Dear, Vano

Dear, Vano
32. Orang Ketiga


__ADS_3

Begitu keluar dari kelas, Ai dengan semangat kemudian berlari ke parkiran sekolah yang memang sudah sepi.


Memang masih ada beberapa motor yang belum diambil pemiliknya namun parkiran ini bisa dikatakan hanya Ai seorang penghuninya. Berdiri diam di samping motor Vano yang sempat ia naiki pagi tadi, suara degup jantungnya yang berdegup kencang terus saja mengisi pendengarannya.


Membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.


"Ai," Panggil seseorang yang sudah sangat Ai kenal suaranya. Mengalihkan pandangannya gugup, tiba-tiba kedua mata persik Ai jatuh pada dua sosok di depannya.


Membuat senyum malu-malu Ai perlahan meredup, meninggalkan ekspresi canggung yang biasanya.


"Kak Angela sama Vano, yah?" Meskipun sudah tahu sebenarnya jika adanya Angela diantara mereka adalah karena Vano ingin mengantarnya pulang.


"Iya, kamu ngapain di sini, Ai?" Tanya Angela polos selayaknya Kakak seorang adik.


Vano tidak bisa meyakini perkataan Lili kemarin apakah itu benar atau tidak. Karena Angela yang ada di sampingnya kini adalah Angela lembut yang sama bersamanya setiap hari. Sikapnya pun tampak normal di depan Ai, tidak ada pandangan permusuhan.


"Aku.." Ai bingung ingin menjawab apa kepada Angela karena ia takut Angela akan marah lagi kepadanya.


"Dia tadi pagi berangkat sekolah sama aku dan awalnya juga pulangnya sama dia, tapi berhubung kita ada keperluan jadi dia pulangnya naik taksi aja." Jawab Vano menjelaskan kepada Angela, mungkin Vano paham jika Ai merasa canggung diantara mereka.


"Lho, kok Ai bisa berangkat sekolah sama kamu? Bukannya rumah kalian berbeda?" Heran Angela, ia bertanya menuntut dengan rajukan manja pada Vano.


"Iya, rumah kita beda tapi Ai adalah karyawan di salah satu toko bunga langganan Mama. Tiap pagi Ai akan ke rumah anterin Mama bunganya. Jadi karena pagi ini Ai gak sempat sarapan di rumahnya, Mama ajakin dia sarapan bareng sekalian berangkat sekolah samaan." Vano menjelaskan dengan sabar, tidak sadar jika penjelasannya membuat Ai semakin canggung di antara mereka.

__ADS_1


Kondisi ini adalah kondisi dimana Ai menjadi pihak ketiga di hubungan Angela dan Vano, meskipun yah... faktanya memang seperti.


Semua orang sudah mengetahuinya.


"Ai kok bisa kerja jadi karyawan toko bunga? Bukannya Mama sama Papa udah larang yah dan bilang kalau Ai butuh sesuatu tinggal hubungi keluarga aja."


Vano semakin yakin jika selama ini ia dan Papanya salah paham mengenai keluarga Ai. Lihat saja perhatian Angela kepada Ai, tidak terlihat dibuat-buat.


Meremat kain celananya tegang, "Ya, mereka sudah mengatakannya. Tapi aku melakukan itu tulus karena aku mau."


Mengisi rasa kesepian ku yang kian menghampa setiap harinya. Batinnya terluka.


"Terus kenapa lagi Vano gak cerita kalau Ai kerja di sana, padahal tiap hari kamu ketemu dia." Lagi, Angela menuntut penjelasan Vano yang tidak pernah mengatakan apa-apa tentang Ai.


Vano pikir jika semua orang di keluarga Ai mengetahui ini dan membiarkannya dengan santai.


"Ya gaklah, coba aja aku tahu pasti Mama dan Papa gak bakal izinin dia tinggal sendiri lagi dan pulang bersama ku."


Seolah-olah orang tuanya akan melakukan hal itu kepada Ai selayaknya perhatian orang tua di luar sana. Namun, Ai tidak yakin karena ia mengalami sendiri bagaimana sikap keluarganya terhadap dirinya. Mereka tidak seperhatian itu kepadanya, yang ada orang tuanya malu jika Ai dilihat kerabat yang lain. Mereka malu melihat Ai yang cacat.


Namun Vano berpikiran lain, jika Angela mengatakan ini pasti Ai sendiri yang meminta untuk tinggal mandiri di luar. Otomatis keluarganya tidak pernah mengusirnya dari rumah, yah..jadi selama ini ia sudah terlalu salah paham dengan keluarga Ai.


"Udah ah, urusan ini biar aku bilang ke Mama sama Papa aja biar Ai dengar dan lebih patuh. Berhubung waktu udah mau masuk jam 3 siang, lebih baik kita ke supermarket aja dulu buat beli bahan persiapan kemah besok. Aku takut waktu acara kita ada kekurangan persiapan." Usul Angela panik ketika melihat waktu sudah berlalu banyak.

__ADS_1


"Ya udah kita langsung jalan aja yuk, nanti Ai pulangnya naik taksi aja. Ai, gak apa-apa kan kami tinggal di sini?" Tanya Vano merasa kurang enak hati dengan Ai yang masih berdiri kaku di samping motornya.


Terkejut, Ai kemudian dengan cepat menjauh dari motor Vano seraya menganggukkan kepalanya panik.


"Gak apa-apa kok, nanti aku pulangnya naik taksi aja." Jawab Ai tidak ingin melihat Angela dan Vano terbeban karenanya.


"Ya udah, kami pergi dulu yah, kamu hati-hati aja di jalan nanti." Peringat Vano tulus.


Ai dengan panik mengangguk lagi, memperhatikan perhatian Vano kepada Angela yang berusaha naik ke atas motornya. Tempat yang Ai duduki dengan bangga tadi pagi kini telah diduduki oleh saudaranya sendiri.


"Dah Ai, jangan lupa telpon Mama sama Papa yah." Teriak Angela seiring motor Vano menjauh dari parkiran sekolah. Menyisakan Ai yang dengan kosong menatap kepergian mereka.


Biasa.


Rasanya biasa dan ia kuat.


Lagipula orang yang salah di sini adalah dirinya yang terlalu berharap besar hanya gara-gara Vano perhatian kepadanya.


Sekarang apa yang harus ia lakukan?


Pulang ke rumah Vano untuk menemui Mama Vano atau justru langsung pulang ke apartemennya. Tidur sejenak untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Oi," Seseorang menepuk bahu kanan Ai keras.

__ADS_1


__ADS_2