
"Kalian ngomongin apa tadi di sana?" Saat kembali dari pembicaraan ku bersama Bu Dewi, sudah ada Vano yang menungguku di tempat awal dengan wajahnya yang sudah bersih bekas air wudhu.
Aku tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalaku, pembicaraan ini adalah pembicaraan rahasia ku dengan Bu Dewi. Aku tidak ingin Vano tahu permasalahan ku karena yang Vano tahu bahwa aku hanyalah seorang laki-laki biasa, jenis yang sama dengannya.
Vano lantas tidak menanyakan ini lagi, ia kemudian mengangkat ransel hitam yang entah aku tidak tahu apa itu isinya. "Ayo, kita juga harus membangun tenda kita." Ucapnya seraya membawa langkahnya berjalan entah kemana aku tidak tahu. Yang pasti aku dengan patuh mengikutinya dari belakang.
Saat berjalan entah kemana, aku melewati orang-orang yang sedang sibuk membangun tenda masing-masing. Proses itu terlihat sangat menyenangkan jika aku perhatikan dari sini, mereka saling menertawakan ketika upaya mereka membangun tenda gagal. Itu.. sesungguhnya sangat menghibur kelelahan yang mereka semua rasakan.
"Suka?" Tanya Vano mengganggu kegiatan ku memperhatikan keceriaan kelompok lain.
Aku dengan jujur menganggukkan kepalaku, "Mereka terlihat menikmati kegiatan ini, itu cukup menghibur rasa lelah mereka setelah melakukan perjalanan jauh." Itulah yang aku lihat tadi, mereka semua menikmati kegiatan membosankan ini.
"Mereka memang sangat menikmatinya, apalagi jika bersama dengan teman-teman seperjuangan maka semua kelelahan itu tidak berarti apa-apa untuk mereka."
Ah, teman yah?
Tapi aku tidak punya teman jadi mungkin itu akan mustahil untuk bisa merasakan diposisi mereka semua.
"Nah, sekarang kita akan bangun tenda di sini." Suara Vano memvonis sambil menjatuhkan ransel hitam yang sedari tadi Vano bawa.
__ADS_1
"Lalu, dimana anak OSIS yang lain?" Bingung ku ketika melihat di sini hanya kami berdua yang akan membangun tenda. Ini bukan karena aku perhitungan tapi ketahuilah, melakukan suatu kegiatan hanya berduaan dengan laki-laki yang kamu sukai itu sangat mendebarkan. Saking mendebarkannya, jantung mu terus berdetak kencang dan cepat, ini terlalu menakutkan karena bisa saja dia mendengar apa yang ku rasakan. Lalu, kedua tangan ku berkeringat keras dan gemetaran menahan gugup. Ini.. jika bekerja seperti ini aku takut tidak bisa melakukan apapun.
Dia tidak langsung menjawab ku, terlihat sibuk mengeluarkan sesuatu dari ransel hitam itu. "Anak OSIS? Mereka bangun sendiri tenda merekalah. Emang kenapa? Kamu mau satu tenda sama mereka?"
Aku terkejut, jadi maksud Vano tenda ini untuk kami berdua?
"A-aku gak mau satu tenda sama mereka." Jawab ku langsung membantahnya.
"Terus kenapa kamu nyariin mereka?"
Meremat tangan ku kuat, "Aku pikir karena kamu ketua osis jadi harus tinggal di tenda yang sama dengan anak OSIS." Vano kan ketua OSIS jadi wajar saja aku bingung jika ia tidak tinggal di tenda yang sama dengan anak OSIS.
"Lha, emang harus yah?" Tanya Vano lagi tanpa mengalihkan sedikit pun perhatiannya dari kain hitam yang sudah tersebar di atas tanah.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
Ah, aku semakin gugup jika ditanya terus seperti ini.
"Itu karena kamu ketua Osis. Lagipula ini adalah acara terakhir kamu sehingga kamu tidak bisa lepas dari kerja sama dengan mereka. Dan jika kalian satu tenda maka semuanya akan berjalan dengan baik." Aku tidak tahu apa yang sudah aku katakan karena rasanya jantung ku terus berdebar kencang. Aku merasa panik dan kepala ku rasanya buntu sekali, bahkan kedua pipi ku terasa sangat panas.
__ADS_1
Ku lihat Vano menghentikan kegiatannya, ia lalu berdiri menatap ku dengan wajah tampannya yang sedang tersenyum. "Ai, ini memang acara terakhir ku dan kerja sama diantara kami memang penting. Tapi Ai, meskipun itu semua penting dibandingkan satu atap bersama kamu, itu semua tidak ada apa-apanya."
"Satu atap dengan ku?" Suara ku terkejut, apa ini hanya pendengaran ku saja yang salah.
"Maksud ku begini, itu...aku bisa saja pergi ke tenda anak OSIS jika dibutuhkan. Tapi jika tidak ada maka aku bisa beristirahat di tenda kita, kau tahu... tanpa ada keributan di sekitar bisa membantu ku untuk beristirahat dengan tenang." Vano terlihat bertingkah aneh saat mengatakan ini. Aku ragu dengan pemikiran ku yang sempit tapi..tapi aku tidak bisa menampik bahwa Vano saat ini sedang dalam keadaan panik?
Iyakah?
Untuk apa ia panik di depan ku? Itu tidak seperti aku adalah orang yang penting untuk Vano.
"Jadi kita akan tidur di tenda yang sama?" Aku bertanya takut-takut selebihnya merasa ragu, karena yah...itu akan terasa aneh jika orang-orang melihat.
"Apakah kamu keberatan jika kita tidur di satu tenda?" Vano tidak langsung menjawab ku dan malah bertanya balik kepada ku.
Aku dengan gugup menundukkan kepalaku dan dengan jujur menggelengkan kepalaku, yang seharusnya merasa keberatan di sini itu adalah Vano dan bukan aku. Aku, sebagai seseorang yang sangat mencintai Vano tentu saja selalu ingin dekat dengannya. Bukankah itu adalah hal yang wajar untuk ingin tetap dekat dengan seseorang yang kita cintai?
Meskipun... semuanya sia-sia karena orang yang kamu sukai telah menyukai gadis lain tapi, hati ini.. mengertilah, terlalu naif untuk menjauh.
"Lalu kita akan satu tenda." Putus Vano seraya kembali duduk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.
__ADS_1
"Meskipun kamu menolak aku tidak akan pernah mengizinkan mu pergi."
"Ya?" Bingung ku yakin karena tadi mendengar sesuatu yang samar dari Vano.