Dear, Vano

Dear, Vano
63. Konyol


__ADS_3

"Van, muka lo keliatan serius tapi lo cuman bercanda'kan? Mana mungkin lo ngizinin dia begitu nempel sama lo." Bayu tertawa kering, mencoba mencairkan suasana tegang diantara mereka bertiga.


Namun, meskipun ia tertawa Vano masih saja menatap mereka dengan tatapan aneh itu. Tatapan yang entah mengapa membuat Bayu dan Rendi merasakan kedinginan di hati mereka. Mereka seakan bisa merasakan bahwa Vano sedang memberikan jarak untuk mereka berdua yang hanya sebagai orang asing di dalam kehidupan Vano.


Vano tersenyum tipis melihat betapa canggungnya Bayu dan Rendi yang ada di depannya. Meletakkan alat mandinya di depan tendanya ia lalu menepuk kedua pundak Bayu dan Rendi, memberikan kode agar ia segera mengikuti langkahnya. Diajak pergi ke suatu tempat oleh Vano, Bayu dan Rendi kemudian saling pandang. Diam-diam bibir mereka menarik garis kurva senyuman yang penuh akan makna, lalu beberapa detik kemudian kedua mata mereka melirik tenda Vano yang tertutup dari dalam.


Berdiri dari acara duduknya, Bayu kemudian mempercepat langkahnya mengejar Vano yang sudah masuk ke dalam hutan.


"Oi homo, kali ini lo lolos dari kita berdua tapi bukan berarti lo bisa lolos dari kami nantinya jadi lo jangan merasa di atas angin." Setelah mengatakan itu Rendi lalu berjalan menyusul Bayu yang masih menunggunya di pinggir hutan.


Meninggalkan Ai yang ada di dalam tenda dengan kondisi yang kurang nyaman. Mengangkat tangannya, ia lalu mengusap air mata yang sudah mengalir lembut di pipinya. Perasaan terhina dan tidak berguna terus menghujani hatinya saat ini. Merematnya dengan kuat tanpa memberikan Ai waktu untuk bernafas dengan tenang.

__ADS_1


"Mereka tidak apa-apa menghina ku seperti itu karena aku pun sudah biasa meskipun sakit. Mereka tidak apa-apa melakukannya asalkan tidak di depan Vano karena itu akan sangat lebih menyakitkan dihina di depan orang ku sukai." Bisiknya terluka.


Ia memikirkan ekspresi Vano saat mendengar apa yang mereka katakan. Mungkinkah Vano membenarkan apa yang dikatakan Bayu dan Rendi tentang dirinya yang menyebalkan. Atau mungkinkah Vano akan membelanya, menampik semua yang dikatakan Bayu dan Rendi tentang Ai.


Namun, Ai tidak ingin terlalu berharap banyak karena ia pikir itu adalah sesuatu yang sangat mustahil. Mustahil Vano membelanya, itu sama saja menghabiskan waktunya yang berharga.


...🥀🥀🥀...


Yah, Vano pasti sangat risih melihatnya!


Berjalan beberapa menit akhirnya langkah Vano pun berhenti yang langsung diikuti dengan Rendi dan Bayu. Mereka berdua saling pandang ketika melihat sekeliling tempat mereka jauh dari jangkauan tempat berkemah.

__ADS_1


Agak bingung sebenarnya ngeliat Vano menarik mereka ke tempat sejauh ini dari penglihatan sekolah tapi karena ini Vano, mereka berdua tidak terlalu memikirkannya.


Merasa bebas membicarakan Ai, maka langsung saja Bayu membuka topik pembicaraan mereka sebelum gelap membuat mereka tidak bisa melihat sekeliling. Pasalnya ini di hutan jadi tanpa sinar matahari saja membuat hutan ini langsung gelap seolah-olah sudah masuk waktu malam. Jadi untuk mempercepat urusan mereka Bayu langsung membuka suara, "Van, gue mau ngomong-"


Bugh


"Bayu!" Teriak Rendi terkejut melihat Bayu yang jatuh tersungkur di atas tanah sambil memegangi perutnya. Hantaman di bagian perutnya terasa sangat menyakitkan, ini seperti ada batu besar yang jatuh bebas di atasnya tanpa tanggung-tanggung.


"Apa-apaan maksud lo, Van! Kenapa lo tiba-tiba mukul Bayu kayak gini!" Melihat sahabatnya diperlukan salah seperti ini tentu saja Rendi membelanya. Berdiri di depan Bayu seakan-akan ia adalah pahlawannya.


Mendengar pertanyaan konyol Rendi, Vano tidak langsung membalasnya. Malah ia tersenyum dingin menikmati wajah kesakitan Bayu yang sudah pucat padi sambil memegang sisi perutnya yang baru saja ia pukul. Melihat wajah kesakitan ini, sejenak Vano mencoba membayangkan bagaimana ekspresi kesakitan Ai saat menerima pukulan mereka?

__ADS_1


__ADS_2