Dear, Vano

Dear, Vano
20. Aku Paham


__ADS_3

“Sepeda ku benar-benar ada di sini.” Ucapnya tidak percaya setelah melihat sepedanya yang sangat familiar terparkir rapi di tempatnya seperti biasa. Ai menyentuh sepedanya dengan tatapan tidak percaya bercampur dengan kebingungan. Lalu tangan lembutnya dengan gugup mengelus pinggiran sepeda dengan sayang.


“Baiklah, apakah itu Angela atau tidak aku akan memastikannya hari ini di sekolah.” Gumamnya memutuskan seraya mengayuh sepedanya keluar dari tempat parkir.


Tidak seperti kemarin, hari ini tidak terlalu hujan dan hanya di warnai dengan gerimis kecil-kecil jadi Ai tidak perlu menggunakan jas hujannya lagi. Ia hanya perlu mengayuh sepedanya dengan kecepatan biasa berhubung jalanan pagi ini licin akibat dari hujan semalam. Meskipun gerimis kecil tetapi tetap saja rasanya sakit ketika angin menghempaskannya ke wajah pucat Si.


“Ugh..” Desahnya tidak nyaman ketika merasakan hawa dingin pagi ini cukup mengganggu kesehatan tubuhnya. Ia merasa jika badannya sedikit meriang dan kedua matanya terasa panas sehingga keluar dengan gerimis dan udara dingin seperti ini sebenarnya tidak baik untuknya. Apalagi ia sudah kurang sehat dari beberapa hari yang lalu ditambah dengan hawa dingin serta gerimis pagi ini, maka bisa dipastikan jika kesehatan Ai akan berakhir drop.


“Pagi, Oma.” Sapa Ai setelah sampai di toko bunga tempat ia bekerja. Memarkinkan sepedanya di tempat biasa ia pun melangkah mendekati Oma yang sepertinya sudah selesai menyiapkan buket bunga peony tersebut.


“Pagi.” Ucapnya sama seperti kemarin, selalu fokus pada apa yang ia kerjakan dan bersikap abai pada sekelilingnya.


Memeluk badannya kedinginan, Ai merutuki kebodohannya yang begitu ceroboh tidak membawa sesuatu yang hangat untuk melindunginya dari udara dingin. “Lain kali aku harus mendengarkan suara tubuhku.” Gumamnya kesal pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Berdiam diri melihat kegiatan Oma, Ai kini mengabaikan bunga tulip yang biasanya ia lihat dengan mata penuh kagum. Hal ini di karenakan selain ia punya yang lebih besar, kualitas bunganya pun lebih baik dari bunga yang ada di toko bunga ini. Memang, jika di bandingkan dengan toko bunga di daerah sini toko bunga Oma lah yang terbaik kualitasnya akan tetapi jika di bandingkan dengan toko bunga daerah lain maka toko bunga Oma benar-benar tidak ada apa-apanya.


Tidak tahu harus melakukan apa, Ai membawa tatapannya memandang langit mendung yang perlahan menjadi terang. Tanpa sinar matahari pagi pemandangan ini bisa di salah artikan seperti sudah menjelang malam akan tetapi udara yang segar dan dingin mematahkan argument tersebut dan memberikan kesan bahwa pagi ini adalah pagi yang tidak bersahabat.


Begitu kelam.


“Apakah kau sudah sadar dari kegilaan mu?” Tiba-tiba suara cemoohan Oma masuk ke dalam pendengarannya membuat Ai langsung tersadar dari lamunan.


Mengalihkan tatapannya ia kemudian memperhatikan Oma yang masih sibuk bergelut dengan buket bunga yang lain.”Ya, Oma?” Suara kebingungan Ai meminta penjelasan.


Tertegun, Ai sejenak tidak bisa menangkap apa arti dari kata-kata Oma. Namun setelah berpikir lebih dalam lagi ia akhirnya tahu bahwa Oma sedang mengejek takdirnya. Dengan diam membisu Ai tidak merespon Oma dan lebih memilih menjatuhkan pandangannya menatap dinginnya lantai, menenangkan debaran berdenyut sakit di dadanya.


Lalu kedua matanya tiba-tiba terasa panas, membendung sebuah cairan hangat yang bisa saja mengalir mulus jika mengedipkan mata persiknya yang indah. Namun itu tidak ia lakukan karena ia tahu jika Oma melihatnya semenyedihkan ini maka ia akan semakin mempermainkannya dan Ai tidak ingin itu terjadi. Sebagai ganti rasa sakitnya ia dengan kuat meremat tangannya, menyampaikan rasa sakit yang begitu perih juga menyesakkan.

__ADS_1


Tidak mendapatkan respon apapun dari Ai, Oma sekali lagi mengejek kelemahan Ai di tempat ini.”Biasanya kau akan bersikap aneh saat mendekati bunga tulip yang ada di sana, bahkan kau bersikeras ingin membelinya dan memberikan ku sebuah tatapan memohon yang cukup menjijikkan untuk dilihat. Tapi tumben hari ini kau sedikit normal.” Ucap Oma memberikan rasa penghinaan kepada Ai yang hanya diam menunduk dan tidak memberikan respon apapun.


Ia hanya bisa berdiri diam dan menundukkan kepalanya tidak berdaya dan memberikan gambaran sebuah perasaan putus asa yang sudah lama berkarat dalam dirinya yang kosong dan hampa. Hidup sendiri tanpa pendukung ia sudah terbiasa dengan sebuah penghinaan dan tatapan menghakimi dari orang-orang akan tetapi walaupun terbiasa akan rasa sakit itu tetap saja tidak membuatnya terbiasa. Itu hanya akan terus membuatnya tidak berdaya dan menerima tanpa daya terhadap lelucon dunia yang begitu menikmati rasa kekalahan Ai.


Ia sadar bahwa dirinya tidak pantas dan tidak punya tempat untuk kembali maka diamlah, jangan menambah luka lagi karena sekali lagi ia hanya mahluk cacat yang tidak berdaya.


“Ini bunganya, hati-hati dan jangan sampai mengecewakan klien.” Ucap Oma seraya memberikan Ai buket besar bunga peony ke dalam pelukannya.


“Ya, Oma.” Ucap Ai mendengarkan seraya membawa keluar bunga tersebut bersamanya. Menaruh bunga tersebut dengan hati-hati di dalam keranjang sepedanya ia pun mulai mengayuhnya dengan kecepatan pelan dan berhati-hati.


Dalam perjalanan, Ai tidak bisa lagi menyembunyikan wajah sendunya yang begitu menyedihkan. Mengingat semua yang dikatakan Oma tadi membuat tubuhnya bergetar tanpa sadar. Rasa kesedihan dan ketidak berdayaan membuatnya selalu seperti ini, cengeng dan lemah walaupun sebenarnya itu tidak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar lemah.


Menatap langit yang masih mendung, bibir pucat Ai yang tipis dan kemerahan tertarik menjadi sebuah senyuman, ya, sebuah senyuman yang miris dan putus asa.

__ADS_1


Aku paham. Batinnya tidak berdaya.


__ADS_2