
"Oi," Seseorang menepuk bahu kanan Ai keras.
Terkejut, spontan Ai berbalik dan mendapati dua orang cowok anak kelas sebelah sedang menatapnya. Belum sempat Ai merespon sapaan mereka tiba-tiba salah satu cowok itu memukul keras perut Ai. Membuat Ai langsung jatuh terhempas ke tanah parkiran menahan sakit yang menghantam perutnya.
Ai sejenak tidak bisa bersuara, nafasnya menjadi sesak untuk sesaat menahan rasa nyeri yang melilit hebat perutnya.
Saking sakitnya, Ai harus menekuk lututnya untuk menahan rasa nyeri yang kian membelit perutnya. Ini sungguh sakit..Ai tidak bisa mengatakan apapun dibuatnya.
"Ini buat banci sialan kayak lo yang udah godain pacar orang." Ucap cowok yang menjadi pelaku pemukulan Ai.
"Dan ini--" Cowok yang sedari tadi menonton dengan kasar menendang punggung Ai yang tidak punya perlindungan apapun.
"Adalah hadiah dari gue, orang yang paling benci homo lemah kayak lo." Ejeknya puas melihat betapa kesakitannya Ai di sana.
"Lain kali kalo lo ulangi kesalahan ini lagi, kita berdua gak akan segan-segan manggil anak-anak sekolah yang lain buat hajar lo." Ancamnya penuh kebencian.
"Lo dengar, gak sialan?" Menendang sekali lagi punggung Ai, namun kali ini lebih ringan dari sebelumnya.
"Udah Bay, ini homo emang lemah anjir. Baru di tendang dikit aja udah gak bisa ngomong dia, yah..siapa suruh dia jadi homo padahal udah tau diri sendiri lemah." Ejek cowok yang satu membatasi kemarahan sahabatnya.
"Pesan gue sih kalo lo mau jadi homo ya sendiri aja, gak usah ajak-ajak yang lain."
"Karena kalo enggak hidup lo setelah ini gak bakal tenang di sini." Setelah selesai mengancam Ai, mereka berdua kemudian dengan angkuh meninggalkan Ai yang masih melengkung menahan sakit.
Rasa sakitnya yang tidak tertahankan masih belum beranjak juga dari perutnya. Ditambah mereka juga menendang punggungnya tanpa mengontrol kekuatan tendangan mereka.
__ADS_1
Ini semakin memperburuk keadaan Ai yang semakin lemah.
"Hiks..sakit.." Isaknya setelah sekian lama mencoba bersuara.
Tangan gemetarnya yang sudah berkeringat dingin memeluk perutnya yang masih melilit sakit. Ai benar-benar tidak bisa menahan isakannya. Biasanya ia tidak akan selemah ini tapi..tapi pukulan mereka benar-benar kuat dan melukainya.
Ai tidak berbohong.. sungguh.
"Tuhan, hiks..sakit." Keluhnya seperti anak kecil yang melapor kepada orang tuanya.
Tidak ada yang menolong dan tidak ada yang mendengarnya, dengan putus asa Ai tertatih-tatih bangun dari posisinya. Mencoba menahan sakit seraya mengusap air matanya yang terus mengalir, ia berjalan menuju gerbang sekolah yang panas terik dan sepi.
Berusaha keras keluar dari gerbang, ia tidak perduli benda tempat ia bertumpu kotor atau panas. Ai tidak perduli karena satu-satunya hal yang paling ia pikirkan saat ini adalah menemukan taksi dan pulang.
Untuk Mama Vano, Ai bisa menelponnya nanti dan memberikan alasan yang bagus mengapa ia tidak datang ke rumah mereka.
🍃🍃🍃
Sesampainya di apartemen Ai langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mencoba untuk merilekskan tubuhnya agar rasa sakit diperut dan punggung bisa segera hilang.
Rasa sakit diperut, dipunggung dan dihatinya berputar-putar terus di dalam tubuhnya yang kurus tidak berdaging. Menekannya sampai ke titik dimana ia menangis tanpa suara. Begitu menyiksa dan menyakitkan, bahkan untuk bernafas saja itu sangat sulit bagi Ai.
Setiap kali ia menarik nafas rasa nyeri itu seakan ditekan batu, menusuk-nusuk badan Ai yang tidak punya daging.
Terd..
__ADS_1
Terd..
Terd..
Suara panggilan masuk, mengalihkan perhatiannya yang kosong. Mengambil handphonenya, ia melihat jika orang yang menghubunginya adalah Mama.
Menetralkan suaranya senormal mungkin, "Hallo, Ma?"
"Kamu masih bisa panggil aku Mama setelah apa yang kamu lakukan?" Tanya Mama dengan marah diseberang sana.
"Maksud Mama apa?" Meskipun tahu apa maksudnya, Ai sudah biasa bersikap bodoh di depan mereka.
"Kamu jangan pura-pura gak tahu karena Angela sudah memberitahu Mama segalanya."
Tangan kiri Ai diam-diam menghapus air matanya yang kembali mengalir.
"Mulai besok, kamu harus berhenti bekerja di sana. Tidak hanya itu, kamu juga dilarang bekerja di manapun. Jika kamu mengkhawatirkan masalah uang kamu cukup bilang saja kepada kami dan tidak perlu bekerja seperti itu, kelakuan kamu ini telah membuat Mama malu!" Mama terus mengoceh sesuka hati. Melarang Ai ini, melarang Ai itu.. semuanya harus sesuai aturannya.
"Mama tuh gak habis pikir kenapa kamu harus kerja di sana dan menjadi kurir bunga keluarga Vano lagi! Mau ditaruh dimana wajah keluarga kamu-" Setelah itu, Ai tidak lagi ingin mendengarkan ocehan Mamanya.
Ia lebih memilih menyingkirkan handphone itu sejauh yang telinganya tidak bisa dengar.
Lalu, beberapa menit kemudian setelah tidak terdengar suara berisik lagi Ai menjangkaunya kembali.
Menatap kosong melihat kontaknya yang hanya menampilkan 4 nama, ia tidak tahu nomor Mama Vano.
__ADS_1
"Aku..bisa menjelaskannya besok, lagipula besok orang-orang akan pergi kemah jadi tidak akan ada lagi yang mengganggu ku." Putusnya seraya menutup matanya lelah, ia mulai tertidur lelap dalam sepi yang mengikat.
Bersambung...