Dear, Vano

Dear, Vano
53. Marah?


__ADS_3

"Apalagi apa yang kamu tolak ini adalah makanan yang Mama aku buat khusus untuk kita, aku akan marah." Sambungnya lagi membuat Ai menjadi kaku di tempat.


Vano marah?


Ai spontan mengangkat kepalanya dengan berani, menatap wajah tampan Vano yang kini juga sedang menatapnya. Ah, bagaimana bisa? Bukankah laki-laki ini baru saja bangun tidur tapi mengapa ia masih saja terlihat tampan seperti tadi pagi?


"Lihat, aku juga makan ini." Takut jika Ai terus menolaknya, Vano dengan gerakan meyakinkan mengambil salah satu biskuit. Memasukkannya ke dalam mulut hal itu kemudian disusul dengan sebuah suara renyah yang menggugah selera. Itu terdengar sangat lezat.


"Ini sangat enak, kau harus mencobanya." Ucap Vano disela-sela acara mengunyahnya sambil memberikan Ai satu biskuit di tangan.


Ai memegang kaku biskuit yang ada di tangannya, seakan-akan biskuit tersebut mempunyai beban yang sangat besar membuat Ai tidak mampu untuk mengarahkannya ke mulut. Terdiam lama, Ai kemudian membawa biskuit tersebut ke mulutnya dan berakhir menggigitnya dengan hati-hati.


"Bagaimana?" Tanya Vano antusias ketika melihat Ai akhirnya menggigit biskuit tersebut.


Ai mengangkat wajahnya, menatap Vano dengan malu. "Em, rasanya sangat enak." Jawab Ai jujur. Bahkan kedua pipinya kini sudah memerah terang menandakan betapa tersipunya ia sekarang.


Oh tidak, apa yang harus ia lakukan?


Hatinya sangat senang memakan biskuit yang baru saja Vano sentuh dengan tangannya, bagaimana mengatakannya?


Ini memang sangat sederhana dan terlihat sepele tapi bagi Ai yang sudah lama memendam rasa kepada Vano hal ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa.


"Yah..tentu saja cantik." Gumam Vano tanpa sadar ketika memperhatikan wajah tersipu Ai yang malu-malu.

__ADS_1


"Ya?" Bingung Ai karena tidak bisa mendengar dengan jelas suara Vano.


Vano tertegun, lalu beberapa detik kemudian ia tersenyum lembut menatap wajah bingung Ai. Tangan kanannya yang bebas terulur alami merapikan poni terurai Ai, menutupi beberapa bagian matanya yang indah dengan penuh hati-hati.


"Aku bilang kamu cantik." Jawab Vano tidak ingin menutupinya dari Ai.


Mendengarnya lantas wajah Ai semakin terasa panas, jantungnya berdebar kencang dari sebelah dan Ai mungkin tidak tahu jika wajahnya kini semakin merah!


"A-ku akan menghabiskannya." Malunya seraya menundukkan kepalanya lebih memilih menatap biskuit yang tersisa beberapa potong. Ia malu terus menatap Vano dan ia juga takut jika Vano menemukan sesuatu yang aneh dari wajahnya yang sangat memuakkan!


"Kalau begitu habiskan dan jangan sampai menyisakan satu potong pun." Seru Vano merasa terhibur, rasanya gemas sekali melihat sikap malu-malu Ai. Ah, jika saja takdir tidak mempermainkan hidup Ai maka semuanya pasti akan lebih mudah.


Tapi...tidak! Justru karena takdir yang mempertemukannya dengan Ai bertahun-tahun yang lalu. Jika dipikir-pikir Vano seharusnya beruntung bukan?


"Ini Angela, anak Tante Sera yang dulu sering berkunjung ke rumah kita." Mama memperkenalkan kepada seorang gadis cantik yang sangat anggun. Ketika melihatnya aku pikir wanita tercantik selain Mama adalah anak ini, gadis cantik yang terlihat malu-malu dan sedikit pemberani.


"Katakan hallo, sayang." Bujuk Mama lagi kepada ku untuk menyapanya


Aku mengangguk patuh, melangkah satu langkah dan menyapanya dengan sapuan tangan yang akrab.


"Hallo Angela, perkenalkan aku adalah Vano anak Mama Rina dan Papa Ares." Suaraku dengan bangga memperkenalkan diri, aku harap ia akan terpesona dengan apa yang baru saja aku lakukan.


Dan seperti yang aku harapkan, ia menatapku dengan takjub. Melangkah satu langkah mendekati ku, ia juga memegang tangan ku dengan antusias.

__ADS_1


"Jadi Vano anak dokter Ares? Wah, Vano sangat hebat!" Serunya terkejut juga takjub.


"Aku Angela, senang bertemu dengan mu!"


"Mau main ke dalam?" Tanya Angela seraya menarik-narik tangan ku untuk mengikutinya.


Aku tertegun, menatap Mama yang sedang tersenyum kepada ku. "Boleh sayang." Mama mengijinkan ku pergi bermain bersama Angela, maka langsung saja aku masuk ke dalam rumahnya untuk bermain. Meskipun ini adalah pertemuan pertama tapi itu tidak secanggung orang dewasa. Kami langsung akrab dan dengan santai bermain sesuka hati.


...🌷🌷🌷...


Saat ini aku dan Angela sedang bermain petak umpet. Aku yang bertugas untuk mencarinya setelah tertangkap beberapa waktu yang lalu. Aku tidak merasa kecewa dan dengan semangat mencari keberadaannya.


Aku sudah mengitari rumah ini, hampir semuanya mungkin. Tapi meskipun begitu aku masih belum bisa menemukan keberadaan Angela jadi aku memutuskan untuk mencarinya di luar rumah saja. Kebetulan rumah ini punya taman belakang dan Mama bilang aku tidak apa-apa bermain ke sana selama tidak melakukan hal yang berbahaya. Maka jadilah sekarang aku di taman.


Memperhatikan taman yang sebenarnya cukup luas dan indah, aku lalu mengedarkan pandanganku menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Angela. Berjalan dan berjalan, aku mulai mengitari taman ini sampai akhirnya mataku jatuh pada sosok anak laki-laki yang seumuran denganku.


Tidak, anak itu terlihat lebih kurus dengan baju tidurnya yang kusut. Tidak hanya itu, wajahnya juga terlihat sangat pucat seperti kehilangan darah. Wajahnya memang pucat separah itu tapi ia tidak bisa menyembunyikan betapa cantik dirinya. Matanya yang besar menyipit dengan bola mata hitam pekat yang begitu indah, hidungnya tidak terlalu tinggi namun sangat menawan dan bibir tipisnya yang merah kepucat-pucatan terlihat sangat mempesona.


Apakah ada anak laki-laki secantik dia di dunia ini? Bahkan Angela saja yang aku pikir cantik ternyata kalah telak dengan penampilan laki-laki ini.


Luar biasa, hanya melihatnya dari sini saja aku sudah terpesona dibuatnya. Membuat ku tanpa ragu untuk mendekatinya, namun sebelum aku benar-benar berhasil mendekatinya laki-laki itu sudah melihat keberadaan ku.


Kedua matanya yang besar dan indah menatap ku terkejut. Matanya.. apakah aku salah lihat?

__ADS_1


__ADS_2