Dear, Vano

Dear, Vano
13. Kenapa Aku Di Sini?


__ADS_3

Penulis PO V


“Izin Mbak, saya-“


 


 


“Kiriman dari toko bunga Tesoro?”Tiba-tiba suara bass yang dingin dan datar mengintrupsi ucapan Ai.


 


 


Tertegun, Ai langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.“Y-ya, ini adalah kiriman bunga dari toko bunga Tesoro.”Jawab Ai cepat namun sarat akan kegugupan.Bagaimana ia merasa tidak merasa jika laki-laki yang ia sukai kini sedang berdiri menatap, ah, jangan pernah membayangkan jarak saat ini yang tidak dekat dengan ini sebelumnya.


 


 


Menyipitkan matanya, “Bukankah kamu salah satu siswa dari SMA kami?”Ia bertanya yakin karena wajah tirus laki-laki yang ada di sana tidak terlihat asing untuknya.


 


 


“Tidak, mungkin kamu salah orang.”Bantah Ai Seraya menyerahkan bunga tersebut ke dalam pelukan Vano, namun Ai bisa melakukannya Vano langsung menarik tangan gemetar Ai yang kini terasa dingin.


 


 


“Jangan berbohong, aku tahu jika kamu adalah salah satu siswa di sekolah kami.”Ucap Vano seraya menarik tangan Ai untuk mengikutinya.


 


 


Tak berdaya, Ai hanya bisa mengikuti tujuan Vano memandunya ke tempat-tempat.Berjalan beberapa menit akhirnya mereka bisa melihat sebuah ruangan khusus vip.


 


 


Ai sejujurnya tidak kuasa ikut dan menjadi saksi atas hari spesial Vano dan Angela.Ia tidak ingin mengacaukan hari indah mereka juga ia tidak bisa menahan perasaan sakit dan cemburu saudara dan laki-laki yang ia kagumi bemesraan.


 


 


Tidak bisa.


 


 


“Vano!”Teriakannya tak tahan lagi.


 


 


Langkah mereka terhenti, menyisakan udara canggung yang memeluk mereka dengan bebas.


 


 


Tertegun dengan kelancangannya, Ai spontan mengangkat Vano yang juga kini sedang menatap.Wajah itu begitu tampan dan sempurna, menyihirnya dalam.


 


 


gali


 


 


gali


 


 


gali


 


 


Suara detak jantungnya yang semakin cepat dan tidak terkontrol membawakan rasa manis yang langka untuk Ai.Rasa manis yang tidak biasa dan baru pertama kali ia rasakan seolah melayang.


 

__ADS_1


 


Sejenak ia tidak tahu harus mengatakan apa sampai ia benar-benar tersadar akan sikapnya yang lancang.


 


 


“Ma-maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut karena saat ini aku sedang bekerja.”Tolak Ai memberikan alasan.


 


 


Benar, Ai sama sekali tidak berbohong pada Vano karena saat ini sedang menjalankan tugas bagian dari pekerjaan.Jika dipikir lagi, ini adalah satu-satunya kunci agar ia bisa terbebas dari Vano.


 


 


“Aku mengerti.”Aangguk Vano seraya menarik kembali Ai mengikuti langkahnya sempat tertunda.


 


 


Bingung, Ai sekali lagi mengingatkan Vano akan pekerjaan.“Aku tidak bisa meninggalkannya karena atasan ku pasti akan marahi ku.”


 


 


Sekali lagi langkah mereka berhenti, kali ini bukan Ai pelakunya melainkan Vano.Menaikan satu alisnya, ia membocorkan Ai dengan pandangan-pandangan.“Apakah kamu sering dimarahi oleh atasan mu?”Tanyanya datar.


 


 


Gelisah, Ai tanpa sadar menganggukkan kepalanya mengiyakan.Namun sedetik kemudian ia membantah.


 


 


Seolah berusaha berusaha, Ai kemudian menjelaskannya kepada Vano.“Atasan ku pernah pernah orang yang pemarah juga tidak pernah memarahi ku sekali pun.Jadi mengenai ucapan ku tadi menganggap saja aku berbohong.”


