Dear, Vano

Dear, Vano
58. Takdir Ku


__ADS_3

"Silakan duduk Ai." Bu Dewi dengan santai duduk di salah satu kursi, membuka box pendingin yang ada di sampingnya dengan satu gerakan. Kemudian Bu Dewi mengambil salah satu minuman energi yang cukup familiar untuk masyarakat Indonesia.


"Mau minum enggak?" Tawarnya kepada Ai yang baru saja mendudukkan dirinya di atas kursi.


"Ibu saja." Tolak Ai yakin sama sekali tidak tertarik dengan minuman tersebut. Lagipula ia masih punya minuman yang Vano berikan kepadanya dan itu cukup untuk sampai nanti malam.


Bu Dewi tidak memaksa dan langsung meminumnya di depan Ai, "Ibu tidak perlu berbasa-basi lagi dengan mu, Nak." Bu Dewi mulai berbicara serius di depan Ai.


Ai dengan patuh mendengarkan tanpa menyelanya.


"Kondisi tubuh mu, Ibu sudah tahu semuanya dari kedua orang tua mu."


Ai tanpa sadar meremat kedua tangannya menahan sakit.


"Oleh karena itu Ibu membawa mu ke sini untuk membicarakannya. Ai, Ibu tahu dengan kondisi mu yang seperti ini pasti kamu bingung bagaimana cara menjalankan ibadah seperti teman-teman mu yang lain. Apakah Ibu benar?"


Ai dengan jujur mengangguk, rasanya sangat pahit.


Menghela nafas panjang, "Lalu, apakah selama ini kamu tidak pernah melakukan ibadah?" Tanya Bu Dewi terdengar berat.


Lagi-lagi Ai tidak mengatakan apapun dan hanya menjawab dengan anggukan. Ia tidak pernah beribadah seperti seorang muslim pada umumnya dan itu memang sangat menyakitkan. Pada awalnya ia belajar beribadah seperti apa yang laki-laki lakukan, namun ketika mengingat dirinya menyukai laki-laki Ai langsung menghentikan langkahnya.


Setelah itu ia mencoba beribadah selayaknya muslimah, namun lagi-lagi ia tersadar jika fisiknya adalah laki-laki dan itu tidak diragukan lagi jika 85% bagian tubuhnya memang laki-laki. Ia tidak melanjutkan lagi langkahnya dan hanya berdoa saja ketika waktu sholat datang.


Bayangkan, betapa sakitnya Ai terombang-ambing dalam ketidakpastian ini.

__ADS_1


"Sama sekali?" Tanya Bu Dewi sangat terkejut. Walaupun banyak orang muslim tidak menjalankan ibadah dengan baik itu sudah biasa bagi Bu Dewi karena ia tahu hati seseorang tidak ada yang bisa mengukur keimanannya. Tapi ini pertama kalinya Bu Dewi menemukan kasus dimana ada seseorang yang kebingungan memilih jalannya untuk beribadah. Apakah ia harus seperti muslimah atau justru seperti muslim, tubuhnya terlalu rumit.


"Aku kadang berdoa jika merindukan Sang Pencipta." Bisiknya terdengar sedih. Ai tahu bahwa takdir begitu kejam untuknya tapi tetap saja ia juga membutuhkan perasaan damai itu yang hanya datang dari Allah saja.


"Ah... apa itu karena jenis kelamin mu?"


Ai dengan jujur mengangguk.


Bu Dewi mengangguk paham, bahkan kedua alisnya tertarik tumpang tindih menampilkan pose berpikir yang terbiasa.


"Apakah kamu menyukai seseorang?" Setelah berpikir sebentar Bu Dewi akhirnya merasa tercerahkan dan dengan cepat mengajukan pertanyaan.


Ai tidak menjawab, respon wajahnya yang mulai memerah memberikan Bu Dewi cahaya bahwa rencananya ini pasti membuahkan hasil.


"Tidak apa-apa Ai, kau hanya perlu mengangguk saja jika benar dan menggelengkan kepala mu jika tidak." Mengerti keraguannya, Bu Dewi dengan sabar menarik respon Ai.


Kini Ai tidak bertele-tele dan dengan malu menganggukkan kepalanya.


Bu Dewi sangat puas dengan responnya, lalu ia mulai melanjutkan lagi penyelidikannya.


"Apakah orang itu perempuan atau laki-laki?" Tanya Bu Dewi hati-hati.


Ai menggenggam kuat kedua tangannya melampiaskan rasa gugupnya. Tidak apa-apa memberi tahu Bu Dewi karena bagi Ai, Bu Dewi bukan orang asing lagi.


Memikirkan hal ini, ingatan akan wajah tampan Vano yang tersenyum tadi melayang-layang di dalam kepalanya. Membuat pipinya terasa panas untuk yang kesekian kalinya, "Dia seorang laki-laki." Jawab Ai dengan suara yang ringan dan lembut, ia tidak menyadari jika kedua pipinya kini bersemu merah.

__ADS_1


Bu Dewi awalnya tertegun melihat kepolosan Ai, namun ketika mengingat kondisi rumit Ai, Bu Dewi tiba-tiba merasa sedih. Ia bisa menebak jika Ai pasti begitu kesakitan dengan perasaannya.. yah, perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.


"Ah.." Bu Dewi tiba-tiba merasa linglung dengan pemikirannya.


"Kalau begitu maka kamu harus sholat seperti perempuan karena orang yang kamu sukai adalah seorang laki-laki." Bu Dewi memberikan kesimpulan penyelidikannya setelah memperbaiki suasana hatinya.


"Tapi..fisik saya.." Suaranya melemah, memperlihatkan betapa tidak berdayanya ia.


"Tidak apa-apa Ai, Tuhan tahu betapa kamu mencintai-Nya." Yah, Bu Dewi tidak tahu harus menghiburnya dengan cara apa dan hanya memasrahkan semuanya kepada Allah. Sang pemilik skenario.


Ai tertegun, menundukkan kepalanya ia lalu mengangguk dengan lemah. Bu Dewi sedang tidak di posisinya, ia terjebak dalam lingkup cinta dan benci dengan Tuhan. Ia mencintai Tuhan karena dengan mengingat Tuhan hatinya menjadi lebih tenang, tapi..Ai juga tidak lupa akan takdir yang Tuhan berikan dengan kejam. Ai membenci takdir itu.


"Ya, Ibu benar." Suaranya miris.


Tuhan tahu betapa tersiksanya Ai selama ini tapi mengapa Tuhan hanya menontonnya saja tanpa melalukan apa-apa?


Ai sakit dengan pemikirannya ini.


"Ya sudah, karena semuanya sudah selesai lebih baik kita kembali saja ke tempat kemah. Pasti yang lain sudah lama menunggu kita." Setelah memberikan pencerahan kepada Ai, Bu Dewi menjadi lega dan memutuskan untuk kembali ke tempat kemah.


Ia takut jika yang lain sudah lama menunggu sehingga ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk bersantai di sini.


"Ayo." Ajak Bu Dewi sekali lagi memimpin jalan.


Ai sejenak ragu melangkah, namun karena tidak ingin mengganggu Bu Dewi ia akhirnya melangkah juga. Wajahnya kini terlihat kaku dan sedikit pucat, bahkan cahaya matanya bersinar redup, terlihat linglung.

__ADS_1


Tuhan, mengapa selama ini Kau hanya diam melihat penderitaan ku? Ini... takdir yang Kau berikan terlalu menyakiti ku, rasanya sangat menyakitkan.


__ADS_2