
"Ya?" Bingung ku yakin karena tadi mendengar sesuatu yang samar dari Vano.
Aku yakin mengatakan sesuatu tapi tentang apa itu tidak terlalu jelas.
"Bantu aku untuk membangun tenda kita." Perintah Vano masih sibuk dengan kegiatannya.
Ah, jadi seperti itu.
"Ba-baik, Vano." Karena sedikit terkejut perasaan gugup ku tidak bisa ditutupi, aku segera mendekati Vano untuk membantunya. Ah, sebenarnya tidak terlalu dekat karena hatiku tidak akan sanggup menahan debarannya. Oleh karena itu aku sedikit menjaga jarak dari Vano sambil dengan hati-hati mengamatinya memasang kerangka tenda yang entahlah aku tidak tahu apa namanya.
"Nah, kamu diam aja di situ Ai liatin aku. Perhatiin baik-baik biar besok kamu gak bingung kalau berhadapan dengan kondisi yang seperti ini di masa depan." Mungkin karena Vano bisa membaca kebingungan ku, ia akhirnya memberikan ku ruang untuk bernafas.
Sebenarnya meskipun Vano tidak memerintahkan ku, aku juga dengan suka rela akan terus memperhatikan Vano. Ini aku lakukan karena aku tahu setelah ini aku dan Vano akan sangat jarang berinteraksi lagi. Bahkan, mungkin ini yang terakhir karena setelah ini Vano akan sibuk menghadapi ujian persiapan masuk universitas dan kemudian mulai membangun hubungan yang serius dengan Angela.
Dan di saat itu semua terjadi aku akan lebih banyak menghabiskan waktu tidak berarti ku di dalam apartemen sempit nan sederhana yang ku sayangi. Siapa tahu dengan menghilang dari dunia luar aku bisa melupakan rasa sakit patah hati dan segera melupakan orang-orang yang ku sayangi. Yah, berteman dengan sepi bisa membantu ku melupakan mereka semua yang tidak membutuhkan ku.
Termasuk melupakan semua tentang Vano, cinta bertepuk sebelah tangan ku.
__ADS_1
"Vano!" Suara jengkel seseorang berhasil menarik ku dari alam bawah sadar ku. Mengalihkan pandangan ku ke arah sumber suara, aku melihat Angela dan salah satu anak OSIS yang tidak ku tahu namanya namun cukup tidak asing karena kemanapun Angela pergi pasti selalu bersama gadis itu jika tidak ada Vano.
"Kamu di cari-cari kok malah sibuk di sini, bantuin yang lain yuk.. kasian temen-temen yang lain pada kesusahan pasang tendanya." Angela dengan suara manjanya yang khas berjalan mendekati kami.
"Iya Van, anak-anak yang lain pada kewalahan tau pasang tendanya." Gadis yang ada di samping Angela ikut menambahkan, secara tidak langsung ia mendukung laporan Angela kepada Vano.
"Anak-anak OSIS yang cowok kan banyak, masa masih butuh bantuan sih. Lagipula, tenda aku aja masih belum beres jadi mana sempat bantu kalian bangun tenda." Ucap Vano santai, tidak terlalu menganggap serius keluhan Angela dan temannya.
"Tenda kamu," Bingung gadis itu dengan suara yang sedikit naik.
"Maksud kamu apa, Van?" Lanjutnya dengan gerakan samar melirik ku.
"Iya, aku lagi bangun tenda aku buat tidurlah. Kan kamu liat sendiri aku lagi ngapain." Jawab Vano terdengar santai, lagi-lagi ia tidak menganggap serius keluhan gadis itu. Lihat saja cara Vano menjawabnya, Vano seakan terlalu tenggelam dalam pekerjaannya memasang kerangka ke dalam kain anti air ini.
"Lho Van, bukannya kamu tidurnya di tenda OSIS yah bareng kita semua?" Lagi, gadis ini bertanya dengan nada tidak terima. Mungkin ia tidak puas dengan keputusan Vano membangun tenda untuk dirinya sendiri.
Aku juga tidak sempat memikirkan hal ini, pasti anak OSIS yang lain tidak terima dengan keputusan Vano tidur di tempat yang terpisah dari mereka.
__ADS_1
"Emang aku pernah bilang gitu?" Tanya Vano tidak perduli. Kini, ia tidak lagi sibuk memasang kerangka namun berpindah ke sana kemari mengambil batu untuk fungsi yang entahlah aku tidak tahu.
"Kamu emang gak pernah bilang gitu tapi bukannya kamu ini ketua OSIS kita? Masa iya ketua OSIS nya tidur di tempat yang terpisah dari anggotanya, ini gak lucu tahu Van." Suara lembut Angela menengahi gadis itu, Kakak ku selalu seperti ini, terlalu sempurna untuk semua orang yang ada di sekitarnya.
"Itu gak mempengaruhi apa-apa meskipun aku tinggal di tenda terpisah dari kalian, kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan kan aku bisa datang ke tenda kalian. Ini gak seperti aku pindah negara aja jadi gak perlu dibawa serius." Setelah Vano mengatakan ini tidak ada lagi yang berbicara.
Aku yang sedari tadi hanya diam semakin menundukkan kepalaku, berharap dengan begini keberadaan ku tidak menggangu mereka. Tapi tetap saja rasanya tidak nyaman, seakan-akan ada laser merah berkekuatan tinggi yang terus saja menyoroti apapun yang aku lakukan. Ini.. hanya perasaan ku saja bukan?
"Apa karena dia?"
Deg
Aku yakin orang yang dimaksud gadis itu adalah aku, yah, siapa lagi yang selalu mengekori Vano selain aku?
"Jika Ai yang kamu khawatir'kan maka kenapa gak kita masukkan saja dia ke dalam kelompok kelasnya? Di sana ia pasti lebih mudah bergaul dan dapat merasakan perasaan pergi camping yang sebenarnya." Ketika kata-kata ini jatuh, aku sudah tidak bisa lagi mengangkat kepala ku untuk sekedar melihat mereka. Aku mengakui jika apa yang gadis itu katakan memang benar.
Tentu saja semuanya bisa berjalan ketika liburan bersama teman sekelas tapi itu jika mereka bisa bersikap normal kepada ku. Namun sayangnya itu tidak terjadi dan aku hanya bisa menempel kepada Vano karena sejujurnya semuanya saat ini akan sangat menakutkan jika Vano tidak ada di dekatnya.
__ADS_1
"Aku menolak." Tiba-tiba suara malas Vano membuat ku sedikit terkejut. Aku juga bisa menilai jika saat ini Vano sudah tidak sibuk lagi mengurus tendanya yang sedari tadi ia perhatikan.