
Vano juga tahu bahwa yah.. mereka tidak bisa berduaan seperti ini di dalam kamarnya tapi..Vano tidak akan sebodoh itu merusak orang ini. Ia akan berusaha sekuat mungkin menjaga akalnya agar tidak kehilangan kontrol karena baginya..Ai ini spesial.
Ia tidak mau kehilangan Ai.
"En, aku akan memanggil mu jika sudah selesai." Ucap Ai malu-malu.
Pipinya terasa panas dan Ai tidak yakin jika warnanya tidak berubah.
"Okay, aku pergi." Pamit Vano terasa enggan ketika menutup pintu kamarnya.
Setelah menutup rapat pintu kamarnya, Vano langsung merosot tidak berdaya di luar. Ia dengan pandangan tidak percaya menatap kedua tangannya yang masih terasa hangat. Meninggalkan kehangatan dari orang yang baru saja ia bawa seperti pengantinnya.
Menatapnya dengan pandangan misteri, sebuah senyuman samar pun terbentuk di wajah tampannya. Menciptakan sebuah kepuasan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
...🍃🍃🍃...
"Vano, Papa tadi telepon katanya siang ini mau balik ke rumah." Suara Mamanya santai ketika melihat putra kesayangannya masuk ke dalam dapur.
"Oo..jadi Papa makan siangnya di sini." Respon Vano biasa.
Bingung dengan respon Vano yang tidak biasa, "Ai mana, Nak?" Tanya Mama Vano penasaran karena satu-satunya orang yang bisa membuat anaknya seperti ini ya hanya anak itu.
Remaja polos yang begitu disukainya.
"Ai lagi di kamar Vano, Ma." Jawab Vano jujur seraya memeluk Mamanya sayang.
__ADS_1
Terkejut, "Astagfirullah..Vano itu Ai kenapa kamu bawa ke kamar kamu sih? Kalian kan masih sekolah ya Allah tapi udah-"
"Mama ih, asal tuduh aja sama anak sendiri. Mana mungkin Vano ngelakuin hal sebejat itu sama Ai, mustahil Ma!." Kesal Vano marah seraya melepaskan pelukannya pada Mamanya.
"Lha terus anak orang kenapa kamu bawa ke kamar bukannya ke sini?" Bingung Mama Vano tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya.
Menghela nafas panjang, "Tadi Ai tiba-tiba ngeluh sakit pas mau pulang makanya Vano bawa langsung ke kamar. Mau manggil Mama, Vano gak sempat karena Ai kelihatan banget gak nyaman sama perutnya. Maka jadilah ia di kamar Vano."
"Tapikan ada kamar tamu sayang kenapa harus kamar kamu? Inget lho Papa pasti marah banget sama kamu kalau tahu kamu seperti ini."
"Ih Ma, Vano kan lagi panik mana sempat mikirin kamar tamu. Lagian kalau Papa tahu juga gak apa-apa soalnya Vano kan gak ngapa-ngapain Ai." Vano gak pernah ngelakuin hal terlarang ke Ai jadi mengapa harus takut jika Papanya tahu.
"Yodah deh terserah kamu, Mama cuma nurut aja." Putus Mama Vano tidak ingin ambil pusing.
Lagipula ia juga percaya pada Vano jika putranya ini tidak akan bertindak melewati batas.
Vano mengangkat bahunya acuh, "Dia tiap pulang sekolah maunya ke sini Mulu, Vano kan gak bosan jadinya." Setiap pulang sekolah Angela pasti ingin mampir ke rumahnya namun selalu Vano tolak dengan berbagai macam alasan.
"Alah, hari ini aja bilang bosan paling besok juga kamu nyariin." Sindir Mamanya.
Bagaimana ia tidak tahu tentang anaknya dan Angela, kabar ini sudah biasa bagi kedua keluarga mereka.
"Udah ah, Vano panggil Ai dulu ajak makan ke bawah." Vano langsung bergegas ke atas tidak ingin lagi mendengar ocehan Mamanya tentang Angela.
Angela, gadis itu memang sering ke sini dan Mama pun menyukainya. Bagi Angela rumah ini adalah rumah kedua karena kedua orang tua mereka yang sudah begitu dekat.
__ADS_1
Namun Vano selalu berpikir jika sebagai perempuan seharusnya Angela tidak akan bertindak sejauh itu, yah.. meskipun mereka sudah saling mengenal sejak kecil tapi tetap saja itu tidak boleh.
Cklak
"Ai-" Suara Vano terputus dan badannya tiba-tiba terasa kaku. Perlahan perasaan dingin yang menyengat mengalir di punggungnya.
Ini buruk.
"Van-Vano.." Terkejut, Ai langsung menurunkan pakaiannya menutupi badannya yang sempat terbuka tadi.
Dingin, Vano menatap Ai dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia bahkan mendekati Ai tanpa suara, menatap tajam wajah pucat Ai yang terlihat begitu gugup juga ketakutan.
Mungkinkah Vano jijik melihatnya?
"Naikin lagi baju kamu." Perintah Vano datar, terlihat begitu tenang.
Justru ketenangan Vano ini yang tidak biasa, membuat suasana terasa salah.
"Apa?" Tanya Ai ketakutan.
Untuk apa Vano memintanya melakukan itu?
Tidak, itu tidak mungkin karena Vano berhasrat kepadanya karena Ai sendiri sangat menyadari betapa kurangnya tubuh kurus ini. Vano tidak akan pernah punya perasaan itu karena ia normal.
"Aku bilang naikin lagi baju kamu." Dengan lambat Vano mengulangi perintahnya, mengarahkan mata phoenixnya menatap mata persik Ai dengan tajam.
__ADS_1
Terlihat tidak ingin dibantah sama sekali.
"Ah...ya." Ini normal bukan?