
Seketika Vano langsung mematung di buatnya. Terkejut karena wajah Ai sekarang terlalu pucat, mungkin ini tidak ada bedanya dengan kulit mayat. Ia berdiri dengan kaku sambil menyentuh perutnya, terlihat begitu kesakitan.
"Ai, kamu masih bisa jalan gak?" Tanya Vano berusaha tidak panik. Ia tahu jika dilihat dari situasinya mungkin Ai tidak akan mudah berjalan.
"Bi-bisa." Meskipun begitu Ai dengan tidak yakin mengatakan bisa, seolah-olah ini sudah biasa ia lewati dengan kondisi seperti ini.
"Ok, kalau begitu kita masuk." Ajak Vano seraya mengangkat Ai ke dalam gendongannya.
Vano tanpa ragu mengangkat tubuh kurus Ai ke dalam sebuah gendongan pengantin, mengangkatnya tanpa keberatan. Vano bisa merasakan betapa kaku dan lemahnya tubuh tidak berdaging ini. Ia bahkan bisa menjamin jika tubuh Ai lebih ringan dari gadis manapun yang ia kenal.
Terasa ringan dan mengejutkan.
Meskipun tahu bahwa Ai itu kurus tapi Vano tidak pernah sampai menduga jika kurusnya sampai ke level ini. Bahkan tangan kanannya yang sedang menumpu punggung Ai bergetar beberapa menit yang lalu. Ia merasakan jika punggung Ai hanya deretan bangku tulang-tulang belaka.
Benar-benar sekurus ini?
Apa selama ini makan adalah sesuatu yang tidak penting untuk orang ini? Pikirnya kesal.
"Ah..Vano sakit.." Keluh Ai spontan ketika ia merasakan tubuhnya tidak lagi berpijak pada tanah. Ada telapak tangan yang kuat nan hangat menekan punggungnya, tempat memar yang tidak bisa dijangkau dengan tangan sendiri oleh Ai.
"Sabar yah..kita masuk ke dalam dulu, kamu tahan dulu Ai.." Vano juga bingung mengatakan apa selain mengatakan ini.
Ia panik namun tidak tahu harus berbuat apa untuk mengurangi rasa sakit Ai.
"Sakit.." Keluh Ai seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Vano. Ia tidak sadar ketika melakukan ini karena yang sedang berputar-putar di dalam kepalanya saat ini hanya ingin beristirahat saja.
__ADS_1
Menghilangkan perasaan sakit di punggung dan perutnya.
"Sabar Ai..kamu harus sabar.." Bisik Vano selembut mungkin seraya membawa Ai masuk ke dalam rumah.
Tidak ada siapapun yang ada di dalam dan Vano tahu jika Mamanya masih asik bergelut di dapur bersama pembantunya. Oleh karena itu langsung saja Vano membawa Ai ke lantai atas menuju kamarnya berhubung tubuh yang sekarang ada di dalam pelukannya ini mulai gemetaran.
Entah sakit apa yang membuat Ai sampai seperti ini tapi dilihat dari keanehan Ai selama mengobrol tadi Vano curiga jika ada sesuatu yang terjadi padanya kemarin.
"Kamu tunggu di sini dulu, okay?" Tanya Vano meminta persetujuan seraya membaringkan Ai di atas ranjangnya.
Mendapatkan anggukan lemah dari Ai, Vano pun membawa langkahnya menuju lemari pakaian. Mengingat tubuh Ai yang kurus dan tidak terlalu tinggi maka satu-satunya pakaian yang cocok untuknya adalah baju tidur Vano.
Itupun masih kebesaran ukurannya untuk Ai. Yah..ini lebih baik daripada Ai harus menggunakan baju kaos Vano yang lebih besar lagi ukurannya.
"Kamu ganti baju dulu yah, Ai, soalnya baju kamu sekarang udah basah." Sebenarnya pakaian Ai tidak terlalu basah, hanya terasa lembab saja karena terkena hujan beberapa menit yang lalu.
"Aku gak bawa pakaian ke sini." Ai tidak akan gila membawa baju ganti ke rumah orang saat bertamu. Lagipula mengapa ia harus membawa baju ganti di saat ia hanya duduk berdiam diri di dalam?
Yah..Ai juga tidak bisa jika hari ini akan turun hujan karena pada saat ia ke sini langit masih cerah-cerah saja dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.
"Kamu pakek piyama aku dulu," Memberikan Ai piyamanya.
"Ini lebih baik daripada gak ganti baju."
Merasa canggung, Ai tentu saja tidak menerima perlakuan sebaik ini dari Vano. Apalagi ia menyukai Vano begitu dalam, dalam sampai ia tidak bisa melihat dengan jelas kekurangannya. Ai takut jika dirinya semakin berharap tinggi pada Vano karena Ai juga sadar sekuat apapun ia mengatakan tidak apa-apa hanya dekat dengan Vano tapi itu tidak akan cukup.
__ADS_1
Hatinya terlalu serakah dan Ai tidak mau terus seperti ini.
"Gak perlu-"
"Perlu." Potong Vano tidak mau mendengar bantahan Ai lagi.
"Kalau kamu gak mau ganti baju maka sampai kapanpun aku gak akan biarin kamu keluar dari kamar ini." Ancam Vano serius.
Bahkan raut wajahnya yang tidak bersahabat membuat Ai meragu sejenak. Ia tidak tahu mengapa tapi melihat Vano bersikap keras kepala seperti ini terlihat begitu lucu.
Ini lucu jika ada seseorang yang begitu keras kepala menginginkan hal yang baik padanya, apalagi ini Vano, orang yang ia cintai. Bagaimana Ai tidak merasa senang dibuatnya?
Tapi muncul sebuah pertanyaan yang memberatkan di hatinya, apakah semua orang yang Vano temui akan diperlakukan seperti ini olehnya?
Mengingat bahwa Ai bukanlah siapa-siapa Vano dan sebelumnya mereka juga tidak pernah berkomunikasi di saat bertemu. Namun jika alasan Vano melakukan ini karena Ai adalah saudara Angela maka sebenarnya ini terlalu baik untuk Ai.
Terlalu baik sampai ia pun takut jika perasaannya kepada Vano jatuh ke tingkat yang tidak bisa diselamatkan, bahkan oleh Ai sendiri.
"Okay, aku akan ganti baju. Tapi.." Ucapnya ragu seraya meremat kuat piyama Vano yang ada di tangannya.
Ai malu mengatakannya secara langsung bahwa Vano harus keluar dari kamar ini jika ingin melihat Ai ganti baju. Ini lucu bukan?
Yah karena di depan Vano, Ai tidak ada bedanya dengan laki-laki diluar sana lalu mengapa harus malu?
Bukankah sesama lelaki tidak akan ada acara malu-malu seperti ini?
__ADS_1
"Ah...aku...aku ke bawah dulu yah mau bantu Mama, nanti kalau udah selesai kamu panggil aku aja." Mengerti dengan kecanggungan Ai, Vano malah semakin canggung dibuatnya.