Dear, Vano

Dear, Vano
23. Jaket Vano


__ADS_3

“Kak Ai?” Gerakan tangan ku tiba-tiba terhenti, melihat ke samping sudah ku dapati Lili berdiri lengkap dengan pakaian seragam putih abu-abu sekolah kami.


“Ya?” Tanya ku bingung karena setahuku kami tidak pernah dekat sebelumnya dan hanya berbicara ketika Vano membawa ku di kafe itu saja.


Ia terlihat tersenyum canggung seraya mendekati ku yang masih memegang setir sepeda ku. ”Kak Ai..emm soal kemarin kenapa Kakak gak balik lagi ke dalam setelah ke kamar mandi?” Jelas sekali suaranya begitu hati-hati saat menanyakan ini.


Selesai memarkirkan sepeda aku langsung menyeret langkah ku masuk ke halaman sekolah yang tentu saja di ikuti olehnya, “Aku punya urusan yang harus di selesaikan, lagipula aku bukan bagian dari anggota osis sehingga ada dan tidak adanya aku di sana tidak mempengaruhi apapun.” Ucap ku memperjelas posisi ku di antara mereka.


Aku bukan bagian dari mereka jadi hadirnya aku begitu tidak sopan untuk mereka yang menjadi anggota osis resmi. Yah, jika hanya berasalan karena Angela adalah saudara ku maka alasan itu sungguh klise karena nyatanya aku tidak membutuhkan hal itu.


“Itu memang benar tapi bukankah ketos Vano sendiri yang mengundang Kakak untuk masuk jadi-“


“Lili,” Aku memotong ucapannya dengan hati-hati agar ia tidak merasa tersinggung. Menatap lurus lapangan sekolah yang akan kami lewati, aku melanjutkan lagi ucapan ku. “Itu…karena ada Angela di sana jadi Vano membiarkan ku masuk.” Alasan apa lagi selain karena Angela adalah saudara ku di sana sehingga Vano membawa ku masuk. Mereka adalah sepasang kekasih jadi wajar saja menghormati ku sebagai saudara Angela.


“Ah..” Aku tahu sekarang ia merasa bersalah kepada ku dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi untuk menyangkal ku. Lili, adik kelas ku ini sedikit berbeda dari yang lain dan entah mengapa aku sama sekali tidak merasa terancam berada di dekatnya.


“Aku rasa itu tidak seperti itu jadi-“


“Lili!” Aku dan Lili spontan mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara. Di belakang kami atau tepatnya di gerbang sekolah ada Ari dan seorang gadis yang menatap kami tajam. Ah, lebih tepatnya pandangan tajam itu Ari tujukan pada ku. Mungkin, ia terganggu melihat salah satu anggota osisnya berdekatan dengan ku.


“Dek, dia sedang mencari mu.” Ucap ku seraya mengalihkan pandangan ku untuk melihat Lili yang kini lebih shock dariku.

__ADS_1


“Kak Ai, aku duluan yah.” Ia tersenyum tipis seraya membawa langkahnya menjauh dari ku dan bukannya menghampiri Ari yang terlihat begitu marah, ia malah berjalan masuk ke salah satu ruangan yang ku yakini adalah ruang osis.


Tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka aku kembali melanjutkan perjalanan ku ke kelas. Ini lebih baik daripada terus berkeliling sekolah tidak jelas, lagipula waktu tidur ku setiap malam selalu terpotong karena mimpi buruk ditambah aku harus bangun subuh untuk mengantarkan bunga ke rumah Vano jadi istirahat ku sudah dipastikan sangat kacau.


"Kak Ai, tunggu!"


Dari jauh aku bisa melihat Lili berlari cepat ke arahku. Tidak, maksud ku bukankah kami baru saja berbicara beberapa menit yang lalu tapi mengapa Lili menghampiri ku lagi?


"Bukankah kita baru saja selesai berbicara?" Tanyaku bingung ketika ia sudah berada di depanku.


Ia mengatur nafasnya dengan terburu-buru, terlihat begitu ceroboh.


"Kak Ai, Kak Ai pakek jaketnya ketos Vano?" Tanyanya dengan nafas yang masih tidak stabil.


Ah, betapa cerobohnya aku tidak melepaskan jaket ini sebelumnya diparkiran dan seharusnya aku tahu bahwa pasti beberapa orang akan familiar ketika melihat jaket Vano. Apalagi anak-anak osis yang selalu bersamanya di sekolah, mereka pasti akan begitu mudah mengenalinya.


"Tidak, jaket ini adalah milik..milikku. Lagipula yang menjual jaket ini juga banyak di sini jadi mungkin saja jaket ku dengan Vano terlihat sama." Elak ku tidak ingin merusak nama baik Vano.


Lagipula apa yang ku katakan itu benar jika jaket seperti ini pasti banyak yang menjual, oleh karena itu seharusnya Lili tidak bisa membantahnya lagi kan?


"Kak Ai benar tapi..tapi seingat ku ketos Vano mendapatkan jaket ini sewaktu pergi ke Paris beberapa bulan yang lalu. Dan aku pikir..jaket ini adalah jaket yang diproduksi di Paris, bisa dibilang satu-satunya stok hanya-"

__ADS_1


"Tunggu Lili, apakah kamu tidak merasa jika sedari tadi Ari sedang memperhatikan kita?" Sebenarnya di sini aku jujur dan tidak jujur.


Aku jujur karena faktanya sejak Lili berlari mendatangi ku, Ari yang jauhnya tidak seberapa dengan kami terus saja menatap kami dengan mata lasernya. Ia seakan ingin mendatangi kami untuk alasan yang masih belum ku tahu.


Dan aku tidak jujur karena seperti yang Lili katakan alasan ku sama sekali tidak berguna. Vano mendapatkan jaket ini dari Paris beberapa bulan yang lalu jadi aku tidak bisa mengelak jika aku ingin.


Pantas saat menggunakan jaket ini rasanya sangat nyaman.


"Udah Kak, abaiin aja dia. Gak usah terlalu diperhatikan karena Lili mau tau kalo jaket yang Kakak pakek ini apakah punya-"


"Aku masuk ke kelas dulu yah." Dengan kecepatan penuh aku melarikan diriku dari Lili yang masih saja mengoceh tidak jelas. Apakah ia tidak tahu jika mata Ari benar-benar menguliti kulit kurus ku. Apalagi ia bersikap seakan aku ingin menculik Lili saja.


"Kak Ai kok lari?!" Aku terus saja berlari secepat yang aku bisa menuju kelas dan tidak meliriknya sedikitpun. Menyelamatkan mental ku jauh lebih baik daripada harus menahan siksaan batin.


"Fiuh, akhirnya sampai juga." Aku mendudukkan diriku yang lelah setelah berlari maraton.


Hei, aku baru sadar jika tenaga ku tidak selemah subuh tadi.


Apa ini karena susu yang Vano berikan?


Atau ini karena jaket yang sedang ku gunakan sekarang?

__ADS_1


Apapun itu aku yakin itu semua karena ada Vano.


__ADS_2