Dear, Vano

Dear, Vano
61. Bagaikan Sebuah Mimpi


__ADS_3

"Aku menolak." Tiba-tiba suara malas Vano membuat ku sedikit terkejut. Aku juga bisa menilai jika saat ini Vano sudah tidak sibuk lagi mengurus tendanya yang sedari tadi ia perhatikan.


"Tapi teman-"


"Raya," Panggil Vano terdengar tidak senang.


"Aku sudah mengatakannya jika aku menolak gagasan itu dan kamu tidak diizinkan lagi menyebutkan masalah ini selama di sini." Lanjut Vano yang membuat suasana sekarang terasa lebih canggung. Bukan hanya untuk ku saja tapi untuk ku saja tapi Angela dan Raya pun merasakannya.


Aku semakin tidak nyaman diantara mereka. Ini seperti aku terlihat sangat menggangu untuk anak Osis, merebut ketua Osis mereka dan menempelinya seharian itu tentu saja tidak bisa diterima mereka.


"Ketos, aku yakin setelah ini kau akan berubah pikiran." Raya, gadis itu terlihat sangat tidak suka kepada ku. Ia melirikku dengan tatapan tidak senang sebelum pergi kembali ke tenda anak Osis yang hampir saja selesai ditangan anak laki-laki.


"Vano, jangan terlalu dipikirkan tentang apa yang dikatakan Raya. Dia..yah, kau tahu sendiri bukan jika dia sedikit kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Jadi, emosinya sedikit tidak stabil dan aku yakin setelah ini ia akan membaik jika beristirahat di dalam tenda." Kakak ku yang sedari tadi diam akhirnya menjelaskan kondisi Raya yang katanya sedikit kelelahan setelah perjalanan jauh.


Namun, Vano tidak langsung merespon Angela sehingga membuat suasananya canggung semakin terasa. Aku tidak tahu mengapa tapi intuisi ku mengatakan jika Vano saat ini sedang marah. Marah?


Entahlah, aku sebenarnya tidak yakin.


"Ka-kalau begitu aku harus kembali ke tenda Osis. Vano, Ai, selamat tinggal." Lalu suara itu disusul dengan suara ringan kaki Angela yang berjalan menjauh dari tenda kami.


Yah, tenda kami.


Nah, setelah kepergian Raya dan Angela membuat ku akhirnya bisa mengangkat kepala ku dan menemukan Vano yang kini sedang menatapku rumit. Aku awalnya sedikit terkejut, namun karena tidak ingin terlihat terlalu jelas menyukai Vano, aku berusaha sekuat mungkin untuk mengendalikan ekspresi ku di depannya.


"Sebenarnya apa yang dikatakan mereka benar, aku seharusnya bergabung bersama teman sekelas ku. Lagipula ini adalah liburan bersama jadi menghabiskan waktu dengan teman sekelas akan sangat menyenangkan." Ucapku terpaksa, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Vano saat ini. Mungkin saja ia sedang menyesali keputusannya untuk tidur di tenda yang sama dengan ku , karena...yah, karena tadi Angela terlihat sangat sedih di depan Vano.

__ADS_1


"Jangan bercanda, semuanya sudah sesuai dengan rencana dan kamu tidak diizinkan untuk kembali ke tenda kelas mu." Ucap Vano tidak senang sambil membawa masuk semua tas ransel ke dalam tenda.


Ah, tenda. Sejak kapan tenda ini ada?


Perasaan beberapa menit yang lalu tenda ini belum ada tapi kenapa tiba-tiba sudah berdiri saja?


"Ayo, masuk Ai." Suara berat Vano muncul dari dalam tenda.


"Ah, i-iya." Aku dengan kaku membawa langkah ku masuk ke dalam tenda kami yang sebenarnya ukurannya sangat pas. Ini tidak terlalu besar atau kecil, seperti dibuat hanya untuk dua orang saja.


...🌹🌹🌹...


Begitu Ai masuk ke dalam tenda ia dibuat terkejut dengan kenyamanan yang ia temukan. Tenda biasanya yang ia lihat tidak sehalus ini dan ketika tidur pun kita harus menyediakan kasur tidur yang hangat. Akan tetapi tenda ini berbeda, alasnya saja sudah sangat lembut dengan busa-busa empuk di dalamnya.


