
Menatap rumah ini aku seakan-akan sedang di berikan sebuah beban yang besar juga memberatkan, akan tetapi anehnya beban ini tidak terlalu menyakiti ku karena tanpa sadar aku juga menantikan saat-saat yang seperti ini di setiap harinya.
Berjalan mendekati rumah tersebut hingga aku benar-benar sampai di depan pintu rumah utama. Aku begitu gugup dan tanpa sadar pelukan ku pada buket bunga ini semakin mengerat. Mengatur nafas dan mencoba tenang, aku pun mengangkat tangan kanan ku untuk mengetuk pintu rumah.
Tok
Tok
Tok
Ketuk ku ringan. Tidak menunggu lama akhirnya pintu yang sempat ku ketuk tadi terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik yang umurnya bisa dikatakan jauh dari dewasa.
“Ai, tante kira kamu gak datang hari ini. Hujannya gak berhenti-henti sih, tante kan jadi rada khawatir.” Suaranya terdengar kesal menyambut kedatangan ku.
__ADS_1
Tersenyum ringan, aku sama sekali tidak mengiyakan atau menyetujui ucapan tante karena pada dasarnya aku sangat menyukai hujan. Orang-orang mungkin tidak tau jika hujan itu sebenarnya sangat mengerti perasaan manusia, terutama pada diriku sendiri. Ketika bersedih hujan tidak pernah mau meninggalkan ku seakan-akan aku ini begitu berharga untuknya.
“Tante tidak perlu khawatir karena saya akan berusaha keras mengantarkan bunga ini bagaimana pun caranya.” Karena sekhawatir apapun tante yang ia khawatirkan hanya bunganya yang bisa sampai atau tidak. Bunga peony yang ku pegang ini adalah bunga kesukaannya jadi wajar saja dia mengeluh.
“Tunggu bentar ya, Nak, tante panggilkan anak tante dulu. Kalo tante yang bawa mungkin gak akan kuat.” Ujarnya seraya membawa langkahnya masuk. Aku sadar tidak bisa ikut masuk karena saat ini aku masih menggunakan jas hujan juga tante tidak menawari ku untuk ikut masuk bersamanya. Lama menunggu, perasaan gelisah tidak bisa ku sembunyikan lagi.
Gelisah karena aku tidak tau respon apa yang akan ia berikan untuk ku. Apakah ia akan terkejut atau ia aka-
“Bunganya, tolong.”
Seketika aku langsung tersadar dari lamunan ku. Di depan ku kini berdiri sosok laki-laki yang sudah lama aku kagumi dan sukai. Tingginya yang seperti model professional, wajahnya yang tampan, dan fisiknya yang sempurna selalu saja membuat ku tersihir setiap kali melihatnya. Sosok tampan ini adalah mimpi terbesar sekaligus terlarang untuk ku kare-
“Permisi, bunganya tolong.”
__ADS_1
“Ya, maaf.” Ucap ku malu karena sekali lagi aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku untuk berpaling darinya. Memberikan buket yang ada di pelukan ku ke tangannya, ia langsung berterimakasih dan meninggalkan ku pergi. Tidak ada emosi apapun dimatanya seperti hari biasanya.
Setiap kali aku mengantarkan bunga kepadanya, ia tidak pernah menunjukkan emosi apapun kepada ku. Sudah biasa, aku sudah biasa mendapatkan perlakuan ini akan tetapi untuk berhenti berharap rasanya itu tidak mungkin karena ia akan selalu ada dihati ku. Menghela nafas ringan, aku berusaha mengatur wajah ku seperti semula. Tidak ada yang terjadi, ya, aku harus bersikap bahwa semuanya baik-baik saja.
“Permisi, pak.” Pamit ku pada satpam rumah tersebut seraya melajukan sepeda ku menuju ke sekolah swasta tempat ku bersekolah selama dua tahun ini. Sekarang aku sudah menduduki kelas 12 Ips kode 8. Kalian tau artinya?
Kode yang ada di belakang adalah sebuah petunjuk kualitas otak atau cara berpikir kami. Ini sama halnya dengan kita menyebutnya sebagai kelas dengan kualitas otak terendah di sekolah ini. Sekolah kami sama tidak sama dengan sekolah negeri lainnya yang adil dan tanpa perbedaan kasta. Tapi di sini berbeda, semakin tinggi kode mereka maka semakin tinggi pula perlakuan yang mereka dapatkan dari guru maupun warga sekolah.
Berhubung aku tinggal di kelas dengan kode terendah maka bisa dikatakan aku adalah siswa yang bodoh atau kami yang berasal dari kelas ini adalah kelas 12 Ips terbodoh. Setiap semester update rangking pasti akan selalu diperbaharui. Ini dilakukan untuk melihat potensi siswa yang maju atau mundur. Jika maju, maka kami bisa dipindahkan ke kelas dengan kode yang lebih tinggi dari kami akan tetapi jika mundur maka mau tidak mau kita harus menerima konsekuensi bahwa kita harus dipindahkan ke kelas yang lebih rendah dari kode sebelumnya.
Setelah sampai sekolah aku langsung memarkirkan sepeda ku di tempat parkir khusus sepeda. Membawa pandangan ku ke sembarang arah, hanya beberapa siswa yang ku dapati baru datang. Menyalakan ponsel ku lihat waktu baru memasuki pukul 06.19. Ini masih pagi jadi wajar saja siswa-siswi masih belum meramaikan sekolah.
Memanfaatkan waktu, langsung saja ku bawa langkah ku menuju kelas ku yang ada di paling pojok deretan kelas ips. Berhubung kami kelas 12 maka pihak sekolah menempatkan seluruh kelas 12 dari ipa maupun ips di lantai satu. Aku tidak tau apa tujuan pihak sekolah menempatkan kami di lantai satu akan tetapi aku sangat bersyukur karena tidak perlu bersusah payah menaiki tangga setiap hari.
__ADS_1
Sesampai ku di kelas tidak ada siapa pun yang ku dapati di sini. Mungkin mereka masih di jalan atau sedang bersiap ke sekolah, entahlah, aku tidak perduli dengan kehidupan mereka. Memasuki kelas langsung saja aku berjalan menuju bangku pojok paling belakang, itu adalah tempat duduk ku di kelas ini. Melepas tas ku di atas meja dan mendudukkan diriku di atas bangku, aku kemudian membawa tas punggung ku menjadi bantal untuk melanjutkan tidur ku yang sempat tertunda tadi. Menjatuhkan kepala ku dengan mengantuk, aku langsung dibawa terbang menjelajahi dunia ilusi atau apa aku tidak mengerti sama sekali. Akan tetapi yang pasti, apa yang aku dapatkan di sini tidak akan pernah aku dapatkan di dunia nyata.