
Apakah ia gugup?
"Sudah sampai Tuan, apa barang-barangnya langsung saya keluarkan?" Suara supirnya menginterupsi lamunan Vano. Menatap keluar bisa ia lihat gedung tinggi sekolah tercintanya yang terlihat ramai. Juga, sudah ada banyak bus-bus sekolah yang terparkir diluar dengan beberapa staf guru yang berpatroli sambil membawa catatan ditangan mereka.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan dengan supir bus tapi yang pasti supir bus itu sesekali menganggukkan kepalanya setuju.
"Ayo kita turun Ai, teman-teman yang lain sudah banyak yang kumpul." Ajak Vano seraya membuka pintu mobil sambil menarik tangan Ai ikut bersamanya.
Awalnya Ai menolak namun karena Vano tidak bermaksud melepaskan tangannya maka ia diam saja mengikutinya turun.
"Pak, barang-barang kami tolong dikeluarkan yah." Pinta Vano sebelum ia menutup pintu mobil.
"Nanti di bus sekolah kamu duduknya sama aku yah?" Ucap Vano memberitahu sebenarnya, ia tidak ingin menanyakan pendapat Ai.
Sampai akhirnya sebuah suara penuh antusias menarik perhatian mereka berdua, "Kak Ai!" Teriak Lili dari kejauhan lengkap dengan pakaian santainya.
Begitu Lili mendapatkan perhatian Ai, lantas ia langsung melarikan diri dari rombongan anak OSIS meskipun Ari sudah berteriak-teriak memanggilnya.
"Kak Ai duduk sama aku yah di bus nanti." Katanya sambil berlari senang, Lili yakin jika Ai pasti masuk ke dalam bus anak OSIS. Jadi daripada harus cemburu melihat orang 'itu' bersama anak OSIS yang luar biasa centil itu, lebih baik ia mengobrol seru bersama Kakak kelasnya tercinta yang sudah dua hari ia rindukan.
Mendengar teriakkan Lili, tentu saja ia menolak. Tapi sebelum ia bisa menyuarakan penolakannya, Ai sudah lebih dulu menyetujui Lili.
__ADS_1
"Baik, aku akan duduk bersama mu di bus nanti." Sanggup Ai tidak berani melihat ekspresi Vano.
Untuk saat ini ia ingin menjauh dari Vano karena setiap kali ia berdekatan dengan Vano hatinya pasti berdenyut sakit dan Ai tidak sanggup merasakan kesakitan itu terus-menerus.
"Lho Ai, bukannya tadi aku bilang kita duduk samaan yah?" Tanya Vano tidak mengerti mengapa pagi ini Ai bertindak aneh dan bahkan berani tidak mematuhi perintahnya.
...🍃🍃🍃...
Ai menatap kosong hamparan langit luas yang tadinya cerah berawan kini telah berubah menjadi pemandangan yang kusam. Ia baru saja beberapa menit di dalam bus dan langit sudah berubah mendung saja. Ah, jika dipikir-pikir mengapa langit selalu bisa menebak isi hatinya?
Perasaan sakit ini apakah langit tahu itu sedang bersarang di dalam hatinya yang menyedihkan?
Yah, meskipun Ai bersyukur bahwa kesusahan hatinya juga ternyata mendapat penghiburan dari sang langit namun tetap saja rasanya itu sedikit tidak adil untuk orang lain yang menantikan hari ini. Mereka seharusnya pergi camping dengan suasana hati yang santai dan gembira tanpa perlu mengkhawatirkan cuaca. Tapi jika seperti ini maka kegiatan yang akan mereka lakukan di tempat tujuan terganggu, orang-orang tidak akan menyukainya.
Ai menggeleng pelan seraya memberikan Lili senyuman yang tipis, "Aku semalam tidur cukup nyenyak."
Ini bohong.
Semalam, meskipun tidur di ranjang yang sama dengan Vano tidak bisa membuat Ai dapat memejamkan matanya dengan santai. Yah, tentu saja ia gugup tapi perasaan gelisah yang ia rasakan adalah sesuatu yang mengganggu.
Ia tidak bisa menutup matanya dari wajah tampan terlelap Vano. Meskipun saat itu gelap namun Ai masih bisa melihat wajah sempurna itu yang terlihat santai dan damai. Membayangkan bahwa malam itu adalah malam pertama dan terakhir kali ia bisa tidur di ranjang yang sama dengan Vano membuat Ai merasa sedih dan gelisah. Apalagi bayangan wajah cantik Angela yang akan segera bersanding dengan Vano semakin membuat Ai sulit tidur.
__ADS_1
Ia tidak bisa tidur.
Dan malam itu ia gunakan hanya untuk menatap wajah tampan Vano yang sempurna, menatapnya tanpa bisa menyentuhnya. Ah, cinta bertepuk sebelah tangan terlalu kejam!
"Em, yah..aku pikir Kak Ai sedikit kelelahan jadi mengapa tidak tidur saja?" Lili berucap canggung ketika diam-diam menilai perubahan ekspresi wajah Ai. Ia takut Ai tersinggung dan berakhir mengabaikannya.
"Lagipula diluar sudah mulai hujan dan sebentar lagi kita akan mulai jalan ke tempat tujuan." Sambung Lili cepat menjelaskan secara singkat.
Ai awalnya tidak mengatakan apapun, mata persiknya yang disamarkan dengan kaca mata kolot dan beberapa poninya melirik kursi depan yang hanya menyisakan Angela seorang di sana.
Dimana Vano?
Ai bertanya-tanya dimana Vano duduk di dalam bus ini. Bukankah bus ini khusus untuk anggota OSIS saja jadi tidak mungkin Vano tidak ada di sini. Lagipula satu-satunya orang yang akan duduk bersamanya hanya Angela saja, satu-satunya orang yang pantas bersanding dengan Vano.
Karena ia tidak menemukan sosok Vano maka Ai kemudian menarik pandangannya menatap luar yang kini sudah mulai gerimis berangin. Hem, perasaan ini sangat nyaman untuk tidur namun sayang ia tidak membawa selimut. Tasnya masih ditangan Vano dan Ai belum sempat mengambilnya tadi.
Tapi, meskipun ia melihat Vano juga Ai tidak akan berani meminta tas barangnya dari Vano. Karena memang sejak awal semua itu milik Vano.
"Hem, jika ada sesuatu nanti tolong bangunkan aku." Pesannya setelah berpikir lama.
Merasa lega, "Kakak tidak perlu khawatir." Setelah mendapatkan jaminan Lili, Ai akhirnya merilekskan tubuhnya yang selalu tegang. Mencari posisi yang nyaman untuk tidur, dari tempatnya duduk ia bisa mendengar suara gerimis hujan yang samar.
__ADS_1
Hah.. betapa nyamannya pikir Ai.