 


 


 


 


“Aku mengerti.”Respon Vano singkat seraya menarik Ai lagi.


 


 


“Aku sed-“


 


 


“Atasan mu, orang yang pemarah jadi tidak punya alasan untuk menolak ku kali ini.”Potong Vano tidak peduli.Vano benar-benar tidak peduli dengan Ai, hanya saja ini adalah acara sekolah mereka jadi wajar saja Ai harus ikut berhubung ia ada di sini.


 


 


Menghela nafas, Ai benar-benar menyerah untuk berontak lagipula itu percuma saja karena Vano tidak akan pernah mendengarkannya.


 


 


Jika dipikir lagi hari ini begitu buruk dan cukup menjengkelkan untuknya.Hari yang penuh akan kesialan ini begitu menguras tenaga, pikiran, air mata, dan hati untuk dilewati.


 


 


“Masuk.”Ucapkan Vano seraya menutup pintu ruangan tersebut.Di dalam Ai benar-benar tidak bisa melakukan apapun selain tercengang karena yang ada di ruangan ini adalah anggota osis semua.Apakah Vano gila menariknya ke tempat ini?


 


 


Ai sendiri pun tidak pernah merasa merasa menjadi anggota osis sebelumnya lalu mengapa Vano terus saja memaksanya untuk ikut masuk ke dalam, ah ya, Ai benar-benar melupakan Angela, saudaranya.Mungkin ia melakukan ini karena melihat Angela, gadis itu begitu baik dan menolak permintaannya adalah sesuatu yang sulit bagi Vano.


 


 

__ADS_1


“Kak Ai!”Teriakan antusias seorang gadis yang kini sedang menatap senang.


 


 


Tertegun, Ai hanya bisa membocorkan ia sebagai tanggapan karena jujur ia sama sekali tidak mengenal anggota osis ini.


 


 


“Kak sini, duduk sama aku.”Ajaknya seraya mendekati Ai yang masih belum bisa mengatakan apa-apa.


 


 


Memegang lengan kurus Ai, gadis itu pun menariknya pelan untuk duduk di sisi sofa yang sempat di dudukinya tadi.


 


 


"Terima kasih."Ucapkan Ai sopan sambil menarik lengannya dari tangan gadis itu.


 


 


Tersenyum, gadis itu mengerti rasa canggung yang Ai rasakan.“Nama aku Lili Kak, salah satu anak buahnya ketos Vano di sekolah kita.”Lili, gadis yang sedari tadi begitu antusias mendekati Ai memperkenalkan dirinya secara langsung.


 


 


“Aku Ai.”Balas Ai juga memperkenalkan dirinya.


 


 


“Ahahaha..aku tau kok, Kak.Kak Ai itu manis juga cantik secara bersamaan jadi gak mungkin kami gak tau Kakak.”Ucap Lili terkikik senang.


 


 


Ya, Lili mengatakannya dengan jujur bahwa kebanyakan dari mereka tau siapa Ai.Ai adalah siswa yang manis dan cantik secara bersamaan bukan tidak mungkin mereka tidak kenal, terutama mereka yang menjadi adik kelasnya.


 


 


Berbeda dengan Lili yang terlihat senang dengan jawaban jujurnya, Ai justru merasa miris dengan jawaban Lili.Lili memang benar, siapa yang tidak tahu tentang Ai.Siswa cacat yang selalu menjadi bahan olokan dan pengganggu di sekolah.


 


 


Menjadi target tempat pelampiasan marah dari mereka yang merasa begitu sempurna.Ai tau bahwa ia cukup di kenal dari sekolah itu.


 


 


“Ya-“


 


 


“Ai?”Panggilan terkejut seseorang berhasil ucapannya.


 


 


Mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara,ia dapati wajah kaget Angela yang kini sedang tidak percaya.Melihat respon Kakaknya seperti itu Ai tidak tahu harus melakukan apa ditambah penasaran yang sedang menghujani Ai sekarang membuat tidak tahu harus melakukan apa.


 


 


“Ai, kamu kok di sini?”Tanyanya tidak yakin seraya mendekati Ai yang kini sudah mengungkap kosong.


 


 


Benar, kenapa aku di sini?


 


 

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2