Dear, Vano

Dear, Vano
25. Angela


__ADS_3

"Kak Ai orangnya gak gitu Kak, Kak Vivi-"


"Aku permisi dulu." Mengambil obatku aku kemudian berjalan menjauh dari mereka semua. Sesekali angin siang yang bertiup ringan menampar badanku. Membuat ku tanpa sadar mengusap lenganku kedinginan.


Hah, badan ku terasa tidak nyaman lagi.


"Ai, hari ini lo ada piket nyapu kelas." Memasuki kelas aku sudah diingatkan tentang jadwal menyapu ku.


"Ya, sepulang sekolah nanti akan ku sapu." Jawabku singkat sambil menjatuhkan kepalaku di atas bangku. Menyembunyikan wajah menyedihkan yang begitu menjijikkan.


...🍃🍃🍃...


Sepulang sekolah.


Kelas Ai sudah tidak berpenghuni lagi, tidak mungkin ini juga berlaku untuk kelas-kelas yang lain.


Padahal hari ini yang bertugas ada 6 orang, namun nyatanya hanya Ai sendiri yang ada di kelas ini sambil memegang sapu.


"Sudahlah, kerjakan saja jika tidak ingin dimarah Oma lagi." Gumamnya tidak perduli.


Lagipula yang ia sapu hanya deretan bangku tempat ia duduk saja. Ia tidak perduli dengan yang lain karena itu adalah tugas yang lain.


"Syukurlah, akhirnya selesai juga." Syukurnya sambil memasang jaket Vano.


Sejak di kantin tadi badannya jadi meriang kembali sehingga ia harus menggunakan jaket Vano lagi. Lagipula sekolah juga sepi sehingga menggunakan jaket Vano sekarang tidak akan menjadi masalah.


"Kak Angela?"

__ADS_1


"Ai?" Kaget Angela melihat Ai yang tiba-tiba sudah ada di depannya.


"Kak Angela gak pulang?" Karena Angela OSIS jadi ia sudah terbiasa tinggal di sekolah.


"Aku lagi ada tugas patroli, kamu-" Ucapan Angela terpotong ketika matanya jatuh pada jaket yang Ai gunakan.


Ia bahkan dengan kasar menarik tangan Ai untuk menghirup wangi parfum yang ada di jaket tersebut.


"Kenapa jaket Vano bisa ada di kamu?" Tanya Angela tajam.


"Ini..ini Vano-"


"Buka!" Perintah Angela tidak ingin mendengar alasan Ai.


"Ya?" Ai masih bingung apa maksud Kakaknya.


Tertegun, Ai dengan kaku melepaskan jaket tersebut dari badannya yang kurus.


"Sini!" Rebutnya kasar sambil menepuk-nepuk jaket itu panik.


"Kak Angela tolong antarkan jaket Va-"


"Tanpa kamu bilang juga aku udah tahu, dasar aneh!"


Kenapa sikap Angela tiba-tiba sekasar ini kepadanya?


Apa karena ia menyukai Vano?

__ADS_1


Karena ia menyukai Vano dan secara kebetulan jaket Vano ada di tangannya?


Ya, kekasih mana yang akan rela jika pacarnya didekati orang lain.


Meneguk ludahnya kasar, "Kak Angela waktu kemah nanti Ai tidur di tenda Kakak, yah?" Angela mencoba mengalihkan pembicaraan, mencairkan suasana tegang yang ia rasakan.


Tiba-tiba gerakan tangan Angela berhenti, lalu dengan mata menyipitnya ia menatap Ai dengan pandangan menilai.


"Ai, aku sarankan kau tidak perlu ikut saja ke acara itu." Ucapnya memberikan saran.


"Kenapa? Bukankah aku juga kelas 12?"


"Kau memang kelas 12 tapi aku tidak mau kau ada di sana." Tersenyum manis.


"Kau tahu kenapa?"


Diam.


"Karena aku tidak ingin orang-orang selalu menyebut namamu, membandingkan kita yang jauh dari kata setara. Aku tidak sudi melihat mu mempermalukan aku di sana, apa kau paham?"


"Ya, aku paham." Bisik Ai merasakan lututnya terasa lemas. Bahkan untuk berbicara saja rasanya begitu menghabiskan tenaga.


"Baguslah jika kau paham." Ejek Angela sambil berjalan menjauh dari Ai yang masih diam mematung.


"Kejamnya." Bisik Ai terluka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2