
Lalu, bagaimana caraku mengembalikan jaket ini?
Bagaimana jika sepulang sekolah nanti aku mencucikannya sehingga besok pagi aku bisa mengembalikan saat mengantarkan bunga ke rumahnya.
"Baiklah, itu ide yang bagus." Memeluk badanku yang terbalut jaket, ada wangi Vano yang menguar bebas di sekeliling ku.
Memeluknya kuat, aku menghirup wangi Vano dengan bebas dan penuh fantasi. Seakan-akan Vano yang asli memang sedang memelukku di sini bersama dengan rasa cintaku yang bertepuk sebelah tangan.
"Namun tetap saja aku tidak rela mengembalikan jaket ini kembali kepadanya." Karena aku tahu mungkin setelah ini kami tidak akan pernah berbicara lagi.
Ah, padahal sebentar lagi kami lulus SMA tapi mengapa sulit sekali menghilangkan rasa ini dari dalam hatiku?
...🍃🍃🍃...
"Katanya sih seluruh kelas 12 akan pergi kemah bersama sebelum kita sibuk ujian akhir sekolah." Diam-diam aku menundukkan kepalaku menatap buku bacaan yang ada di depanku.
Ini adalah informasi penting jadi aku harus mendengarkannya.
"Dengar-dengar sih juga gitu tapi tunggu aja dulu kesepakatan antara sekolah dengan OSIS, apalagi adikku juga bilang kalo ini masih di rapatin jadi belum tentu kita bisa pergi kemah."
"Moga aja sih ya, karena setelah ujian sekolah nanti kita pasti di sibukin sama ujian masuk universitas dan waktu buat liburan dijamin gak bakal ada."
"Iya ih, biar bisa dekat sama si doi juga. Kan lumayan tuh waktu malam api unggun bisa jadian."
Kemah?
Hem, aku ragu akan ikut jika sudah disetujui sekolah. Tapi jika aku tidak ikut nanti kesempatan ku untuk melihat Vano pasti akan menipis karena seperti yang mereka katakan tadi kami akan disibukan dengan ujian sekolah dan ujian masuk universitas.
Entahlah, mungkin..yah, mungkin tidak. Aku tidak akan ikut karena mereka pasti bingung ingin menempatkan ku tidur dimana.
Jika di tenda laki-laki aku yakin mereka tidak akan Sudi apalagi tenda perempuan yang jelas-jelas mustahil untukku.
Atau..atau bagaimana jika di tenda Angela?
Ah, ya aku bisa tidur bersama saudara ku dan tidak akan ada berani protes jika bersama Angela.
Sudah diputuskan!
"Sudah waktunya minum obat." Setelah melihat waktu aku baru sadar jika ini adalah waktu istirahat kedua.
Mungkin karena hanya makan satu sendok tadi malam perutku jadi terasa tidak nyaman. Minum obat juga harus didahulukan dengan makan makanan maka aku tidak punya alasan lagi untuk tidak pergi ke kantin.
Mengambil botol obat aku langsung keluar dari kelas menuju kantin sekolah kami yang terlihat tidak seramai istirahat pertama.
Mungkin karena kebanyakan yang laki-laki pergi ke mushola sekolah untuk melaksanakan sholat Zuhur.
__ADS_1
Yah, dan sebagian perempuan juga tentunya.
Aku?
Aku sudah lama melupakan rutinitas agama seperti ini karena Tuhan pun sudah melupakan ku sejak terlahir ke dunia ini.
Simpel saja, kita semua punya nilai timbal balik yang harus dibayar.
Setelah mengambil beberapa makanan ringan lantas aku tidak langsung kembali ke kelas dan memilih duduk di kantin.
Kantin tidak ramai dan sudah dipastikan bahwa tidak ada kawanan preman sekolah yang selalu membuli ku, maka aku bisa tenang.
"Ai?"
"Ya?" Bingung ku ketika melihat seorang gadis mendatangi ku.
"Ini ada titipan buat kamu dari seseorang." Ujar gadis itu seraya memberikanku sebuah tupperware.
"Mungkin.. mungkin kamu salah orang.." Ucapku sopan seraya mendorong tupperware ke hadapan gadis itu.
Tersenyum manis, "Gak mungkinlah karena seseorang itu sendiri yang menunjukkan aku siapa yang bernama Ai."
