Dear, Vano

Dear, Vano
6. Berharap


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Oma tiba-tiba berdiri tegak seraya melihat ku dengan tatapan terganggu. “Ai, apa kau masih saja belum mengerti? Bukankah sudah kukatakan jika semua bunga ini sudah ada pemiliknya. Kau tidak akan mendapatkannya walaupun hanya sebatang karena semuanya sudah dibayar. Lagipula, bukankah kamu adalah seorang laki-laki? Tidak wajar rasanya melihat dan mendengar mu untuk memiliki bunga tersebut. Bahkan jika itu adalah hal yang biasa bagi mu maka kau hanya perlu membeli bunga yang sama di toko lain. Toko yang menjual bunga tulip ini bukan hanya aku dan toko bunga di tempat ini juga bukan hanya aku.” Suaranya membuat ku langsung terdiam. Aku benar-benar lupa jika bunga ini sudah ada yang memesannya juga bukankah laki-laki juga manusia. Ia punya selera keindahan jadi aku rasa laiki-laki pun juga bisa melakukan hal yang biasanya perempuan lakukan. Dan ya, toko bunga yang menjual bunga ini bukan hanya Oma akan tetapi bunga tulip yang Oma punya adalah kualitas terbaik jadi itulah alasan mengapa aku bersikeras ingin membeli bunganya meski hanya satu batang.


“Aku mengerti.” Suara ku mengalah.


“Bagus jika kau mengerti.” Suaranya puas seraya mendekati ku dengan sebuket bunga peony yang sudah rapi dan indah.


“Lalu antarkan bunga ini pada alamat biasanya, hati-hati dan jangan sampai mengecewakan konsumen.” Peringatnya memberikan ku pesan.


Aku mengangguk dengan patuh seraya membawa bunga tersebut ke dalam pelukan ku. Kemudian membawa sepeda ku melaju meninggalkan toko bunga dengan perasaan tidak berdaya.

__ADS_1


Sejujurnya aku tau jika Oma berbohong soal bunga yang tidak ia jual perbatang. Aku mengatakan ini bukan tanpa alasan karena faktaya pernah suatu kali aku melihat seorang laki-laki seumuran ku membelikan kekasihnya satu batang bunga mawar merah pekat yang sangat menggoda. Ya, Omi melakukan hal ini bukan tanpa alasan karena aku tau betul jika Oma sedikit tidak menyukai ku. Oma mungkin tidak bisa menerima penampilan ku yang sedikit berbeda.


Akan tetapi walaupun begitu aku sama sekali tidak berniat meninggalkan pekerjaan ini karena ini adalah satu-satu mata pencaharian ku di sini. Jadi seberat apapun ujian yang aku terima dan rasakan semuanya masih bisa ia tanggung dan tahan. Ini tidak seberapa, masih dini untuk menyerah juga perjalanan hidup yang di siapkan Tuhan jauh lebih mengerikan di masa depan.


Setelah sampai pada alamat tujuan ku, aku segera mengatur nafas ku agar tidak segugup dan setenang mungkin. Memarkirkannya, aku membawa langkah ku arah depan gerbang rumah mewah. Memukul dada ku kuat, aku menahan nafas sebelum melanjutkan langkah ku lagi lebih dekat dengan gerbang tersebut.


Suara bel gerbang bergema ringan masuk ke dalam pendengaran ku hingga tidak lama kemudian seseorang yang sudah tidak asing lagi membukakan ku gerbang.


“Neng Ai, ini bunga buat pagi ini yah?” Tanya satpam itu ramah kepada ku meskipun ia tau betul bahwa kedatangan ku setiap pagi adalah karena bunga ini.

__ADS_1


Aku tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala ku ringan, “Iya, pak. Bunganya masih segar dan baru seperti biasanya.” Ucap ku memberitahunya walaupun ia bisa lihat sendiri bahwa buket besar bunga peony yang sedang ku pegang sekarang begitu segar dan harum.


“Ya udah neng masuk aja langsung, bisa-bisa hujannya nanti merusak bunga kesayangan nyonya.” Intruksinya cepat mengingat bahwa saat ini aku sedang berdiri di bawah guyuran hujan yang sebenarnya tidak sebesar saat di apartemen.


“Makasih pak.” Sopan ku berterima kasih seraya membawa langkah ku masuk ke dalam halaman rumah mewah yang besar dan megah. Sejenak pikiran ku dibawa melayang pada sosok laki-laki tampan yang sudah mencuri hati ku beberapa tahun ini.


Tuhan, apakah ada kesempatan ku bertemu dengannya hari ini?


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2