Ai bisa membayangkannya jika malam tiba tenda pasti akan terasa hangat, ia tidak takut terserang suhu dingin yang tiba-tiba melonjak nanti malam.


"Baguskan, kamu suka gak?" Tanya Vano terlihat bangga dengan tenda yang ia beli. Ia sudah menebak jika tubuh Ai rentan terhadap dingin, oleh karena itu ia sengaja membeli tenda mahal limited edition saat pergi ke mall bersama Angela beberapa hari yang lalu. Dan karena tenda ini Vano harus rela meninggalkan Ai sendirian di parkiran sekolah. Apalagi saat tahu jika kepergiannya justru membuat Ai harus dipukuli anak sekolah membuat Vano tanpa sadar merasa menyesal. Entahlah, ketika melihat senyum nyaman Ai saat ini membuat rasa menyesal Vano berkurang sedikit. Hanya... sedikit.


Ngomong-ngomong masalah yang kemarin, Vano masih ingat dengan komplotan anak kelas yang memukuli Ai dan momen ini adalah waktu yang tepat untuk pembalasan!


"Ai, sini deh aku olesin salep." Setelah membereskan barang-barang mereka, Vano mengambil salep dari dalam tasnya dan berniat untuk mengolesi Ai salep ke luka lebamnya.


Ai sontak panik ketika Vano mengatakan ini, hei.. mereka sedang di dalam tenda bukan di rumah! Apalagi pintu tenda Vano transparan yang siapapun bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam rumah.


"Vano, kita sedang di dalam tenda." Tolak Ai seraya bergerak menjauh dari Vano.

__ADS_1


"Gak masalah kok, ini kan ada tirainya jadi bisa ditutupin." Vano tidak ambil pusing dan langsung menurunkan tirai hitam dari atas pintu tenda. Lalu, mereka berdua tidak bisa lagi melihat apapun yang ada di luar.


"Tapi... yah, kita kan sebentar lagi mandi jadi salepnya jadi terbuang sia-sia." Nah, karena ia diingatkan tentang masalah mandi Ai kembali merasa tidak nyaman. Dimana lagi ia bisa mandi di tempat ini.


"Astaga, kamu benar." Melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 16. 27 sore. Ah, sudah waktunya sholat ashar.


"Ya udah, kita pergi mandi yuk sebelum kita gak dapet tempat nanti." Ajak Vano menempatkan salep di tempatnya semula, lalu ia kemudian mengeluarkan dua handuk lengkap dengan peralatan mandinya.


Itu semua milik Vano, pikir Ai.


Dan karena itu milik Vano maka Ai juga akan punya wangi yang sama dengan milik Vano. Memikirkan ini, kedua pipinya terasa panas.


"Nanti di kamar mandi kamu mandi duluan habis itu baru aku." Jika ingin Ai selamat dari tatapan laki-laki lain maka Vano akan mengawasinya dengan benar!


Ai tidak bisa masuk ke dalam mata laki-laki lain, karena sekali melihat maka Vano yakin hati mereka langsung belok!


"Aku..." Ragu Ai.


Tersenyum tipis, "Bisa sendiri jadi kamu gak perlu nungguin di luar."


"Gak apa-apa, ini aku yang minta Ai." Tolak Vano tegas tidak ingin mendengar penolakan Ai lagi. Miliknya tidak bisa dilihat oleh siapapun, okay!


Mendapatkan perhatian yang khusus seperti ini lagi, bagaimana bisa ia bisa tidak terus berharap kepada Vano? Lihat saja bagaimana perlakuan Vano terhadap dirinya, Ai tidak bisa menampik bahwa harapan itu akan terus tumbuh jika seperti ini.


Ai tahu akan kecewa pada akhirnya, tapi tetap saja hatinya menolak untuk menyerah berharap. Ai menginginkan lebih dan ia harap waktu berjalan lambat ketika ia bersama Vano.

__ADS_1


"Baiklah, aku ikut saja." Pasrah Ai menikmati perhatian Vano.


Tuhan, terimakasih karena sudah membuat ku bisa sedekat ini dengan Vano. Rasanya...itu bagaikan sebuah mimpi.


__ADS_2