
“Oma-“
“Gaji mu bulan ini dipotong.”
Diam, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua ini memang kesalahannya sejak awal. “Ya, Oma.” Patuh Ai seraya membawa dirinya masuk untuk melanjutkan tugas yang sempat ia tinggalkan.
Mengambil gunting ia kemudian menjalankan aktivitas biasanya di tempat ini dengan santai walaupun rasa sakit dan nyeri masih datang menusuknya. Tidak mengapa karena setidaknya rasa sakit yang ia rasakan tidak setajam saat di sekolah tadi.
“Ai, ada klien gila yang menanyakan hal ini kepada ku.” Oma berjalan mendekati tempat Ai sedang bekerja.
“Ya, Oma?”
“Dengarkan baik-baik dan jawab dengan jujur, kau tidak diperbolehkan untuk berbohong.” Peringat Oma seraya mendudukkan dirinya di samping Ai.
“Baik Oma.” Patuh Ai walaupun ia masih tidak mengerti dengan maksud Oma.
“Jika kau adalah seorang perempuan-“
Tersentak, tangan yang tekun memotong daun yang bermasalah tanpa sadar terhenti.
“-bunga apa yang akan kau sukai?” Tanya Oma terlihat fokus menatap telepon pintarnya.
__ADS_1
Jika aku adalah seorang perempuan bunga yang akan ku sukai adalah-
“Tulip kuning.” Dan itu akan selalu menjadi tulip kuning bagaimana pun kondisi ku.
“Kenapa kau menyukai bunga tulip dan bukannya mawar?”
Karena cinta yang selalu ku dapatkan selama ini tidak seindah dan semanis bunga mawar.
“Tidak ada alasan yang jelas.”
“Benar, kau ini laki-laki jadi otak mu tidak akan sampai sejauh itu.” Oma bersuara menyetujui.
“Ah, dia membalas lagi. Ai, kenapa harus warna kuning yang kau sukai?”
“Tidak ada alasan yang jelas mengapa harus kuning.” Ai sekali lagi menjawab dengan berbohong.
Jika Ai mengatakan alasan jujur ia memilih tulip dan warna kuning, akankah klien dan Oma menertawakan kesialan hidupnya?
Ai rasa ia lebih baik diam daripada harus jujur.
“Baiklah, dia bilang itu cukup.” Suara Oma seraya pergi meninggalkan Ai yang masih termenung.
__ADS_1
Menghela nafas, Ai kemudian menyalakan ponselnya dan mendapatkan waktu sudah sangat sore. Berdiri dari tempat duduknya Ai bermaksud untuk bersiap-siap pulang. Setelah mengambil tas Ai kemudian mengucapkan pamit kepada Oma yang sedang sibuk menatap ponselnya. Mengangguk dengan acuh tak acuh sebagai respon Ai langsung keluar dari toko bunga dan langsung membawa langkahnya berjalan ke arah apartemennya.
Oma bilang gajinya bulan ini akan dipotong dan karena hal itu Ai harus mulai menghemat uang lebih banyak lagi karena hari ini ia sudah begitu boros. Jika ia tidak mampu membayar sekarang maka itu harus bulan depan karena ia tidak ingin menyusahkan orang lain tentang hidupnya yang tidak pasti.
...🍃🍃🍃...
Sebelum pulang ke apartemen Ai mampir dulu ke mini market terdekat untuk membeli beberapa kebutuhannya satu minggu ke depan. Tidak banyak yang ia beli karena barang yang ia beli hanya itu-itu saja seperti pasta gigi, sikat gigi, shamphoo, sabun mandi, dan beberapa bungkus mie instan untuk ia makan beberapa hari ke depan. Setelah selesai membeli keperluannya ia kembali lagi melanjutkan perjalan pulangnya yang sempat tertunda.
Dalam perjalan pulangnya Ai sesekali memperhatikan jalanan sekitarnya yang cukup menyenangkan di waktu sore. Berkencan bersama kekasih adalah sesuatu yang sangat menyengkan di waktu-waktu seperti ini. Tidak perlu ke tempat yang mewah dan menghabiskan banyak uang, cukup dengan bergandengan tangan bersama seraya berjalan santai menyusuri indahnya suasana sore.
Seperti yang ia lihat sekarang, sebagian pejalan kaki terlihat berpegangan tangan seraya meminum minuman tren zaman sekarang. Wajah mereka terlihat merona dan ada senyum malu-malu di antara mereka berdua. Lalu ada juga pasangan yang sedang asik duduk seraya berbincang-bincang di bangku khusus yang di sediakan pemerintah untuk bersantai. Sesekali percakapan di antara mereka di warnai dengan sebuah tawa lepas yang terlihat jelas menggambarkan kebahagiaan.
Melihat semua ini Ai juga ingin seperti mereka, menikmati waktu bersama dengan sederhana akan tetapi penuh akan rasa yang manis dan menyenangkan. Tidak perlu ke tempat mewah atau menghabiskan waktu di dalam mall karena bagi Ai memiliki persaan nyaman itu saja sudah cukup jadi kenapa harus memaksakan diri ke tempat yang cukup dibenci oleh laki-laki.
Mendapati bangku kosong yang baru saja di tinggalkan oleh pasangan yang ada di depannya, Ai kemudian memutuskan untuk mendudukkan dirinya sejenak di tempat yang ramai namun sarat akan kedamaian. Menaruh tas belanjaannya di samping, Ai kemudian meluruskan kakinya yang sedikit kelelahan. Mungkin karena faktor tubuhnya yang sedang melemah Ai pun jadi mudah kelelahan dan capek sehingga mengambil keputusan untuk duduk di sini adalah hal yang sangat berguna untuk Ai.
Menghela nafas, Ai kemudian membawa pandangannya pada hamparan langit sore yang kini mulai menundung. Cuaca ini sangat cocok di waktu seperti ini apalagi ada angina sepoi-sepoi yang bertiup santai itu akan menambah kenyamanan saat bersantai di tempat seperti ini.
“Non Ai?” Suara terkejut mengintrupsi kegiatannya.
Kedua mata yang tadinya menatap hamparan langit kini memindahkan objeknya pada seorang wanita paruh baya yang sudah sangat tidak asing untuknya. Terkejut, Ai tidak pernah berpikir akan bertemu dengan wanita ini di sini.
__ADS_1
“Mbok?”