
"Aku mau sesuatu yang spesial dan aku harap kamu harus menerimanya suatu hari nanti jika aku datang memintanya." Suara Vano lembut, mengenyahkan keraguan Ai yang sempat membumbung tinggi di dalam hatinya.
Dug
Dug
Dug
Ini adalah suara detak jantung Ai, suara kebahagiaan yang amat sangat manis. Perasaan bahagia yang hanya bisa Ai rasakan bila di dekat Vano seorang... perasaan ini, adalah semacam virus merah jambu yang lebih baik dari jus jambu.
Lebih manis dan lebih lembut, lebih sampai rasanya Ai tidak ingin detakan ini berhenti di hari ini saja. Ia ingin terus merasakannya, jika bisa setiap waktu agar hari-harinya punya nilai yang lebih tinggi dari hari sebelumnya.
Jika itu Vano, Ai merasa waktu termanis adalah saat bersamanya.
"Berjanjilah kepadaku." Ucap Vano sedikit gugup ketika melihat Ai hanya menatapnya saja dan tidak memberikan respon apapun.
Bahkan di saat begini Vano masih sempat merasa gemas dengan kedua mata persik Ai yang berkedip kebingungan, perasaan ini mengapa begitu sangat menyiksa, ah!
"Hem, aku akan berjanji." Lalu sebuah senyuman yang langka terbentuk di wajah cantik Ai, begitu cantik hingga tanpa sadar Vano menahan nafasnya.
Seakan terhipnotis dengan senyumnya, Vano akui ini adalah pertama kalinya ia melihat secara langsung dan dekat bagaimana wajah Ai ketika tersenyum manis yang tulus dan murni tanpa dibuat-buat.
Ternyata itu seperti ini, sangat cantik.
Berdeham panik, kedua tangannya yang sempat mengelus lembut pipi Ai, Vano segera turunkan. Mendudukkan dirinya dengan cara yang benar, Vano pikir tidak baik terus-menerus memperhatikan Ai. Bahaya, Ai terlalu cantik dan Vano takut jika sampai melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
__ADS_1
Apalagi mereka sekarang ada di kamarnya jadi akses melakukan sesuatu yang tidak-tidak begitu mendukung. Namun untung saja Vano tidak sejahat itu, tentu saja ia tidak akan pernah berpikir melakukan sesuatu yang menyalahi aturan kepada Ai.
Tidak, Vano tidak bisa.
"Hem, janji mu aku akan memegangnya." Tentu saja dengan sangat kuat, kuat sampai ia tulis dengan jelas di dalam hatinya.
"Oh ya, besok saat acara kemah kamu harus ikut. Apalagi kamu sekarang kelas dua belas, jadi kamu tidak punya alasan lain lagi menolak keputusan ini." Teringat dengan acara kemah besok, Vano akhirnya menggunakan topik ini untuk menghilangkan kecanggungannya pada suasana mereka berdua.
Ai tentu saja tahu aturan ini tapi hal apa yang bisa lakukan karena jika ia ingin datang pun tidak ada yang ingin menerimanya. Angela?
Tidak itu tidak mungkin karena Angela sendiri yang mengatakan jika Ai tidak punya tempat di sana. Dan jika saudaranya sendiri mengatakan itu maka tentu saja Ai tidak bisa melakukan apa-apa.
Jadi, Ai tidak bisa bergabung bersama yang lain. Melihat dan mengamati Vano tidak bisa ia lakukan saat kemah besok.
"Vano, aku tidak bisa karena... karena.." Ai panik mencari alasan.
"Karena perut dan punggung ku masih sakit, aku tidak yakin bisa bertahan di sana." Apalagi tubuh Ai yang sudah lemah sejak kecil maka tentu saja tidak baik pergi berkemah dengan kondisi seperti ini.
"Tentang itu kamu gak perlu khawatir, kebetulan Papa aku adalah seorang dokter jadi dia bisa menangani memar kamu ini. Gak ada alasan apapun pokoknya kamu harus ikut kemah besok." Putus Vano tidak ingin mendengar alasan Ai lebih jauh lagi.
"Tapi Vano, aku masih belum menyiapkan apa-"
"Tentang persiapan kamu gak usah khawatir karena nanti sore kita bakal ke supermarket atau ke mall terdekat untuk dapatin kebutuhan kamu. Udah, semuanya udah aku pikirin jadi kamu ikut aja,"
Tapi,
__ADS_1
Dimana Ai akan tidur nanti?
Tentu saja Vano tidak akan memikirkannya.
Ai juga tidak bisa membahas topik ini karena yah.. seperti yang kalian pikirkan ketika jatuh cinta pada seseorang hal yang paling ingin kalian sembunyikan dari orang yang kalian sukai adalah kelemahan dan kekurangan kalian.
Ai pun seperti itu, ia tidak ingin Vano tahu jika ia cacat. Karena jika Vano tahu Ai takut Vano akan meninggalkannya. Ah, mungkin lebih tepatnya menjauhi Ai dengan pandangan mencemooh.
Ai tentu saja tidak ingin itu terjadi.
"Kamu gak perlu khawatir tentang anak-anak sekolah karena di sana akan ada aku, jadi mereka gak bakal gangguin kamu lagi. Jangan takut okay?" Vano menebak mungkin Ai takut diganggu oleh anak-anak sekolah. Yah, wajar saja jika Ai takut karena sikap anak-anak sekolah sudah melebihi batas.
Hem lihat saja nanti, orang-orang yang kemarin mengganggu Ai akan berbincang hangat dengan Vano. Dan Vano sudah tidak sabar lagi bertemu dengan mereka.
"Hem, aku tidak akan takut." Ai mungkin harus ikut dan bagaimana hasil akhirnya nanti ia akan lihat sendiri besok. Tentu saja ia merasa sangat gugup saat memikirkan ini.
"Ya udah, aku-"
Cklack
"Vano, kenapa Ainya gak kamu ajak turun untuk bergabung di meja makan?" Papa Vano masuk ke dalam kamar Vano, menginterupsi obrolan putranya dengan Ai yang diam mematung menatap ke arahnya.
"Dokter Ares?" Bisiknya terkejut setelah sekian lama terdiam.
"Iya Ai, dokter Ares adalah Papa aku."
__ADS_1
Bersambung..
Sekalinya Ai bahagia, bahagia banget. Tapi butuh perjuangan hehehe..