
Di dalam perjalanan pulang, Ai diam-diam memikirkan betapa bahagianya tokoh Elsa di film itu. Meskipun punya kelebihan yang dianggap monster oleh orang lain namun Elsa punya saudara yang sangat menyayangi dan mempercayai ia. Bahkan mereka bersama-sama menghadapi masalah yang diciptakan keluarga mereka bertahun-tahun yang lalu. Saling melindungi dan menyayangi, mereka begitu enggan dipisahkan. Bukan hanya itu, tapi banyak sekali orang yang menyayangi tokoh Elsa setelah ia bisa mengendalikan kemampuannya.
Membuat orang yang ada di sekelilingnya bahagia dan bersyukur atas kehadirannya. Lalu, bagaimana dengan Ai?
Bagaimana caranya ia membuat kekurangan ini menjadi kelebihan sehingga semua orang mau menghargai keberadaannya?
Itu... Ai rasa tidak ada jalan sama sekali.
"Vano, kita kok kembali lagi ke sini?" Ini kan rumah Vano tapi kenapa ia pulangnya ke sini?
"Kamu bakal nginap di sini malam ini biar besok kita ke sekolah jalan samaan." Ucap Vano santai seperti biasa seraya keluar dari mobil.
Tertegun, Ai tentu saja tidak pernah berpikir sampai sejauh ini. Ia juga tidak berharap Vano akan terbuka seperti ini untuknya.
"Ta-tapi..aku gak bisa.." Ai malu jika terus menerus merepotkan keluarga Vano. Meskipun dokter Ares sudah menganggapnya sebagai keluarga tapi tetap saja ini terlalu berlebihan jika harus sampai menginap. Ia menyukai Vano dan Ai ragu jika Vano tidak tahu tentang itu.
Maka dari itu ia tidak ingin membuat Vano muak jika terlalu dekat dengannya.
__ADS_1
"Kamu harus bisain dan aku gak kau dengar bantahan apapun." Tolak Vano tegas seraya menarik Ai keluar dari mobilnya.
Ai yang mau tidak mau keluar dari mobil tetap berpikir keras untuk jangan sampai menginap.
"Barang-barang aku kan masih di apartemen.." Benar, ia masih belum menyiapkan barang-barangnya jadi Vano tidak punya alasan apapun lagi untuk men-
"Kita kan udah belanja tadi di mall, semuanya sudah ada jadi kamu santai aja." Ucap Vano menghilangkan kekhawatiran Ai, lebih tepatnya tidak memberikan Ai kesempatan untuk lari darinya.
"Ah..tapi..tapi.."
"Enggak ada tapi-tapian, kamu masuk aja." Potong Vano tidak perduli lagi. Mendorong Ai masuk ke dalam rumahnya dengan tegas dan keras kepala.
"Ta-tante, aku di sini.." Bagaimana cara mengatakannya jika ia datang ke sini karena ingin menginap, tidak itu lebih tepatnya Vano menyuruhnya menginap di rumahnya.
Mengerti kegugupan Ai, lantas Mama Vano memberikannya sebuah senyuman pengertian.
"Iya, Vano udah bilang kok sama Tante kalau malam ini kamu nginap di sini." Ucap Mama Vano tidak mempermasalahkan sama sekali Ai menginap di sini. Justru itu lebih baik karena Mama Vano khawatir Ai melupakan kebutuhan tubuhnya lagi.
__ADS_1
"Mam, Ai tidur di kamar aku yah." Teriak Vano dengan tas plastik besar hasil belanjaannya dengan Ai di kiri dan kanannya.
Mama Vano mengernyit bingung harus menanggapi bagaimana, jika ia mengizinkan Ai di sana maka ia takut Vano akan berbuat macam-macam dengan Ai. Tapi kalau tidak diizinkan, Mama Vano takut jika Ai merasa tersinggung.
"Iya Van, Ai tidur di kamar kamu aja biar packing-packing buat besok gampang." Tiba-tiba dokter Ares masuk dengan secangkir kopi panas ditangan kanannya. Mendekati Mama Vano, ia merangkulnya dengan mesra seolah memberikan ketenangan untuk sang istri.
"Aku pikir itu tidak perlu dok karena aku bisa tidur di sofa ini saja, sofanya juga empuk kok." Ai merasa tidak enak jika harus satu kamar dengan Vano. Karena dokter Ares pasti sudah memberi tahu keluarganya tentang Ai yang punya kasus khusus.
Ai tidak ingin mereka merasa jijik dengannya karena hei, keluarganya saja yang satu darah dengan Ai merasa jijik apalagi orang lain yang jelas-jelas tidak mengenal Ai.
Mendengar penolakan Ai, Mama Vano bisa merasakan jika anak ini sedang menjaga jarak dengan mereka. Mungkin itu karena Ai masih terkejut dokter Ares adalah suaminya dan selain itu juga semua rahasia Ai ada di tangan suaminya. Mungkinkah ini yang membuat Ai merasa sangat tidak nyaman tinggal di rumah ini?
"Tante memang tidak suka memaksa orang untuk mendengarkan Tante, tapi khusus untuk kamu Tante ingin kamu mendengarkan Tante. Malam ini kamu harus tidur di kamar Vano, lagipula kalian kan satu sekolah dan berteman jadi mengapa harus canggung berada di kamar yang sama?"
Benar, Ai lupa meskipun Mama Vano tahu tentang dirinya tapi ia hanya dianggap sebagai anak laki-laki yang seumuran dengan Vano. Ia adalah seorang anak laki-laki dan bodohnya lagi Ai lupa jika penampilannya seperti ini!
Ketika itu bersama Vano, Ai tanpa sadar akan bersikap seperti gadis-gadis yang ada diluar sana. Pemalu dan ceroboh pada saat yang bersamaan, mungkinkah Vano menyadari sikap bancinya itu?
__ADS_1
"Baik Tante, aku akan mendengarkan Tante." Senyumnya tipis.