
"Ah...ya." Ini normal bukan?
Yah, ini normal untuk Vano melihat badannya yang tidak berdaging. Lagipula ia adalah manusia cacat dan tidak ada yang menarik dari dirinya yang cacat ini.
Ai lalu mengangkat tangannya kembali meremat kuat piyama yang sedang melingkupi tubuhnya. Lalu dengan hati-hati ia menariknya ke atas sesuai dengan perintah laki-laki yang ia cintai dengan patuh.
"Sampai di sini." Vano meraih tangan kanan Ai, menghentikannya menarik kain itu lebih tinggi lagi. Vano hanya ingin melihat sisi perutnya saja dan tidak ingin yang lebih tinggi, itu adalah harta berharga Ai.
Lalu, Vano dengan alami berlutut di depan Ai. Ia memperhatikan dengan hati-hati memar biru keunguan yang masih segar di kulit perut lembut Ai. Spontan tangan kirinya meraba memar tersebut, menyentuhnya dengan perasaan kalut dan takut jika tangannya ini bisa membuat nyeri memar kambuh lagi.
Belum puas dengan sisi perutnya yang tidak berlemak, Vano kemudian menggeser posisi duduknya sedikit. Mengarahkan mata phoenixnya menatap bagian punggung Ai yang bernasib sama seperti perutnya.
Sekarang ia paham mengapa Ai kemarin menghilang.
Sekarang ia paham mengapa hari ini Ai tidak masuk sekolah dan sekarang paham mengapa Ai terlihat begitu kurang sehat.
Semua itu karena ini, memar tidak bertuan yang dengan berani menyentuh kulit lembut dan halus Ai. Vano geram dibuatnya!
"Vano.." Panggil Ai gelisah melihat betapa tidak sedap dipandang wajah laki-laki yang ada di depannya ini.
Ia takut melihatnya seperti ini.
Tangannya bergetar, menahan segala macam emosi yang bergejolak ingin keluar. Mengepalkannya, tangan kanan Vano yang sempat menahan tangan Ai kini diam-diam menurunkan kain piyama itu. Menurunkannya kembali untuk menyembunyikan rahasia apa yang ada di dalam.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Vano dingin tidak bisa menyembuhkan kemarahannya.
Menggigil, perasaan dingin yang asing merasuk ke dalam tulang punggungnya. Ini tidak nyaman sekali untuknya, "Aku..ini...jatuh kemarin..itu-"
"Jika kau berani berbohong aku tidak akan segan-segan mencari tahunya." Ancam Vano serius, mata phoenixnya begitu tajam dan selalu enggan berkedip.
Diam, Ai tidak berani mengatakan apapun dan dengan gelisah meremat kuat kain piyamanya.
"Itu pasti anak-anak sekolah kan?" Duga Vano karena siapa lagi yang bisa melakukan ini kecuali mereka.
Membuli Ai sudah biasa di sekolah itu dan Vano sangat amat membenci sikap pengecutnya yang selama ini terlalu berhati-hati mendekati Ai.
__ADS_1
Kedua mata persik Ai memerah, ada cairan bening nan hangat di dalamnya. Memberontak ingin keluar dan meluncur di pipi halus Ai.
"Jika kau masih tidak ingin mengatakannya maka jangan salahkan aku membawa kasus ini ke seko-"
"Vano jangan.." Potong Ai tidak ingin melibatkan Vano dalam masalah ini apalagi jika sampai dibawa ke sekolah.
Nama Vano akan tercemar karena dirinya dan mereka-mereka yang senang menyakitinya akan semakin marah, mengincar Ai dengan ambisi yang mengerikan dan Ai tidak mau itu terjadi.
Ai takut.
"Maka kamu harus mengatakannya." Suara Vano mulai melembut, tidak tahan melihat wajah ketakutan Ai. Apalagi kedua mata persiknya yang sudah mulai mengeluarkan cairan hangat, Vano tidak rela rasanya melihatnya sesedih ini.
