
"Ayo, naik." Perintah Vano santai seraya menggunakan helm kesayangannya.
Berbeda dengan Vano yang santai dan terlihat tenang, Ai justru diam mematung melihat kendaraan yang akan ia gunakan ke sekolah. Pertama, ia shock dan seketika merasa linglung ketika melihatnya. Kedua, tentu saja ia juga merasa senang karena dengan kendaraan ini ia dan Vano bisa semakin dekat.
Tapi..ini masih terlalu intim karena kalian tahu apa yang akan Ai naikin?
Ini tuh motor Kawasaki ninja..dan.. terlalu yah, terlalu dekat sama Vano.
"Kita naik, ini?" Tanya Ai merasa bodoh.
Mengangguk ringan, "Kita naik ini biar bisa cepat sampai ke sekolah." Terang Vano tidak merasa terganggu sama sekali dengan kecengoan Ai. Ia malah merasa lucu dengan respon polos Ai yang imut.
"Tapi Vano..Hem.. lebih baik aku pakai sepeda aja ya-"
"Gak ada penolakan Ai, kalau ngotot terus Vano laporin nih ke Mama." Potong Vano tidak ingin Ai lari darinya.
"Aku..." Ragu Ai sambil menilai motor yang Vano naiki.
"Sini aku bantu naik." Vano menarik tangan Ai dan memposisikannya tepat di lengan kuat Vano.
"Pegangan di sini kalau kamu takut jatuh." Instruksi Vano dengan sabar mengajari Ai.
Meskipun waktu sudah menunjukkan beberapa menit lagi masuk, tapi Vano tidak perduli karena hal terpenting baginya sekarang adalah dengan hati-hati membimbing Ai lebih dekat dengannya.
"Okay, aku coba." Mau tidak mau Ai harus menuruti kemauan Vano.
__ADS_1
Ia takut dimarah Mama Vano dan ia juga takut karena keraguannya mereka berdua berakhir telat ke sekolah.
Lalu dengan hati-hati Ai mencengkram lengan kuat Vano, merasakan betapa kuatnya lengan yang menopang ketakutannya tersebut. Kemudian kaki kirinya bertumpu pada pijakan kaki dan kaki kanannya dengan kaku naik ke kursi belakang.
"Vano, u-udah." Lapor Ai berusaha menjaga jarak punggung Vano dengan dirinya.
Tapi sekuat apapun Ai mencoba itu tidak akan berhasil, mereka berdua seakan tidak punya jarak.
Mengerti kecanggungan Ai, Vano dengan tenang menempatkan tas punggungnya di punggung agar Ai tidak takut lagi bersentuhan dengannya.
"Kamu bisa peluk tas aku biar gak jatuh." Saran Vano memberikan jalan tengah.
Ia memang tidak mendapatkan jawaban langsung dari Ai, namun dari sudut matanya ia bisa melihat kedua tangan putih dan ramping Ai diam-diam berpegang erat di tas punggungnya.
Kecepatan yang ia gunakan pun untuk menjalankan motor tidak terlalu lambat juga tidak terlalu cepat, intinya kecepatan ini adalah yang ternyaman untuk Vano menikmati waktu bersamanya dengan Ai.
Bahkan, terkadang mata tajamnya terpesona melihat wajah gugup Ai yang diterpa angin. Menyingkap poni yang selama ini menutupi kedua mata cantiknya, melihat itu Vano menahan nafas takjub.
Ai begitu manis jika seperti ini, apalagi kacamata yang selalu menyamarkan mata persiknya disingkirkan. Vano tidak bisa menjelaskan keindahan apa yang ia lihat.
Akan tetapi yang pasti..Vano bersyukur Ai menutupi penampilannya seperti ini, karena jika tidak..Vano yakin, Ai pasti dikejar-kejar oleh cowok-cowok di luar sana.
"Pagi, Pak." Sapa Vano ke satpam sekolahnya yang sedang bertugas.
"Pagi, Van. Tumben ke sekolah bawa motor, pakek acara telat lagi." Tanya satpam yang sudah Vano kenal bercanda, membuat Vano tersenyum samar.
__ADS_1
"Iya nih, tadi ada urusan sebentar makanya telat."
"Oo..ada urusan toh." Ujar satpam tersebut namun matanya melirik Ai yang sedang tertunduk malu.
"Ya udah, langsung masuk aja Van."
"Terimakasih, Pak."
Masuk ke dalam halaman sekolah, Vano langsung berjalan ke tempat parkir sekolah.
"Nanti pulang sekolah tunggu aku di sini yah." Pesan Vano sebelum berpisah dengan Ai.
Setelah Vano pergi ke kelasnya, Ai yang sedari tadi diam akhirnya menampilkan senyuman manisnya. Kedua tangannya terangkat menyentuh dada ratanya, merasakan suara debaran jantung yang luar biasa cepat.
"Ini pertama kalinya Vano bawa motor ke sekolah..dan..aku adalah orang pertama yang menaikinya bersama Vano, aku harap."
"Aku tahu bahwa tidak boleh terlalu berharap..tapi..tapi aku tidak bisa menghentikannya, yah, biarlah.. karena ini hanya satu hari maka biarlah aku berharap tinggi dengan fantasi ku. Aku tidak akan tahu mungkin setelah hari ini, semuanya kembali seperti biasa dan Vano akan selalu bersama Angela. Maka.. biarkan aku menikmati perasaan ini untuk sehari saja."
Dulu ia pernah bermimpi bisa berjalan, berbicara, bahkan makan bersama dengan Vano. Namun, beberapa hari ini Tuhan malah memberikannya lebih dari itu. Ia membiarkannya dekat dengan Vano, bahkan sampai Vano dengan baik merawatnya kemarin. Lalu ia bisa makan bersama Vano, namun Mamanya pun ada di antara mereka berdua. Dan yang terakhir, ia dan Vano berjalan bersama ke sekolah. Malah, ini adalah pertama kalinya Vano membawa motor ke sekolah.
Jika sudah seperti ini, Ai tidak akan menuntut lebih lagi. Dan jika seperti ini tidak apa-apa Ai merasakan sakit sekali lagi. Ia berpikir seperti ini karena Tuhan sudah memberikan sesuatu yang sangat manis untuknya dan ia rela merasakan sakit lagi adalah karena ia tahu, Vano milik Angela dan bukan dirinya.
Maka semuanya impas, pikir Ai.
Bersambung...
__ADS_1