
Mama memang benar, monster akan selamanya menjadi monster bahkan sekalipun ia berwujud manusia. Karena entah itu di rumah ataupun di tempat lain monster ini selalu membawa kesialan dan suka menggunakan trik-trik yang licik.
Menjijikkan!
"Em, Vano.. nanti sore kamu bisa temenin aku gak ke rumah Rifki. Dia bilang proposal buat acara besok udah ada ditangannya, jadi sebagai ketua OSIS kamu harus mengambil alih proposal itu." Meletakkan garpu dan sendoknya, Angela mencoba menarik perhatian Vano dengan topik acara mereka besok.
Angela yakin Vano akan men-
"Kamu ajak aja yang lain atau kalau gak biarin aja proposalnya di Rifki. Lagipula proposalnya kan udah ditanda tangani kepala sekolah sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang acaranya." Tolak Vano santai, sesekali tangannya dengan lancar menempatkan udang goreng yang sudah dikuliti ke piring Ai.
Tertegun, lagi-lagi kedua mata Angela rasanya iritasi melihat kepolosan Ai yang sebenarnya adalah topeng. Jika bisa, jika bisa bertindak kasar mungkin garpu yang ada ditangannya sudah melayang tepat di wajah sok polos Ai.
"Kalau itu sih aku bisa ngerti tapi..tapi apa kamu gak mau temenin aku ke Rifki sekalian ambil data anak-anak sekolah yang pergi besok?" Angela masih belum menyerah untuk mendapatkan perhatian Vano, ini adalah pertarungan sebuah harga diri.
Bagaimana mungkin ia orang yang sempurna kalah dengan orang yang cacat?
Itu adalah hal yang mustahil!
"Aku bisa Angela, sore ini aku mau temenin Ai ngumpulin barang-barang buat acara besok. Kamu ajak aja yang lain, okay?" Sekali lagi Vano menolak Angela karena sebelumnya ia sudah berencana menemani Ai membeli barang-barang yang dibutuhkan besok.
Yah, meskipun ia belum membicarakannya dengan Ai tapi mau gak mau Ai harus menuruti perintahnya.
"Van-Vano.."
"Abisin makanan kamu, Ai." Potong Vano tidak ingin tahu. Lalu ia kembali fokus dengan piringnya yang sempat terabaikan.
"Ah, jadi begitu.." Gumam Angela menyerah.
__ADS_1
Menundukkan kepalanya, diam-diam perasaan benci yang kian memuncak Angela tajam dalam diam. Ia tidak menyangka, sungguh!
Bukankah hari itu ia sudah mengingatkan Ai agar tidak datang ke acara itu, tapi mengapa hari ini Vano mengatakan jika ia ikut?
Ah, sial!
Besok aku akan memperlihatkan dimana posisi mu yang sebenarnya!. Tekatnya dingin.
...🍃🍃🍃...
"Lho, Angela gak jadi pergi ke rumah Rifki? Katanya mau ambil data peserta yang ikut besok." Mama Vano heran melihat Angela yang tidak bergerak kemanapun setelah Vano dan Ai keluar.
Angela tersenyum lembut, menyembunyikan betapa tidak nyamannya ia sekarang. Hatinya masih marah dengan sikap sok polos Ai di depan keluarga ini, bahkan ia berani mendekati Vano secara terang-terangan, ah!
Apa dia tidak punya rasa malu?
Siapa yang tidak terganggu jika mahluk cacat ini benar-benar mendekati Vano!
Sebagai Kakaknya tentu saja Angela merasa malu.
"Em, enggak jadi, Tan. Angela pikir nanti biar Rifki aja yang anterin ke rumah biar aman, apalagi Angela kan perempuan dan seorang perempuan dilarang keluar tanpa pendamping! Maka dari itu biar Rifki aja yang datang." Alasannya mencari wajah.
Yah, berbicara seperti ini seakan-akan ia tidak datang ke sini sendiri saja. Padahal kemana-mana jika itu urusan Vano pasti ia tidak akan berpikir panjang.
Mama Vano tidak merespon banyak dan hanya menganggukkan kepalanya ringan, merasa aneh dengan ucapan Angela. Karena sudah seperti ini ia tidak perlu memperpanjang pembicaraan lagi sehingga memutuskan untuk menyusul sang suami yang sudah ada di ruang kerja.
Memikirkannya, Mama Vano tidak bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Suaminya terlalu sibuk, ah!
"Mas Ares?" Panggil Mama Vano ketika membuka pintu ruang kerja suaminya.
Dokter Ares mengangkat kepalanya, mengangguk singkat ia lalu kembali membawa pandangannya pada data yang ada di atas mejanya.
"Mas Ares baru aja pulang kerja tapi udah sibuk aja sama pekerjaannya, waktu buat Mama mana?" Keluh Mama Vano pada sang suami yang begitu jarang punya waktu bersamanya.
"Nanti Mah, kalau penelitian Papa selesai, waktu Papa sepenuhnya buat Mama dan Vano." Jawab Dokter Ares tanpa mengalihkan perhatiannya dari data tersebut.
Jika suaminya sudah berkata seperti ini maka Mama Vano tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya bisa bersabar untuk waktu yang suaminya janjikan. Meskipun ini bukan pertama kalinya dokter Ares berjanji namun Mama Vano tetap mempercayainya.
Ia percaya hari itu pasti ada.
"Menurut Mas, Vano nantinya akan memilih siapa? Apakah itu Ai atau justru Angela untuk menjadi kekasihnya?" Merasa bosan, Mama Vano mencoba mengobrol dengannya meskipun ia pesimis jika suaminya akan menjawab pertanyaan itu.
"Papa tidak bisa memastikan siapa yang akan dipilih Vano tapi yang pasti sebagai orang tuanya, Papa lebih setuju melihat Vano dengan Ai dari pada Angela." Jawab Papa Vano jujur.
Sebagai orang tuanya dokter Ares lebih setuju melihat Vano bersama Ai, anak ini sudah mencuri hatinya jauh dari bertahun-tahun yang lalu. Yah, sejak awal mereka bertemu dokter Ares sudah menyukainya.
"Hem, meskipun Ai...cacat?" Tanya Mama Vano menguji sang suami.
"Ma, Ai bukannya cacat tapi dia itu terlahir spesial." Menghentikan pekerjaannya, kepala dokter Ares terangkat menatap wajah cantik sang istri yang juga menatapnya penuh kasih.
"Aku yakin naluri kamu yang menjadi Ibunya lebih tajam daripada aku mengenai hal ini." Lanjutnya tidak perlu berbasa-basi.
Perasaan seorang Ibu tidak akan pernah ada yang bisa menandinginya, mereka terlalu sensitif.
__ADS_1
Mama Vano tentu saja tidak bisa menyembunyikan senyumannya, "Hem, Mas benar. Alangkah lebih baiknya Vano bersama Ai bukan gadis lain apalagi itu Angela."