
"Ini adalah gaji mu bulan ini dan untuk seterusnya kau tidak lagi bekerja di toko ku. Ai, kau Oma pecat karena pekerjaan mu berantakan di bulan ini sehingga merugikan konsumen ku." Narasi Oma sambil melemparkan Ai amplop kuning tersebut.
Tak
Itu mengenai tepat kepala Ai, membuatnya merasa rendah dan hina diwaktu yang bersamaan. Seakan-akan selama ini ia hanya mengemis saja di tempat ini dan bukan bekerja.
Kejamnya, padahal selama ini ia sudah berusaha keras untuk menuruti segala keinginan orang tua ini. Meskipun harus dihina dan dipandang sebelah mata setiap harinya, ia selalu sabar dan berpikir bahwa orang ini adalah orang yang sudah lanjut usia.
Akan tetapi.. jika sampai serendah ini ia diperlakukan, Ai rasa keluar dari toko ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupnya. Di sini bukan tempatnya dan di sini bukanlah ladang rezekinya.
Di luar sana pasti ada dan Ai hanya perlu mencarinya dengan tekun.
"Terimakasih Oma, kalau begitu Ai pamit dan tolong jaga diri Oma." Ia mengucapkan pamit dengan rasa syukur yang melegakan.
Melangkah pergi melanjutkan perjalanannya ke rumah Vano, mungkin untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini ia tidak bisa ke sana lagi mengantarkan bunga setiap pagi.
Melihat senyuman ramah Mama Vano yang menyenangkannya, Ai pasti merindukannya besok.
Dengan taksi perjalanan jauh lebih mudah dan cepat, hanya butuh beberapa menit kini Ai sudah berdiri kaku menatap gerbang rumah mewah keluarga Vano.
Ting nong~
"Lho, Mas Ai?" Kaget satpam itu melihat kedatangan Ai di siang ini bahkan tanpa bunga di pelukannya.
__ADS_1
"Iya, Pak. Tante Vano ada?" Tanyanya sopan.
Tahu bahwa Ai dan Mama Vano punya hubungan dekat, "Ada kok di dalam, Mas Ai masuk aja langsung." Ia membuka gerbang untuk Ai lewati.
"Terimakasih banyak, Pak." Ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam.
Mengedarkan pandangannya, di sana sepedanya masih terparkir rapi di tempat. Seakan-akan tidak pernah tersentuh oleh siapapun.
Tok
Tok
Tok
"Eh Ai, Tante kira siapa. Yaudah masuk aja yuk, diluar panas." Mama Vano begitu terkejut melihat kedatangan Ai yang mendadak, apalagi di jam sekolah seperti ini.
Melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan ekspresi Ai, Mama Vano juga menyadari bahwa kulit wajah Ai jauh lebih pucat dari yang kemarin.
Ini buruk, pikirnya.
"Tante sebenarnya mau minta bantuan kamu di dalam berhubung Papa Vano masih kerja di kantor, tapi sepertinya Ai gak bisa yah bantuin Tante..ya, udah deh Tante-"
"Tante Ai bisa kok, serius." Potong Ai cepat karena merasa kurang enak dengan Mama Vano.
__ADS_1
Apalagi ia kemarin tidak jadi datang ke sini sehingga mau tidak mau Ai harus menebus janjinya tersebut.
"Beneran Ai gak keberatan?" Mama Vano pura-pura memastikan kesungguhan Ai.
Ai dengan jujur mengangguk, "Iya, Tan, Ai gak keberatan kok."
"Tadi waktu Tante ajak masuk ke dalam kenapa Ai nolak Tante?"
Merasa malu, "Ai gak mau ngerepotin Tante kayak kemarin, makanya Ai nolak masuk ke rumah Tante." Jawab Ai malu-malu, melirik Mama Vano dengan takut-takut.
"Astaga, Tante kira ada apa. Ya udah yuk, kita masuk aja ke dalam sebelum masuk waktu makan siang." Ajak Mama Vano seraya menarik tangan kurus Ai masuk ke dalam rumah.
Seperti sebelumnya, Mama Vano menarik Ai masuk ke dalam dapur. Di dalam dapur semua makanan sepertinya sudah siap untuk disajikan, jadi apa yang perlu Ai bantu jika semuanya sudah siap?
Tunggu dulu, ini seperti Ai berharap jika Mama Vano mengajaknya masak bersama. Benar-benar miris.
"Ai bisa bantu Tante goreng ayamnya, gak?" Mama Vano memberikan Ai pekerjaan yang mudah. Cukup duduk di depan wajan penggorengan seraya memperhatikan daging ayam yang digoreng.
"Bisa kok, Tante. Cuman Ai gak tahu ukuran matangnya Tante kayak gimana, Ai takut nanti salah."
"Ukuran matangnya Tante sama aja kok kayak Ibu-ibu yang lain, nanti kalau daging ayamnya sudah berwarna kekuning-kuningan berarti tandanya daging ayamnya sudah siap diangkat. Itu aja kok Ai, gampang kan?" Instruksi Mama Vano memberikan arahan.
Dengan patuh Ai mengerti dan mulai melaksanakan pekerjaannya. Menggoreng daging ayam yang sebenarnya hanya perlu ia awasi dengan duduk diam di sini.
__ADS_1
Sekarang hanya Ai seorang yang ada di dapur ini. Mama Vano dan pembantunya entah kemana perginya Ai tidak tahu karena mereka tidak mengatakan apapun setelah menyajikan semua makanan di atas meja.
Mungkin.. mungkin mereka sedang menatanya di atas meja makan sana karena terdengar suara-suara piring yang digeser. Kapan terakhir kali Ai mendengar suara ini?