit kemudian sayuran yang sudah terpotong dan dicuci bersih menyusul telur tersebut di saat air mendidih.
Berselang tiga menit mie instan yang sudah Ai pisahkan bumbunya langsung ia masukkan ke dalam air mendidih ikut bersama sayuran dan telur.
Dan terakhir bumbu mie instan menjadi penutup dari acara memasaknya yang membosankan.
Beberapa menit kemudian, Ai hanya termenung menatap makanan hangat yang ada di depannya. Di sebelah kiri teflon hangat itu ada satu botol kotak bening yang berisi obat pemberian dokter Ares.
Diam.
__ADS_1