"Tapi..kamu harus janji gak bawa masalah ini ke sekolah.." Mohon Ai tidak ingin Vano melangkah lebih jauh karena dirinya.
Meskipun enggan, namun tetap saja Vano dengan patuh menyetujuinya. "En, aku janji." Setuju Vano dengan wajah yang meyakinkan.
Melihat keseriusan Vano, Ai tidak ragu lagi mengatakannya meskipun rasa takut melihat Vano masih tertanam di dalam dirinya.
"Mereka.. mungkin dari kelas sebelah dan aku mungkin juga tidak mengenalnya." Ai memberikan sebuah jawaban yang samar.
"Nama mereka kamu ada dengar, gak?"
Dilanda dilema, jika Ai tidak memberi tahu siapa nama mereka mungkin Vano akan mencari tahunya di sekolah. Maka dari itu tidak ada salahnya Ai jujur saja, toh Vano juga tidak akan tahu siapa mereka.
"Aku dengar..tapi cuma satu orang saja, kalau tidak salah namanya Bayu." Seingat Ai, salah satu cowok itu bernama Bayu. Tapi Ai tidak tahu diantara dua orang ini yang mana bernama Bayu.
Mengangguk tenang, sekarang Vano sudah mendapatkan titik terang dari masalah ini. Matanya bahkan bersinar terang, penuh misteri dan ambisi yang tidak dapat dibaca. Vano sudah tidak sabar menanti hari besok.
"Terus kamu tahu gak kenapa mereka tiba-tiba mukul kamu kayak gini?"
Tertegun, bulu mata panjang Ai bergetar samar. Menyembunyikan mata persiknya yang begitu indah dan menggoda, "Mereka bilang..."
Ia ragu mengatakan ini dan ia juga takut. Takut jika Vano mendengar ini ia akan pergi menjauh-
Menjauh?
__ADS_1
Bukankah ini lebih baik daripada harus terjebak seperti ini, biarkan Vano menjauhinya dan perlahan Ai akan berusaha memadamkan perasaan terlarang ini kepada Vano.
Yah, mungkin ini adalah jalannya.
"Ai?" Panggil Vano membuat Ai tersadar kembali dari lamunannya.
Tersadar, Ai kemudian menundukkan kepalanya. Menyembuhkan betapa lelahnya ia saat ini, hatinya begitu lelah menghadapi perasaan jungkir balik yang tidak mendapatkan titik harapan.
Maka sudahlah.
Hancurkan saja semua ini agar ia tahu diri bahwa tubuh cacat ini tidak akan pernah menggapai laki-laki sesempurna Vano.
"Mereka bilang aku menggoda pacar orang." Jawab Ai menahan nafas.
Bahkan kedua tangannya sudah bergetar gelisah menanti respon dari Vano.
Namun Vano masih diam, mungkin kurang jelas dengan apa yang Ai katakan.
"Vano, mereka bilang aku menggoda kekasih Angela..yah, mereka bilang aku menggoda mu. Menjadi pihak ketiga diantara hubungan kalian berdua, menjadi parasit yang memuakkan semua orang."
Tik
Sebuah cairan hangat mendarat di tangan rampingnya yang cantik. Ai sedang menangis, menangis untuk menunggu vonis selanjutnya dari Vano.
Laki-laki yang sudah ia cintai.
Diam, tidak ada yang bersuara kecuali detak jantung mereka yang menggebu kuat.
"Ai," Vano meraih dagu Ai, mengangkatnya dari posisi bersembunyinya. Vano tidak suka melihat Ai menyembuhkan keindahannya di saat mereka berdua.
"Aku bukan kekasih Angela." Lanjut Vano.
Membuat kelopak mata Ai berkedip terkejut.
"Aku juga bukan kekasih siapapun."
__ADS_1
Bersambung..