"Seseorang itu siapa?" Tanyaku penasaran sambil mengedarkan pandanganku ke sembarang arah.
Termenung, aku kemudian dengan canggung meraih tupperware yang ada di depanku.
"Ini masih hangat." Gumam ku semakin bertanya-tanya siapa gerangan orang yang baik hati memberikan makanan ini.
Ketika membukanya aku menemukan beberapa lauk khas rumahan. Tidak ada di restoran mewah memang namun rasanya jauh melampaui makanan yang dibuat khusus di restoran mahal.
"Hem, mungkin ini dari Mbok." Hanya Mbok yang selalu mencari tahu keadaan ku, bahkan ia rela memberikan setengah gajinya kepada ku.
Bertanya-tanya, siapakah orang tuaku sebenarnya?
Kenapa orang lain lebih perduli tentang hidupku dari pada keluarga ku sendiri?
"Tapi..tapi ini bukan masakan Mbok." Ini enak, memang mirip makanan rumah tapi..tapi ini bukan masakan Mbok.
Nah, maka seseorang itu berarti bukan Mbok.
"Kak Ai~"
Mengangkat kepalaku sambil mengunyah, aku sudah menduganya jika pemilik suara ini adalah Lili.
"Mau makan, gak?" Tawarku kepadanya dan entah mengapa tiba-tiba aku bertingkah akrab kepadanya.
__ADS_1
"Ih, mau dong kalo bareng Kak Ai." Ia begitu antusias mendudukkan dirinya di kursi samping ku.
"Hem..enak banget Kak.." Ungkapnya senang setelah memasukkan satu sendok makan penuh ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan makannya gak usah terburu-buru.."
"Tapi kok Kak.. masakan ini sedikit familiar yah.."
Memutar bola mataku malas, "Iyalah gak asing lha wong ini makanan rumahan bukan restoran."
"Oh, iya-iya yah.."
"Kamu abisin dulu gih soalnya Kakak udah kenyang." Mengambil satu tablet tanpa ragu aku memasukkannya ke dalam mulut dan meminum air putih sebagai dorongan.
"Cek..cek..gagal dapatin Vano kini giliran anak buahnya yang jadi sasaran, Ai, Ai lo kok lama-lama makin jijik'in yah."
Deg
Dengan kaku aku mengalihkan pandanganku menatap Vivi yang kini juga menatapku dengan ejekannya.
Terdiam, aku kembali membawa pandangan ku ke pada botol air mineral yang tersisa tinggal setengah botol.
"Eh, Vi, kira-kira lo percaya gak kalo si Ai sama si Angela itu saudaraan?" Bela, gadis yang ada di samping Vivi sepertinya ingin sekali menjatuhkan ku.
"Kembaran maksud lo?"
"Yah..siapa yang tahu."
"Gila aja gue sebagai teman kelas Angela gak akan percaya dengan isu gak masuk akal itu. Ya kali coba mereka kembaran, dari wajah aja mereka jauh berbeda apalagi dari segi otak coba. No, oh big no, itu cuma hoaks dan gak real."
Menundukkan kepalaku dengan tidak berdaya, aku berusaha menahan air mataku yang sudah ada di pelupuk. Terasa panas dan berat sehingga membuat ku begitu takut untuk berkedip.
Seperti kalian, aku pun meragukan hubungan darah ku dengan Angela. Aku ingin tidak percaya namun faktanya kami memang sedarah bahkan lahir berbeda satu atau dua menit.
"Kak Vivi gak boleh gitu dong, menilai orang dari luar itu gak baik lho Kak."
"Gak usah dibelain dek karena seharusnya lo tu sadar kalo si Ai cuma manfaatin lo doang biar bisa dekat sama Vano."
Aku tidak pernah memanfaatkan Lili dan aku tidak pernah berusaha ingin dekat dengan Lili. Aku tahu batasan ku karena itulah aku berusaha menghindari kalian.
"Kak Ai orangnya gak gitu Kak, Kak Vivi-"
"Aku permisi dulu." Mengambil obatku aku kemudian berjalan menjauh dari mereka semua. Sesekali angin siang yang bertiup ringan menampar badanku. Membuat ku tanpa sadar mengusap lenganku kedinginan.
Hah, badan ku terasa tidak nyaman lagi.
__ADS_1